Semesta Cinta

Semesta Cinta
bab 49


Anisa dengan ragu membangunkan Erick. tangan nya mengguncang tangan Erick dengan pelan.


"Erick.. bangun lah."


Erick mengerang saat tidurnya terganggu. matanya terbuka lalu dengan cepat terpejam karena kepalanya terasa begitu berdenyut. Anisa yang menyadari itu langsung memegang kening Erick. panas sekali. Anisa terkesiap.


"makanlah, setelah ini minum obat mu." Anisa membantu Erick untuk bangun, menumpuk 2 bantal agar Erick bisa menyenderkan tubuhnya.


Anisa duduk di tepi ranjang sambil menghadap ke arahnya dengan semangkuk bubur di tangannya. Erick memperhatikan wajah anisa yang begitu terlihat tulus meniup bubur untuk mengurangi panas.


Erick membuka mulutnya perlahan. perhatian Anisa membuat hatinya hangat, dia berharap waktu berjalan dengan lambat sekarang. kerinduan nya membuncah seketika.


"apa sudah cukup?" tanya Anisa saat bubur di mangkuk nya telah habis. Erick mengangguk.


anisa menyimpan mangkuk kosong itu lalu beralih pada obat dan segelas air putih.


"minum lah."


Erick sangat berharap Anisa kembali tinggal kembali bersama nya.


drt..drt...


ponsel Anisa yang ada di sakunya berdering. Anisa segera melihat siapa yang menelepon dan segera mengangkatnya.


"Alpin, maaf aku ada urusan yang mendadak jadi tidak sempat memberimu kabar." anisa berjalan keluar kamar. Erick yang mendengar Anisa menyebut nama Alpin menjadi kesal.


di saat dia ingin bersama Anisa, lelaki itu malah mengganggu nya. Erick bangun dengan sempoyongan. dia tak ingin Anisa pulang malam ini. dengan tertatih Erick berjalan dengan tangan menyusuri tembok untuk menahan tubuhnya agar tak terjatuh.


mengikuti kemana Anisa berjalan. Anisa menghentikan langkahnya tepat di ruang tamu. Erick dapat melihat Riska yang tengah bersih-bersih di sana. dengan cepat Erik mengisyaratkan Riska untuk pergi. tanpa bertanya apapun riska langsung meninggalkan ruang tamu.


"ya, aku ada di rumah teman. kau mau menjemput ku?"


Erick dengan segera berjalan mendekati Anisa. merebut ponselnya lalu mematikan panggilan begitu saja. Anisa belum selesai bicara bahkan alpin pun belum menjawab pertanyaan nya.


"kau menyukai nya?"


"apa?"


"apa kau mencintainya juga?"


Anisa semakin tak mengerti dengan sikap Erick sekarang. dia mencoba merebut kembali ponselnya yang sekarang berada digenggaman erick. ponselny kembali berdering.


"biarkan aku mengangkat nya."pinta Anisa.


Erick semakin nyalang menatapnya apa panggilan ini begitu lebih penting darinya. rahangnya mengeras, tangannya mengepal meremas ponsel Anisa sehingga tak sengaja tombol hijau tertekan oleh jemarinya.


"Erick. kau dan aku sudah tak ada hubungannya lagi. Sasa sekarang...."


"aku sudah mengusirnya, aku akan membunuh ****** itu dengan tangan ku. tak bisa kah melihat aku yang tersiksa karena merindukan mu."


"apa maksud mu dengan mengusirnya.?" Anisa memang belum mengetahui apa yang terjadi selama ini pada Sasa dan juga Erick.


"aku menyesal karena terlalu bodoh. aku seperti orang dungu yang terus menerus di permainkan olehnya."


Anisa mendengar kan semua nya dengan pikiran yang begitu kalut. jadi selama ini Sasa telah berbuat kejam demi menghancurkan dirinya, merusak rumah tangganya. tapi tetap saja Anisa tak percaya jika Erick sekarang benar-benar telah menyesali semua perbuatannya.


Alpin menahan napasnya saat mendengar suara seorang lelaki dan Anisa tengah bicara. dia tahu siapa pemilik suara itu. Alpin terus menempelkan ponselnya ditelinga untuk mendengarkan apa yang mereka bicarakan.


"Sasa dan Erick sudah berpisah?" gumamnya. Alpin tersadar saat mengingat dulu riska mengatakan kalau di rumah erick tak ada seorang wanita. ternyata mereka sudah berpisah.


Alpin mematikan ponselnya saat tak mendengar lagi ada pembicaraan dari balik ponselnya. hatinya memanas dan amarahnya naik ke ubun-ubun. pikirannya kalut sekarang, membayangkan apa yang akan Erick lakukan pada Anisa sekarang. mereka masih sah suami istri dan sekarang mereka ada di ruangan yang sama.terlebih Erick sudah mengungkapkan semua yang telah terjadi, alasan kenapa dia menyakiti Anisa.


"Aaaaa......." Alpin melempar ponselnya ke lantai hingga terbelah dua.