Semesta Cinta

Semesta Cinta
bab 67


hari berganti hari, Minggu ke Minggu dan bulan terus bergulir. Erick mulai bisa menggerakkan kedua kakinya meskipun belum bisa sepenuhnya berdiri dengan sendiri. tangannya harus memegang sesuatu untuk menopang tubuhnya. setiap hari Riska selalu membantunya untuk belajar berjalan lagi jika anisa sedang sibuk di kantor. di temani Elson yang dengan suara cempreng nya memberikan semangat pada Erick.


sekarang pun, menjelang matahari naik ke atas ubun-ubun, Erick dengan tanpa ragu memegang kedua tongkatnya untuk berjalan di belakang rumah di temani Elson.


"papah.. cemangat."


"ayo..ayo...papah."


Erick tersenyum melihat Elson begitu semangat berteriak di atas teras rumah. bocah itu selalu bisa membuat menumbuhkan semangat Erick jika di pikirannya mulai ada rasa menyerah.


"uh.. ini sulit." gumam Erick.


Riska hanya diam memperhatikan Erick dari balik jendela, hari ini Erick melarangnya untuk membantu. jadi dia hanya bisa mengawasi nya takut terjadi apa-apa pada majikannya itu.


Alpin seperti biasa nya, di jam makan siang akan pergi mengunjungi Sasa di sel. sudah seminggu ini dia lakukan. membawa makan siang untuk gadis yang pernah menjadi cinta monyet nya. semenjak Anisa benar-benar kembali pada Erick, Alpin mulai menyadari kalau cintanya pada Anisa tidak lah benar. dia akan menebus semua kesalahannya nanti setelah Sasa keluar dari tahanan. dia harus menunggu 5 tahun lagi untuk itu, tapi Alpin tak akan menyerah. dirinya dan Sasa tak jauh berbeda, mereka sudah sepakat akan meminta maaf pada Anisa dan Erick meskipun mungkin sudah terlambat.


"Sasa, tubuhmu semakin kurus."


"mm.. aku tak nafsu makan."


Alpin menghela napas. "kalau begitu mulai besok aku akan membawa vitamin untuk mu. kau harus menjaga kesehatan mu sampai saatnya tiba." Alpin tahu selama ini Sasa memang tak pernah menghabiskan makanan yang dia bawa.


"apa aku pantas mendapatkan maaf dari Anisa?" setetes airmata mulai membasahi pipinya. Alpin berdiri dan segera memeluk Sasa. "Alpin, aku gadis yang kejam, benarkah?"


"aah...aku.. aku.. terlalu buta karena mencintainya." Isak sasa.


"mm.. aku juga sama."


Sasa mendongakkan wajahnya. "Alpin ?"


"ya, kita mencintai seseorang dengan hati yang egois. seharusnya kita tak seperti itu. cinta itu bukanlah sesuatu yang tidak penting, tapi jika memang kita tak bisa memiliki nya, biarkan dia bahagia dengan cintanya. itu lah yang namanya cinta."


Sasa menelan ludahnya. sikap Alpin sekarang mengingatkannya pada Alpin dulu, saat pertama mereka bertemu dan menjalin kasih.


Sasa memeluk pinggang Alpin, menenggelamkan wajahnya di dada bidang Alpin. menumpang semua rasa penyesalan nya. jika saja dia tak mengkhianatinya dulu, jika saja dia tak berpaling pada Erick dulu, jika saja dia terus bertahan dengannya, dan jika saja....


Sasa semakin mengeratkan pelukannya. penyesalan memang tak pernah datang awal. semuanya akan terasa jika kita benar-benar telah mendapatkan keterpurukan. begitupun sasa. Alpin diam tak mengatakan apapun lagi. dia hanya membiarkan Sasa menumpahkan semua rasa sedihnya.


"maaf, jam besuk anda sudah habis pak." seorang petugas masuk, menyuruh Alpin untuk segera keluar.


"Sasa, aku pulang. besok aku kembali lagi." Alpin melepaskan pelukannya.


Sasa mengangguk. melihat Alpin yang berjalan keluar ruangan. dia tak menyadari jika selama ini ternyata alpin sangat lah penting bagi hidupnya.