Semesta Cinta

Semesta Cinta
bab 56


Erick baru saja selesai meeting dengan rekan bisnis nya yang berasal dari luar negeri. semua terlihat tegang saat keluar dari ruangan itu, tak ada senyum ataupun tawa seperti biasa nya. hanya wajah Erick yang terlihat tenang, tak tahu apa yang sedang di pikirkannya.


"pak Erick, bagaimana ini? klien kita banyak yang protes karena fasilitas hotel banyak yang kurang memadai." asisten Erick terlihat sangat khawatir apalagi saat meeting barusan rekan kerja Erick pun terlihat ragu untuk membantu nya.


Erick menepuk pundaknya. "jangan khawatir. aku akan memikirkan semuanya."


Gea Rafael, asisten yang sudah bertahun-tahun dengan nya itu sedikit merasa ada yang aneh. sikap Erick tak seperti biasanya. dia sekarang menjadi sangat tenang. biasanya dia akan melempar kan apapun yang ada di sekitar nya dan akan memarahi habis-habisan semua karyawan. tak peduli bawahannya itu salah atau tidak.


Erick memijit pangkal hidung nya. dia menyandarkan kepalanya yang begitu berdenyut. perusahaan nya dalam masalah besar, semua akan hancur jika dia tak bisa mengatasi semuanya secepat mungkin.


tring...


sebuah pesan masuk.


from dilan


Reza sudah melewati masa komanya. cepat lah kemari.


"syukur lah." Erick merasa sangat lega saat membaca pesan dari dilan. akhirnya Reza melewati masa kritis dengan waktu yang tak begitu lama.


to. dilan


bagaimana dengan istrinya?


Erick membalas pesan dilan dengan cepat. dia juga harus mengetahui Aina sudah membaik apa belum. semua karena nya mereka seperti ini, dia harus menanggung semua ini.


tring..


pesan balasan dari dilan. senyum Erick semakin merekah. seketika dia melupakan masalah kantornya.


from.dilan


lebih baik.. mereka berdua di tempat kan di ruangan yang sama atas permintaan mu. kemarilah cepat. ada yang ingin Reza katakan padamu.


setelah membaca pesan itu, Erick segera bersiap untuk segera pergi ke rumah sakit. dia membatalkan semua jadwalnya sore ini.


secepatnya Erick melajukan mobilnya.


di lain tempat, Alpin terlihat tak fokus sama sekali. dia memilih untuk cuti hari ini. fikiran kacau semenjak anisa kembali pada Erick. dan sekarang di sinilah Alpin, duduk di ruangan tempat reza dan Aina dirawat.


"itu..itu..aku.."


"mas reza, katakan yang sebenarnya. dan pak dokter saya mohon jangan laporkan suami saya." Aina bangkit dari ranjang, memposisikan tubuhnya setengah duduk.


"itu.."


"eh..alpin, kau di sini?"


Alpin tak melanjutkan ucapannya saat dilan masuk kedalam. dia memilih untuk diam.


"ya." jawabnya singkat.


dilan duduk di tepi ranjang Reza. menepuk kaki Reza yang di balut perban.


"aawww..kau gila ya?" rintih Reza saat merasakan sakit yang begitu menusuk.


"lah.. lembek amat sih jadi pria."


"dilan, berhenti bercanda. luka Reza tidak lah ringan." Alpin memotori kepalanya.


"ya..ya.. kau ini. selalu membela Reza."


"haha.. karena kau tak pantas di bela."


aina menahan tawanya saat lagi-lagi dilan di geplak Alpin. mereka terlihat begitu akrab.


Erick mendorong pintunya dengan pelan. kepalanya mengintip ke dalam saat mendengar suara tawa dari sana.


"hei.. akhirnya datang juga." dilan merangkul pundak Erick. menariknya masuk ke dalam.


Alpin langsung terdiam. memalingkan wajahnya ke arah lain.


"eummm..i..iya.." Erick sedikit ragu saat melihat Alpin berdiri di dekat ranjang Reza.


dilihat nya Reza yang tersenyum lemah ke arahnya. hampir semua tubuhnya di penuhi perban.