
Anisa gelisah tak bisa tidur. dia terus memandangi cincin yang melingkar di jarinya. cincin yang Alpin berikan saat makan malam kemarin. dia tak menyangka ternyata kado yang Alpin siapkan untuk membuat Rahma bahagia itu adalah sebuah lamaran buat anisa.
Anisa menghela napas panjang. dia membuka cincinnya lalu kembali menyimpannya ke dalam laci meja riasnya.
"aku masih belum bisa menjawab nya sekarang. bagaimana pun juga aku belum bercerai dengan Erick." gumamnya. hatinya terasa sesak saat mengingatkan Erick.
"nisa... kau belum tidur." Rahma tiba-tiba masuk membawa elson yang sudah terlelap di gendongan nya. meletakkan nya di atas kasur dengan pelan-pelan.
"Bu, apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Anisa.
Rahma melihat kegusaran juga rasa gundah yang amat dalam dari pancaran mata Anisa. dia berjalan ke arah anisa lalu menarik tubuh anisa supaya bangun dari duduknya. menuntunnya untuk duduk di atas kasur.
"Nisa, Alpin sangat baik. dia juga mencintai mu..yang terpenting dia menyayangi Elson." Rahma jongkok di hadapan Anisa, meraih kedua tangan Anisa.
"kau sudah menerima cincin nya. jangan menunggu lama, besok kau harus mengambil keputusan. dan ku harap keputusan mu tak akan membuat ibu kecewa dan juga membuat mu menyesal."
Anisa menatap Rahma yang begitu berharap banyak padanya. dengan cepat anisa memeluk tubuh kurus itu. menumpahkan semuanya pada Rahma yang mulai menua dan juga lemah.
"sayang, ibu harap bisa melihatmu bahagia sebelum pergi." bisik Rahma, membuat Anisa melepaskan pelukannya. menatap wajah Rahma dengan lekat.
"maksud ibu.?"
"Nisa, penyakit yang ibu derita bukanlah penyakit yang ringan. ibu tidak tahu penyakit itu akan..."
"cukup Bu. aku tak mau dengar. ibu harus kuat.. ibu jangan tinggalkan Anisa dan Elson."
Rahma membelai pipi Anisa, kini putri kesayangannya begitu kurus dan selalu gelisah setiap harinya. Rahma bersumpah jika dia bertemu dengan Erick nanti akan menampar wajah itu sampai tak jelas lagi rupanya.
___&&&&&_________
"kak, kau sudah pulang?" sambut Sasa, lalu menarik Erick untuk duduk.
"ada apa dengan wine ini?" tanya Erick seraya mengambil botol wine lalu kembali menyimpannya.
Sasa melingkar kan pelukannya di leher Erick. mendekat kan bibirnya ketelinga Erick.
"hati ku lagi senang sekarang, karena sebentar lagi kita akan menikah bukan?" bisiknya. Erick sedikit merinding karena hembusan napas Sasa yang terasa begitu dingin di telinganya.
Erick menarik lengan Sasa, membuat nya terjatuh ke pangkuannya.
berharap lah. karena ku rasa wine ini untuk merayakan kemenangan ku.
batin Erick.
"kak, kenapa bengong." Sasa mengusap pipi Erick membuatnya segera tersadar lalu mencium bibir Sasa sekilas.
"ah.. kau ingin menikah bulan depan bukan. baiklah."
Sasa bangkit lalu segera menuangkan nasi ke piring Erick. akhirnya Erick mau menikahi nya juga. Sasa semakin banyak mendapat kan ke untungan. akan menjadi nyonya besar adalah hal yang paling dia impikan.
Erick melirik Sasa sekilas, senyuman tipis tersungging di bibirnya.
akan ku berikan kejutan yang paling luarbiasa di hari pernikahan mu. tunggu saja...
gumam Erick dalam hati. dia tak sabar ingin segera mengakhiri semuanya. bibirnya menyeringai.
Sasa terus menyantap makan malamnya dengan lahap. dia tak tahu jika sebuah jurang dalam telah di gali oleh Erick untuknya.