
Erick membanting ponselnya. ia segera bangkit dari tempat duduknya. dengan cepat berjalan keluar kantornya. tak peduli meeting yang akan di adakan beberapa menit lagi itu. dia hanya ingin segera pulang. melayangkan pukulannya pada seseorang yang telah berani mendekati istri dan juga anaknya.
"meeting di batalkan. aku harus pulang" ujarnya pada sekretaris nya. lalu bergegas pergi.
dia mengemudi dengan kecepatan maksimal. urat-urat di tangan nya begitu terlihat jelas karena mencengkram kemudi dengan cukup kuat.
brak..
Erick membanting pintu mobil dengan sadis. ia berjalan masuk kedalam rumah dengan penuh amarah.
"Anisa, beraninya kau memasukan lelaki lain kerumah ku?" teriaknya.
Anisa dan Alpin langsung beranjak dari duduknya. anisa menghampiri erick.
"Erick ..Alpin hanya berkunjung."
"diam kau." Erick menepis tangan anisa yang menyentuh lengannya.
"apa alasan mu datang kesini?"
Alpin berdiri dengan tenang. dia tahu, pasti Sasa yang melaporkan kedatangan nya. dia melirik Sasa yang berdiri tak jauh dari mereka.
"aku hanya ingin melihat Anisa. itu saja."
"kau..?" Erick menarik baju Alpin. dia menatap alpin dengan penuh amarah. Alpin tersenyum sinis sembari melepaskan cengkraman tangan Erick di bajunya.
"kenapa kau marah?"
"Alpin hentikan." Anisa mencoba melerai.
"kau dengan seenaknya membawa Sasa kerumah mu. bercumbu dengannya di depan istrimu sendiri. hebat.. kau sungguh egois." sindir Alpin. matanya melirik Sasa yang kini berjalan ke arah mereka.
"Erick, sudah lah mungkin Alpin hanya bertamu saja." Sasa meraih tangan erick mencoba membawanya pergi. tapi Erick malah menolak nya dan menarik Anisa ke arahnya.
" dia istriku.... dan.."
"dan apa? jangan katakan kau ingin memiliki keduanya. sebentar lagi kau akan bercerai dengannya, Anisa ikutlah denganku."
Anisa bingung harus apa. jika dia ikut dengan Alpin itu suatu hal yang mustahil. menurut hukum dia masih istri sah Erick. jika dia tetap disini hatinya semakin terluka karena kehadiran Sasa. lagipula dia tak ingin menyerah dengan keluarga kecilnya. dia ingin memperjuangkan semuanya. Erick dan Elson adalah miliknya. tak akan membiarkan gadis manapun merebutnya.
"Anisa kau sudah cukup menderita. jangan biarkan lelaki brengsek itu terus menginjakmu." Alpin menarik tangan Anisa tapi di halau Erick dengan cepat.
"lepaskan. kalau kau tak ingin terluka." Erick menatap alpin tajam. Erick tak mungkin membiarkan Alpin merebut Anisa darinya. dia sudah tahu semuanya. Anisa bukanlah gadis yang dulu dia benci. anisa adalah istri juga ibu dari anaknya.
Erick melihat arah pandang alpin. dahinya mengernyit.
"kau tahu, tuan Erick.. gadis yang berdiri di sana adalah pacar ku yang kau rebut dulu. dan.. kali ini jangan salah kan aku jika aku ingin mengambil punyamu."
"Alpin, hentikan.." Sasa meraih tangan Erick.."kak, dengar kan aku. aku tak kenal dengan nya. itu pasti hanya.."
"cukup. berapa banyak rahasia yang kau sembunyikan dariku?"
"kak, jangan percaya padanya."
Erick menepis tangan Sasa. lalu pergi. Sasa berlari dengan cepat menyusul Erick. dia tak mau kehilangan Erick. cara apapun akan dia pakai asal Erick tak meninggalkan nya.
"maaf.. aku hanya.." Alpin menatap Anisa dengan menyesal.
"tak apa. Alpin lebih baik kau pulang saja."
Alpin merasa sangat menyesal telah seenaknya bicara. dengan bodohnya dia mengatakan akan merebut Anisa dari Erick. dia memang ingin membawa Anisa pergi dari rumah ini tapi bukan dengan cara dan waktu yang seperti ini. dia hanya akan membawa nya jika secara hukum Anisa dan Erick sudah sah berpisah.
"sekali lagi aku minta maaf. aku pulang."
Anisa melangkah dengan gontai menuju tempat Elson di baringkan. matanya berlinang, dia bingung dengan sikap Erick. dulu dia tegas mengatakan kalau pernikahan ini hanya jalan dia untuk balas dendam. tapi baru saja dia mendengar kalau mengakuinya sebagai istri. sebenarnya ada rasa senang saat kata itu terucap dari mulut Erick.
"Elson.." anisa memeluk Elson dengan isakannya yang terdengar sedih.
sementara itu Sasa dengan mati-matian menjelaskan semuanya. dia tak mau jika Erick mengusirnya sekarang. harus kemana dia pergi.
"kakak sebenarnya alpin adalah teman kita saat SMP. dia.."
"aku tahu. dia yang melindungi anisa waktu itu."
"ya.. dia bocah itu. dia melindungi Anisa karena mereka pacaran. bukan aku pacarnya." Sasa tersenyum dalam hati. untung saja dia tak bodoh. seharusnya dia mendapat piala Oscar atas akting nya.
"aku tidak peduli soal masa lalu." ucap Erick dingin. ya, dia mulai tak mempedulikan itu. sekarang di pikiran nya hanya ada Elson. dia tak akan mengungkit lagi soal masa lalu mereka. pikiran itu hilang semenjak kehadiran Elson di hidupnya. dia juga tak peduli dengan masa lalu Anisa atau sasa.
"jadi, kau mau kan menceraikan anisa?"
Erick menghela napas berat. dia hampir lupa dengan perjanjian itu. apakah dia benar-benar akan menceraikan Anisa?
"kak, kau janji akan menikah denganku." Sasa mulai menunjukkan sikap manjanya. Erick melihatnya dengan malas. entah kenapa dia mulai jengah dengan sikap Sasa yang seperti itu.
tapi tidak mungkin juga dia membatalkan pernikahan nya dengan Sasa. dia sudah berjanji pada paman dan bibi Sasa untuk tetap bersama nya. Erick merasa terbebani dengan dua hal itu.