Semesta Cinta

Semesta Cinta
part 10


Erick merebahkan tubuhnya. kata-kata Anisa membuatnya tak bisa konsentrasi mengerjakan pekerjaan kantor yang sengaja di bawanya pulang.


kriet..


terdengar pintu di buka. Erick pura-pura tertidur dengan alasan tak jelas. Anisa melangkah perlahan. menaruh mangkuk bubur di atas meja lalu duduk di samping tempat tidur. matanya menelusuri wajah erick yang tertidur.sangat tampan dan tenang.


"aku rindu senyum dan tatapan hangatnya." gumam Anisa. Erick mendengarnya tapi ada niat untuk membuka mata. dia ingin terus mendengarkan apa saja yang akan di katakan Anisa.


"kenapa kau membenciku. apa kesalahan ku di masalalu? Erick.. jika memang kau puas dengan menyiksaku.. aku akan menerima nya. asal kau tak pergi dari hadapan ku. aku mencintai mu yang dulu lembut. tapi aku juga tak bisa membenci mu yang sekarang. karena kau suami ku." Anisa menutup wajahnya dengan kedua tangan. Erick membuka matanya lalu menarik tangan Anisa.


"ah.. kau bangun." Anisa terperanjat. lalu berdiri dengan cepat. mengambil mangkuk buburnya.


"makanlah. aku keluar." Anisa meletakkan bubur itu di pinggir Erick lalu cepat pergi.


Erick hanya terdiam. jantungnya bergetar lagi saat mendengar Anisa mengatakan kalau dia adalah suaminya.entah kenapa dia merasa bersalah telah berbuat kejam selama ini.


Anisa segera berjalan membuka pintu saat mendengar suara mobil di pekarangan rumahnya.


"Sasa..?"


Sasa turun dari mobil. tersenyum sinis saat melihat Anisa berdiri di pintu masuk. dia berjalan masuk tanpa permisi seolah dia lah pemilik rumah. Anisa hanya diam mengikuti Sasa masuk.


"buat aku minum, bawa ke kamar." titahnya seperti kepada seorang pembantu. Anisa menurut saja.


"kak, apa kau baik-baik saja."


"kenapa kau pulang? bukankah masih ingin berlibur." Erick mencium pipi Sasa lembut.


"ini jusnya." Anisa mengalihkan pandangannya saat melihat Erick begitu erat memeluk Sasa.


"tunggu.." Erick melepaskan pelukannya lalu menarik lengan Anisa.


"duduk disana." titahnya seraya menunjuk kursi yang berada di samping tempat tidur. Sasa menetap Erick meminta penjelasan.


"dengar..mulai saat ini Sasa akan tinggal disini." ujar Erick seraya duduk di kasur menarik Sasa ke pangkuannya.


"kalian.." dadanya berdegup kencang. tak percaya Erick akan berbuat sekejam ini. bagaimana mungkin tinggal serumah dengan gadis ini.


"sebentar lagi kau melahirkan. biarkan Sasa yang mengurus anakku. kau tak harus pergi dari sini..kau hanya perlu menuruti perintah dari ku." Anisa meremas rok yang dengan kuat. airmata nya meleleh sudah tak tertahankan. mereka begitu tega. dia yang mengandung bayi ini kenapa Sasa yang harus mengurusnya.


"mengenai ibu mu, kau boleh mengunjungi nya seminggu sekali. dia mulai besok akan di pindahkan kerumah sakit tempat kau melahirkan nanti."


Erick terus memperhatikan Anisa yang terdiam tak bicara sepatah katapun. sebenarnya Erick merasa aneh dengan perasaan nya yang tak karuan saat melihat wajah itu penuh airmata.


"nah.. sudah jelas bukan.. sudah sana pergi." usir Sasa. Anisa bangkit dengan sekuat tenaga, kakinya berat untuk melangkah.


"ya.. jika bisa menebus semuanya..." ucap anisa seraya tersenyum kearah Erick. debaran jantung Erick semakin bertambah hebat. senyum penuh luka itu begitu menusuk hatinya.


"kak, kok diam saja." Sasa membelai wajah Erick yang masih terpaku melihat Anisa keluar.


"ah.. kau pasti lelah. masuklah ke kamar mu. pilih saja kamar yang kau suka."


"baiklah. kakak.. istirahat saja."