Semesta Cinta

Semesta Cinta
part 16


"sa, berhenti." Erick mendorong tubuh sasa menjauihinya. Sasa cemberut karena niatnya untuk mencium Erick gagal. sulit sekali untuk merobohkan iman lelaki satu ini. sudah banyak cara yang ia lakukan untuk menarik perhatian Erick supaya mau tidur bersama nya. tapi selalu saja gagal.


"kenapa? apa kau tak pernah mencintaiku dengan tulus selama ini?"


"aku tidak mau mengotori sebelum waktunya. kita belum menikah tak baik jika melakukannya sekarang." Erick memang hanya berani mencium pipi saja. dia tak pernah melakukan hubungan yang lebih intim lagi pada Sasa.


"huh.. si jalang saja sampai hamil. cara apa yang dia lakukan?" sasa melirik Anisa yang baru memasuki kamar Erick untuk mengantarkan cemilan yang di pintanya.


"apa kau butuh yang lain,?" Anisa pura-pura tak mendengar. dia melihat Erick yang merapikan kemeja nya berantakan. hati kecil anisa berpikir negatif dan merasa tak suka.


"tidak." jawab Sasa. lalu duduk dengan kaki menyilang.


anisa keluar. menyandarkan tubuhnya di pintu. sakit rasanya melihat mereka terus berdua seperti itu. ingin rasanya dia menjambak rambut itu, menampar pipinya berulangkali. tapi apa daya dia hanya mampu menangis menahan sesak di dada.


setelah merasa lebih baik dia langsung pergi meninggalkan ruangan itu. di lihatnya Elson tengah tengkurap dengan beberapa mainan di sekeliling nya. kini sudah 5 bulan usianya. bocah itu sangat gemuk dan lucu.


"Elson sayang.." Anisa mengangkat tubuh mungil itu lalu memeluk nya erat. tangis pecah begitu saja.


"aaa.." Elson membuka mulutnya mengeluarkan suaranya yang terdengar lucu.


"ya, pintar...." Elson tertawa lucu saat Anisa menciumi pipi gembul nya.


Elson membuat Anisa merasa lebih baik. setiap luka di hatinya hilang begitu saja karena tingkah Elson yang menggemaskan.


Erick mengambil kunci mobilnya dengan tergesa saat ingat hari ini dia janji dengan seorang teman lamanya.


"mau kemana kak?" Sasa menarik lengan Erick menahan langkahnya.


"aku ada janji penting. kau jaga Elson."


Erick langsung berlari. dia terlihat sangat buru-buru. Sasa merebahkan tubuhnya sambil memainkan ponselnya.


"huh..jaga Elson. enak saja.. " gerutunya. sebenarnya Sasa sangat tak menyukai Elson.


Erick menghentikan langkahnya saat melihat Anisa tengah sibuk bermain dengan Elson. tanpa sadar segurat senyum terukir di bibir Erick.


setengah jam perjalanan yang di butuhkan Erik untuk sampai ketempat yang di tuju nya.


Erick tak sabar untuk segera bertemu dengan Reza. ya, dia berhasil menghubungi Reza dan membuat janji temu dengan nya di cafe dekat sekolah mereka dulu.


"Reza.." sapanya saat melihat Lelaki berkaos hitam duduk tepat di kursi kedua dekat jendela. tak banyak berubah rupanya. Erick masih bisa mengenali Reza karena tompel hitam di sebelah mata kiri nya.


"kau Erick.." Reza nampak tercengang. "gila.. kau berubah menjadi tampan sekarang." ujarnya blak-blakan. Erick hanya tersenyum.


"aku kaget saat tiba-tiba kau datang menghubungi ku."


"maaf. tapi ada yang ingin aku tanyakan soal kejadian di SMP dulu." Erick to the point. dia memang tak suka basa basi.


kening Reza mengerut.


"kenapa? itu kejadian buruk tentang mu, kenapa ingin mengungkit nya?"


"aku hanya penasaran saja. siapa gadis yang selalu bertingkah seperti iblis itu."


"ah.. maksudmu alisya.."


deg..


Erick menelan ludahnya. alisya, jadi bukan Anisa. Erick semakin ingin mengetahui nya.


"jadi bukan Anisa.?"


"haha.. kau pasti di buat bingung. mereka saudara kembar. alisya itu sangat lincah dan cantik. tapi dia juga seorang monster yang suka membully siswa yang lemah." Reza kemudian menatap Erick penuh tanya.


"kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal ini. jangan bilang sekarang kau ingin balas dendam padanya. itu sudah sangat lama, tak baik mendendam terlalu lama."


Erick hanya tersenyum lalu menatap Reza.


"tapi kejadian itu pasti sangat sulit di lupakan bukan? hee.. aku saja yang hanya jadi penonton masih mengingat nya."


"kau benar. jadi aku ingin mendengar lagi darimu untuk nostalgia."


"kau gila. tapi.. tidak ada salah nya."


Reza mulai menceritakan semuanya. seperti kaset film yang di putar ulang. Erick mulai menemukan beberapa perbedaan antara cerita Reza dan Sasa. begitu jelas kalau bukan Anisa pelaku semuanya. justru dari cerita Reza dia dapat menyimpulkan kalau Anisa pun salah satu korban dari saudara kembar nya itu.