Semesta Cinta

Semesta Cinta
bab 74


dua jam berasa satu abad bagi Alpin. dia tak nyaman duduk di ruangan ini dengan membahas topik soal perjodohannya dengan gadis yang kini duduk di depannya. pikirannya melayang pada Elson yang dia tinggalkan sendirian di rumah, dia khawatir terjadi


sesuatu pada bocah kecil itu.


"ibu, tak bisakah aku pulang duluan?" bisik Alpin. ibunya melotot tak suka.


"ada apa, Alpin?" tanya Kelan, ayah si gadis yang kini tengah menatapnya.


"ah.. maaf, saya ada urusan lain. jadi..."


"kau ingin pergi?" tanya gadis itu yang Alpin ketahui namanya adalah kemala.


"iya, ada seseorang yang menunggu ku." jawabnya, membuat ibunya kembali melotot memberikan isyarat untuk tidak menyebut nama Elson sekarang. tapi...


"dia Elson, put..."


"ah.. seperti nya anak ku sangat sibuk. dia harus kembali kerumah sakit." potong nya cepatnya. kali ini dia tak akan membiarkan perjodohan ini gagal seperti sebelumnya.


"eoh.. kami mengerti."


"baiklah. saya permisi."


Alpin bergegas pergi. dia tak tertarik dengan ini.


"hah, andai saja aku punya pacar.." desisnya tanpa sadar. saat dia ingat ucapan ibunya Minggu lalu yang mengatakan akan menghentikan ide gilanya soal perjodohan jika Alpin membawa seorang gadis ke rumah nya.


Elson terus terisak karena Alpin tak kunjung datang.


"ibu.. papah.. aku ingin bertemu kalian." isaknya. meringkuk di atas kasur king size dengan tubuh yang bergerak gelisah.


elson begitu merindukan Anisa dan Erick yang sudah hampir sebulan ini terbaring tak berdaya.


"Elson...Elson.. kau sudah tidur?" teriak Alpin seraya menaiki anak tanggad dengan tergesa.


ceklek..


alpin membuka pintu kamar dan dilihat nya Elson yang meringkuk di atas kasur dengan tubuhnya yang sedikit bergetar.


"Elson.. maaf.. papah baru pulang." Alpin merengkuh tubuh elson kedalam pelukannya.


"papah.. aku mau ibu dan papah.." isaknya.


terdengar begitu miris dan membuat Alpin bingung harus bagaimana sekarang.


"besok saja.. sekarang sudah malam."


"tidak, Elson mau sekarang.."


Elson menggeleng pelan lalu merekatkan pelukannya kepada Alpin seraya menangis semakin keras.


"Elson, kalau Elson cengeng papah pergi lagi ya.." ancam alpin dan seketika tangis elson pun berhenti. menatap alpin dengan takut.


"Elson.. hanya mau papah.. sama ibu.." lirihnya pelan.


"iya, besok kita ketemu ibu oke."


"mm...."


perlahan Elson mulai tenang, Alpin terus menepuk punggungnya. tak ada lagi isakan atau pun rengekan yang didengarnya.


Alpin menghela nafas panjang. hatinya semakin resah, mengingat perjodohannya dan memikirkan nasib elson sekarang. jika dia menuruti kemauan ibunya maka dia harus melepaskan Elson, itu tak mungkin baginya.


drt...drt..


ponselnya berdering. Alpin segera merogoh nya dari saku dan mengangkatnya dengan cepat.


"Sasa...."


"......."


"eummm.. aku.? aku baik-baik saja.. apa kau.."


"............"


"ya.. aku butuh bantuan mu."


"..............."


"kau serius? kapan?"


"................."


"ya.. see you."


panggilan pun terputus. Alpin mencium kening Elson lalu berbisik pelan.


"mimpi indah.. son"


lalu pergi keluar kamar. menuju ruang tengah, setelah percakapan nya dengan Sasa di telpon barusan hatinya sedikit lebih baik.ada secercah harapan untuknya dan Elson untuk terus bersama tanpa harus memikirkan keinginan ibunya.


Alpin tersenyum tipis mengingat betapa rumitnya dulu hubungannya dengan Sasa, dan sekarang malah harus kembali kenal dan saling berbagi apapun.


"hah.. mungkin ini sudah takdir ku." gumam Alpin. "kembali padamu..."