Semesta Cinta

Semesta Cinta
bab 23


plak


sebuah tamparan keras di pipi. membuat anisa meringis perih, kulit putihnya berubah merah. selalu saja seperti ini, Erick menamparnya hanya karena masalah sepele.


Sasa tersenyum licik sambil merapikan bajunya yang acak-acakan karena ulah anisa. ya, Anisa memukulnya dan memaki Sasa karena kesal saat Sasa melihatnya memarahi Elson. Elson hanya lah anak kecil yang tak tahu apa-apa. usianya baru setahun sekarang, hanya menumpahkan minuman ke lantai haruskah Elson di bentak dan di caci sebagai anak haram. Anisa tak terima.


tapi Erick malah menampar nya sekarang. dengan kejam dia menyalahkan Anisa.


"semakin hari kau semakin brutal. jaga sikapmu jika tak ingin ku usir sekarang juga." bentak Erick. entah kenapa Erick selalu merasa sakit saat membentak anisa tapi juga selalu kesal saat ingat kalau Anisa begitu dekat dengan Alpin.


hubungan Anisa memang semakin dekat dengan lelaki itu. hampir setiap Minggu Anisa menemuinya secara diam-diam. Erick tahu karena Sasa selalu memata-matai nya.


"jaga simpananmu jika tak ingin mati di tanganku." Anisa mulai muak dengan semuanya. dia tak akan diam saja sekarang. dia tak akan membiarkan Erick memperlakukan seenaknya.


"beraninya kau, menyebutku simpanan. dasar ******..." Sasa akan mengejar Anisa yang pergi tapi di tahan Erick dengan cepat.


"sudahlah,.obati lukamu." Erick melihat ada beberapa goresan di wajah Sasa yang mungkin terkena cakaran kuku anisa.


Sasa menurut. ia mengikuti Erick masuk ke kamar. hatinya bergerutu dan bersumpah akan membuat anisa semakin menderita lagi.


Anisa menggendong elson yang tengah bermain. anak ini sudah mulai bisa berjalan meski pun sering terjatuh. dengan cepat Anisa membawanya pergi. dia ingin menenangkan pikirannya.


Anisa terus berjalan sampai tak sadar kalau mereka sudah sangat jauh dari rumah. Anisa menghela napas panjang. Elson sudah tertidur digendonganya.


sebuah mobil berhenti di dekatnya.kacanya terbuka perlahan dan nampaklah Alpin. wajah itu selalu membuat anisa tenang. Anisa bersyukur masih ada Alpin yang selalu ada di setiap dia membutuhkan.


"mau kemana?" tanya Alpin. "masuklah."


Anisa segera masuk.


"kau terluka?" Alpin melihat pipi Anisa yang merah dan sedikit bengkak.


anisa hanya tersenyum kecut sebagai jawabannya. alpin menghela nafas. dia tahu pasti Erick pelakunya. tangan kirinya meraih tangan Anisa sementara yang satu lagi tetap memegang kemudi.


"ku mohon. tinggallah bersama dengan ku." pinta Alpin.


"aku tidak bisa."


"apa karena kau mencintainya? atau karena cuma ikatan."


Anisa terdiam. dia tak tahu jelas dengan itu. karena cinta atau karena statusnya yang masih seorang istri.


selama perjalanan tak banyak yang bisa Anisa katakan. bibirnya terus merapat. memikirkan ketulusan Alpin yang benar atau tidak. hatinya masih ragu dengan apa yang Alpin katakan. meskipun dia sendiri dapat merasakan kenyamanan dan keamanan setiap kali bersamanya.


"malam ini, menginap lah di rumahku."


"tidak Alpin, Erick akan.."


"aku tahu, kau pasti menolaknya. kuharap lain kali kau menerima tawaran ini."


Alpin memutar kemudi. mengantar Anisa pulang kerumahnya. anisa menatap wajah elson, apa dia salah atau benar jika menggantungkan hidupnya pada Alpin.


sesampainya di rumah, dengan sigap Elson membukakan pintu. Alpin selalu memperlakukan Anisa dengan penuh perhatian. tanpa sadar senyuman tulus tersungging di bibir Anisa. lalu turun dari mobil dengan perasaan yang lebih baik.


"masuklah. aku akan pergi setelah kau masuk kedalam"


"mm.. terimakasih banyak. dan hati-hati di jalan." anisa segera masuk.


erick memperhatikan mereka di balkon atas. tangannya meremas pagar balkon menahan kesal. dia semakin yakin, kalau Anisa telah berselingkuh darinya. Erick melangkahkan kakinya keluar kamar.


"dia.. beraninya.." geramnya. tapi langkahnya terhenti saat tiba-tiba ingat kalau dia pun tak lebih baik.


dia ingat pernikahan ini awalnya hanya untuk membalas dendam dan dia pun ingat dengan kejamnya menyakiti Anisa. Erick menggerakkan tangannya memukul dinding dengan keras.


"sial.." umpatnya.