
"apa ini putra Reza?" Alpin memperhatikan bayi yang di gendong Anisa. "besok ibunya sudah boleh pulang.." sambungnya, membuat anisa mendesah lega.
"ah..bagus lah."
kini mereka sedang duduk di kursi taman yang ada tepat di pinggir jalan, di sana banyak penjaja makanan dan minuman jadi lebih strategis untuk beristirahat sambil mengisi perut yang kosong.
"papa, Napa tak puang umah?" Elson duduk di pangkuan Alpin dengan manja, seperti nya dia begitu merindukan Alpin. lelaki pertama yang dia kenal adalah Alpin.
"eummm.. papah sibuk." jawab Alpin.
"Alpin, apa tak sebaiknya kau jelaskan pada Elson kalau kau bukan ayahnya."saran Anisa. dia merasa sedikit tak enak. dari pertama Elson belajar bicara terus saja memanggil nya dengan sebutan itu. apa tak risih bagi seorang perjaka baginya. bagaimana jika orang-orang salah paham dengan statusnya.
"kenapa? aku suka. lagipula Elson masih kecil, belum mengerti apa-apa." Alpin mengelus wajah elson. "biarkan dia terus memanggil ku seperti itu sampai dia mengerti semuanya. di jelaskan sekarang pun akan percuma dia belum ngerti apa-apa."
Alpin merasa sekarang Anisa benar-benar ingin menjauhi nya, dulu dia tak pernah protes dengan ini. malah terlihat senang, karena Elson begitu bahagia saat memanggil nya papah.
"mm.. tapi.."
"kau keberatan sekarang, karena ada Erick bukan?"
"ii..ya.. Elson tak seharusnya memanggil ayahnya sendiri sendiri dengan sebutan paman atau yang lainnya."
"aku mengerti." Alpin terlihat kecewa. "jadi, kau sudah putuskan untuk kembali rujuk kan?'
"eh..." Anisa terkejut tak menyangka Alpin bisa menebak isi hatinya. dia memang berniat untuk menerima erick kembali dan memulai semuanya dari awal lagi. tanpa Sasa atau alpin di kehidupan nya. hanya ada mereka bertiga, Anisa Elson dan Erick.
"hahaha..."Alpin tertawa pelan. "ekspresi wajahmu sangat mudah di tebak."
Anisa terdiam. wajah Alpin yang seperti ini justru membuat nya tak enak. kenapa malah terlihat menyedihkan seperti itu.
"pak, apa besok kita langsung saja mendesain ulang tiap kamar hotel supaya lebih menarik pelanggan." asisten Erick terlihat begitu semangat, dia sudah tak sabar ingin segera melihat hasil yang bagus.
"aku serahkan padamu." jawab Erick. "aku akan pulang lebih awal."
"ah.. baik lah pa. serahkan pada ku."
Erick pun bergegas pulang. dia ingin segera menyampaikan ini pada Anisa, dia begitu senang hingga lupa kalau dirinya dan Anisa belumlah membaik.
"apa aku harus mengatakan nya sekarang?" gumam Erick saat di pertengahan jalan. dia mulai ingat bagaimana kedekatan mereka sekarang.
Erick terlihat ragu untuk melanjutkan perjalanan pulang ke rumahnya, tapi kembali ke perusahaan pun sangat tak mungkin karena sudah tak mood untuk bekerja. Erick menghela napas panjang, mungkin sedikit mencari angin saja dan setelah agak petang barulah pulang. mencari makanan untuk Elson adalah yang tepat sekarang.
mobilnya melaju pelan menyusuri jalanan kota. matanya menatap lurus ke depan, melihat penjaja makanan pinggir jalan. Erick sedikit tertarik karena dulu saat zaman nya masih kuliah dia sering sekali makan di pinggir jalan. rasanya dia merindukan masa-masa itu. mobilnya di parkir di sebelah kanan taman yang ada di sana. karena di sana memang di sediakan tempat parkir khusus roda empat.
Erick segera turun. menyusuri setiap gerobak. mencari sesuatu yang dia inginkan.
"aa... buka mulut nya?"
"amm..."
"wah, Cecil makannya banyak ya mah. nanti akan dapat hadiah dari mamah dan ayah."
mata Erick menatap sedih pemandangan satu keluarga kecil yang ada di hadapannya. mereka terlihat begitu bahagia. dia jadi membayangkan jika itu dirinya dan Anisa.
"hhaaaahh.. manis." ringisnya cemburu. matanya terus mengedar hingga akhirnya tertuju pada satu pemandangan yang membuat nya marah.
di lihatnya Alpin dan Anisa duduk berhadapan, di tambah Elson di pangkuan alpin yang terlihat bahagia. Erick merasa ini tak adil, Anisa istrinya dan Elson putranya tapi kenapa harus Alpin yang berada di sana. tangannya mengepal hingga bukunya memutih. berjalan dengan emosi ke arah mereka.