Semesta Cinta

Semesta Cinta
bab 37


"aaa... econ au Ipuh Ama papah.. econ au puang..."


"Elson, ini papah. lihat baik-baik.. ini papah." Erick jongkok untuk menyamakan tingginya dengan Elson.


"ukan.. amu ukan papah.."


"aih.. " Erick mengacak rambutnya frustasi. ada rasa kesal saat Elson tak mengakui nya sebagai ayahnya.


Erick menghela napas panjang, lalu bangkit dan berjalan meninggalkan Elson. dia sudah kehabisan akal untuk membujuk anak itu.


Elson sangat susah di bujuk. wataknya sangat keras kepala meskipun masih kecil.


"bagaimana ini, apa aku juga harus membawa Anisa. tapi... ahh.." erick tambah bingung. anisa tidak mungkin mau menerima tawarannya. Erick harus mencari cara lain untuk membujuk Elson.


Erick kembali ke kamar Elson dengan membawa sebuah mainan, dia yakin mainan robot akan membuat Elson lupa dengan Anisa. tapi masih ada yang mengganjal di hatinya, Erick penasaran siapa sebenarnya yang di sebut papah oleh anaknya itu.


"Elson lihat, papah punya robot untukmu."


Elson mengusap air mata nya lalu bangkit dan segera mengambil robot itu tanpa melihat wajah Erick. Erick tersenyum, akhirnya Elson berhenti menangis.


"Elson, mau beli lagi yang banyak ga?"


"iya.. api econ au Ipuh ulu."


"iya..nanti papah akan ajak ibu juga."


Elson memandang Erick tak suka. dia tak suka karena Erick terus saja menyebutkan dirinya papah. yang Elson tahu lelaki yang di sebut papah adalah lelaki yang selalu ada di dekatnya dan juga Anisa.


"kenapa?" tanya Erick begitu menyadari tatapan Elson yang terlihat tak suka padanya.


"amu ukan papah econ."


deg


jantung Erick seperti mendapatkan pukulan besar. dengan sekuat tenaga dia menahan emosinya, dia tamu memperlihatkan kemarahan nya pada Elson hanya karena mendengar ucapan anak itu.


"lalu papah Elson siapa?"


Erick menelan ludahnya.


apa Anisa sudah menikah lagi?


pikirnya.


Erick membuang pandangannya ke samping. entah kenapa begitu sakit rasanya, dia merasa tak rela. di hati nya mulai tumbuh cinta tapi kenapa anisa malah melupakan nya.


Ting Tong


suara bel yang nyaring membuat Erick tersadar dari lamunannya. dia segera turun ke bawah melihat siapa yang lagi-lagi sekali sudah datang bertamu.


"bi Riska?"


Riska tersenyum begitu pintu di buka. dia meremas jemari nya dengan gugup.


"em.. den Erick. maksud kedatangan saya kesini adalah untuk melamar pekerjaan. saya sangat butuh uang untuk pengobatan suami saya."


Erick masih diam. dia nampak berpikir. memperhatikan Riska dengan seksama.


"baiklah. aku memang lagi butuh pengasuh sekarang." ujar Erick membuat Riska mendesah lega. Erick menerima Riska karena dulu riska pernah bekerja di sini juga.


"masuklah."


Riska mengikuti Erick dari belakang. lalu berdiri di samping Erick yang kini duduk di kursi ruang tamu.


"mulai sekarang aku menyerahkan semuanya pada Bi riska. dan juga Elson anakku, kau harus menjaganya selama aku kerja." Erick menyerah kunci kecil pada Riska. "ini duplikat kunci gudang. simpan baik-baik. di sana adalah gudang penyimpanan makanan." tambahnya.


riska sudah sangat hapal dengan rumah ini. bahkan dia tahu di mana letak kamar dan juga dapur. membuat Erick tak harus menjelaskan lagi dengan rinci.


"tapi den, Dimana non Anisa?" tanya riska pura-pura tidak tahu. dia di tugaskan untuk memata-matai gerakan Erick selama di rumah oleh alpin. berakting tidak tahu apa yang telah terjadi di rumah ini akan membuat Erick tak mencurigai kedatangan nya yang tiba-tiba.


"jangan bertanya yang bukan urusan mu. pergi ke dapur buatkan sarapan." Erick bangkit dari duduknya. sebentar lagi dia harus berangkat ke kantor.


riska merasa begitu sepi dengan rumah ini. dia tak melihat gadis yang di maksud Alpin. Alpin memberi tahukan nya kalau Erick tunggal bersama pacarnya tapi seperti nya pagi ini Riska belum melihat batang hidungnya sama sekali.