
sasa duduk di sofa dengan kaki di angkat ke atas meja. dia senang karena akhirnya Anisa dan Elson pergi dari rumah ini. hanya tinggal dirinya dan Erick.
"bagus, ku harap kau mati busuk di luar di sana."
drt.. drt...
ponsel Sasa berdering. sebuah no tak di kenal terpampang di layar. dengan cepat sasa mengangkat nya.
Sasa : halo..
penelpon: sepertinya kau menikmati kehidupanmu.. Sasa Andeska
sasa: siapa ini?
penelpon: umm...kau tak mengenali suara ini. aahh.. kau terlalu tergila-gila pada lelaki bodoh hingga melupakan suara mantan kekasih lama mu..
sasa: Alpin? itu kau?
Tut..Tut..Tut...
"hei... sial. kenapa.alpin menghubungi ku? pasti anisa yang memberikan nomor ponsel ku." Sasa terus mengotak atik ponselnya mencoba menghubungi nya lagi, tapi no nya sudah tak aktif sekarang.
"sial...." teriaknya seraya membanting ponselnya ke lantai.
lelaki berjaket hitam itu tersenyum puas lalu menghubungi seseorang dengan cepat.
"bos, seperti tebakanku. mereka pernah menjalin hubungan dulu." dia menyeringai saat ingat bahwa rencananya berjalan lancar.
"masalah Alpin kita tunda dulu sekarang, kau selidiki dia. siapa dia sebenarnya."
"oke bos."
Erick menghela napas panjang,menyandarkan kepalanya ke kursi. dia menatap langit-langit kantornya. pikirannya melayang entah kenapa.
"seharusnya aku tak tutup mata dari dulu." gumamnya. dia meremas setiap ujung kursi.
ting...
sebuah pesan masuk ke email-nya. dengan perlahan Erick menggeser tubuhnya mendekati mejanya. membuka email dengan perasaan tak menentu saat membaca nama si pengirim.
-reza-
brak...
"dasar gadis sialan...." Erick melempar laptop nya dengan kesal hingga hancur. dia mengepalkan tangannya. amarahnya tak pernah pernah sebesar ini tapi sekarang dia benar-benar marah. dengan cepat Erick keluar dari ruangan nya.
"batalkan semua jadwal hari ini." teriaknya pada sekretaris. dia pergi dengan tergesa tak peduli dengan karyawannya yang melihat dengan tatapan bingung.
"kau.. ini semua karenamu. kau menghancurkan hidupku. tak akan ku biarkan kau hidup dengan tenang." Erick melajukan mobilnya dengan cepat.
Anisa turun dari mobil. dia melihat Alpin sekilas.
"mampir lah..."
"umm.. baiklah. tapi.. kau tak apa kan?"
Anisa tersenyum manis.
"tidak. mm.. Alpin, jangan bilang pada ibu kalau Erick...."
"aku tahu. hari ini ulang tahun ibumu. aku tadi sengaja membeli ini.." Alpin mengeluarkan kotak kecil dari sakunya.
"apa ini?"
"kau akan tahu nanti. aku akan membuat hal terindah untuk ibu mu di hari ulang tahunnya."
Anisa mengerutkan keningnya. dia menatap punggung Alpin yang berjalan mendahului nya masuk ke dalam rumah.
"Elson..." Alpin mendekati Elson yang di gendong Rahma, menggendong.
Anisa yang melihat itu merasakan hatinya sangat hangat. Alpin begitu lembut, dia sangat cocok menjadi seorang ayah.
"ibu menyukai dokter Alpin. dia cocok dengan mu"
"ah.. ibu." Anisa segera ke dapur menyimpan belanjaan nya. "jangan ngawur, Alpin itu orang hebat.."
Rahma menepuk pundak Anisa. dia tahu apa yang ada di benak putrinya.
"lupakan dia. mulailah hidup yang baru." ucap Rahma. Anisa memutar tubuhnya, memeluk Rahma dengan erat. dia ingin menumpahkan kesedihan nya. kejadian tadi kembali berkelebat di pikirannya, membuat hatinya sakit.
wajah Erick yang terlihat kesepian itu membuat nya gusar. Anisa merasakan sakit hati juga iba secara bersamaan.