
Anisa terus termenung di ruangan Alpin, seperti biasa jika sedang merasa resah Anisa selalu menemui Alpin. sebentar lagi jam makan siang tiba, Alpin pasti sedang sibuk dengan pasien nya.
drt...
ponsel Anisa bergetar. ada pesan masuk.
"Erick.." Anisa tak percaya Erick memintanya untuk datang kerumahnya. Anisa berjalan dengan perlahan membuka pintu, lalu keluar.
from: Erick
di luar ada mobil Ferarri hitam yang menunggu mu. masuklah. dan temui aku segera.
Anisa kembali membaca pesan nya. setelah berada di luar rumah sakit Anisa langsung mencari keberadaan mobil yang di maksud Erick. matanya tertuju pada mobil Ferarri hitam yang berada tepat di seberang rumah sakit.
tanpa berpikir lagi Anisa langsung berjalan lalu segera masuk tanpa bertanya apapun pada sopir nya. di pikirannya saat ini hanya ada Elson, Erick akan mempertemukan nya dengan Elson sekarang.
sementara itu Alpin bergegas kembali ke ruangannya karena Anisa sudah mengiriminya pesan setengah jam yang lalu kalau dia tengah menunggu di ruangannya.
"Anisa..." Alpin membuka pintunya dengan cepat, tapi ada siapapun di sana.
"Anisa kau di toilet kah?" Alpin berjalan mendekati pintu toilet, tapi ada tanda-tanda anisa di sana.
"dimana dia, apa dia pergi lagi karena terlalu lama menunggu." tebaknya. Alpin merogoh sakunya mengambil ponsel bermaksud untuk menghubungi Anisa.
"ah.. lowbet." geramnya. terpaksa Alpin menyimpan ponsel nya dan cepat keluar siapa tahu ada perawat yang melihat Anisa.
Anisa melupakan Alpin karena saking senangnya akan bertemu dengan Elson dan juga.....
Anisa menggeleng cepat, kenapa dia jadi membayangkan wajah Erick sekarang. hatinya merasa senang akan bertemu dengan nya atau apa. Anisa sendiri bingung dengan perasaannya saat ini.
______________________&&&&&_________
Sasa melempar kan ponsel nya ke arah Reza yang kini berlutut di hadapan nya. air mukanya begitu ketakutan. dengan perlahan dia melirik istrinya yang duduk di sofa dengan mulut di lakban. wajah nya terlihat begitu pucat.
"seret dia. siksa sampai tulang-tulangnya patah."
"mmmm..mmmm" istri Reza bergerak tak nyaman, dia tak tega melihat Reza di seret paksa dari ruangan itu. airmata nya mengalir deras membasahi pipi. untuk sesaat dia menyesal karena telah menolak tawaran Erick untuk tinggal di rumahnya sementara waktu sampai semua masalah terselesaikan.
tapi karena kebodohannya dia menolak dengan alasan yang tak penting, dan sekarang akibatnya malah fatal. suaminya di siksa habis-habisan.
"huh.. gara-gara suamimu yang *****, Erick pasti akan tahu kalau itu perbuatan ku." sasa mengangkat wajahnya dengan mencengkram dagunya.
"lalu.. karena dia telah membuat Erick terluka. dia harus menerima akibatnya." gertak Sasa.
melihat wanita di depannya berontak ketakutan membuat Sasa tertawa keras, merasa begitu lucu. dengan kejamnya dia memperlakukan wanita hamil itu. mendorong nya dengan kencang hinggap terjerembab ke lantai.
"mmmm..." wanita itu meringis sakit saat perutnya menghantam lantai dengan cukup keras. tubuhnya gemetar.
"heuh.. aku sudah membiayai semua biaya rumah sakit mu, tapi apa balasannya. hanya ke gagalan." decih Sasa lalu meninggalkannya begitu saja. meringkuk di lantai yang dingin menahan rasa sakit dan juga tekanan berat yang di alami batinnya. perlahan kesadaran nya hilang.
-------_________________________________&--------
Anisa memperhatikan bangunan ala Eropa yang kini ada di hadapannya. rumah besar yang mewah, lebih besar dari rumahnya dulu.
"non Anisa.." riska berlari dengan antusias saat melihat Anisa berdiri di depan gerbang, segera membukanya.
"bibi..kau bi Riska.?" Anisa tak percaya, kini wanita di hadapannya terlihat lebih tua sekarang dengan kerutan di wajahnya.
"iya non. non semakin cantik."
"ah.. bibi. oh..iya. dimana Elson.?"
"den elson lagi sama ayahnya." ujar riska membuat getaran kecil di hati anisa.
Riska pun menuntun anisa yang seperti nya ragu untuk melangkah. tangannya berkeringat dingin, entah kenapa dia merasa gugup saat tahu akan melihat Erick sekarang.