
Anisa menahan napasnya karena terlalu gugup saat mendengar suara tawa Erick dan elson dari dalam kamar.
"ayo non.." Riska membukakan pintu untuknya.
"Ipuh..." teriak Elson girang begitu melihat Anisa berdiri di ambang pintu.
"elson... sayang..."
dengan cepat Elson berlari ke arah anisa, Anisa memeluk nya erat. rasa rindu nya begitu membuncah. tak terasa airmata nya mengalir.
"sayang, ibu kangen sama Elson." Anisa mencium pipi Elson dengan penuh cinta.
riska tersenyum haru, matanya ikut berkaca-kaca. dengan cepat dia menutup pintu dan kembali ke dapur.
"eeummm.. apa kau sudah lebih baik sekarang?" tanya Anisa pada Erick yang duduk di tepi ranjang.
"ya, aku merasa lebih baik setelah melihat mu."
Anisa menggendong elson lalu duduk di samping Erick dengan ragu.
"kenapa kau ingin aku kesini?" Anisa melirik Erick dengan ragu.
Erick tersenyum seraya meraih tangan kanan anisa. Anisa menarik tangannya cepat membuat Erick kecewa.
suasana di kamar itu begitu canggung. Anisa bingung harus berkata apalagi begitu pun Erick. mereka seperti ke habisan kata untuk sekedar saling menyapa.
"puh. econ lapal.." eslon memegang perutnya.
"ah..baiklah. Elson mau makan apa?" tanya Anisa.
Erick merebahkan tubuhnya perlahan.
"pergilah, aku akan istirahat sebentar." ujarnya.
Anisa melihat Erick kasihan. wajah nya pucat, sikap nya yang selalu kasar dan bermulut tajam sudah tak ada lagi sekarang. kini yang anisa lihat hanyalah Erick yang butuh perhatian.
melirik Erick yang kini tengah memejamkan matanya.
tanpa bicara lagi Anisa segera keluar.
Erick membuka matanya saat mendengar pintu kamar di tutup.
Anisa, apa aku terlalu egois jika mengharapkan mu kembali setelah apa yang aku lakukan selama ini pada mu
hari semakin petang. Anisa masih duduk termenung di ruang tamu dengan Elson yang tengah tertidur di pangkuan nya. setelah makan siang tadi Anisa belum menemui Erick lagi, memilih untuk diam menemani Elson bermain.
Riska bingung harus bagaimana. Erick tak mau makan dan terus saja berbaring. padahal suhu tubuhnya sekarang sangat panas. wajahnya pun sedikit memerah.
"den, apa mau di buatkan makanan yang baru?" riska mengambil makanan yang masih utuh tak tersentuh dari tadi siang. obatnya pun masih belum di minum.
Riska dulu mungkin sangat tak menyukai nya karena sikapnya yang arogan. tapi sekarang riska mulai merasakan sisi baik Erick selama tinggal bersama dengan nya. perasaan nya sedikit iba.
"tak perlu. aku mau istirahat. bawa lagi saja."
perintahnya dengan suara yang pelan.
Riska membawa kembali semua makanan juga air ke dapur. Anisa yang melihat itu segera menghampiri Riska.
"apa dia tak makan bi?" Anisa melihat piring yang di pegang Riska .
"iya non. saya khawatir. den Erick demam tapi tak mau makan. obatnya pun tak ada yang di minum." jelas riska.
Anisa menggigit bibirnya, ada rasa khawatir di hatinya. tapi apa dia harus membujuk Erick untuk makan Sekarang. anisa berniat untuk pulang malam ini, tapi mendengar cerita Riska membuat nya ragu untuk meninggalkan Erick sekarang.
"hah.. ya sudah Bi, bawa Elson kekamar. biar aku saja yang membujuk Erick untuk makan."
Anisa menyerahkan Elson pada Riska.
dengan cekatan Anisa membuat bubur dan menyeduh teh hangat. setelah semua beres Anisa langsung menuju kamar Erick.