
Alpin kini berada di dalam mobil untuk kembali ke rumah sakit. dia memilih untuk bermalam di rumah sakit seperti biasa, untuk berjaga jika ada pasien nya yang membutuhkannya di malam hari. di saat perjalanan pulang dia melihat dilan tengah duduk di atas motornya. dengan segera Alpin membuka kaca mobil dan berhenti tepat di dekat dilan.
"kenapa?"
"motor ku mogok."
"masuk lah, kau mau kemana?" Alpin membukakan pintu depan mobilnya.
"kerumah sakit. malam ini Aina pulang. dan Reza meminta ku untuk menjemput nya."
"oh.. baguslah. aku juga akan kembali ke rumah sakit."
dilan pun masuk. di pertengahan jalan dilan menawarkan diri untuk membawa mobil karena di lihatnya Alpin selalu bengong.
"kau kenapa?" tegur dilan.
"aku merasa sudah sangat keterlaluan terhadap Erick."
"hum.. sudahlah. biar aku yang menyetir. aku tak mau mati muda gara-gara nanti kau menabrakkan mobil ini." imbuh dilan. Alpin segera menepi kan mobilnya dan berganti tempat duduk.
dan kini mereka sudah masuk kedalam area parkir rumah sakit. Alpin dan saling bertatapan saat melihat mobil ambulance yang berhenti bertepatan dengan mobilnya.
"apa ada yang kecelakaan?" tanya Alpin pada salah seorang perawat yang turun dari mobil ambulance itu.
"iya.. dokter. dan kondisi nya sangat kritis. dia kehabisan banyak darah." jelas perawat itu begitu melihat alpin, atasannya yang bertanya.
Alpin tak bisa melihat jelas wajah korban kecelakaan itu karena terhalang olah badan perawat juga tiga polisi yang berjalan mengikuti mereka.
"dokter alpin, tunggu sebentar." Alpin mendengar seseorang memanggil nya, dia pun menoleh ke asal suara itu.
"oh.. dokter Hans, ada apa?"
"ada yang ingin aku bahas soal pasien anak yang bernama Reo, dia baru masuk malam ini."
dilan yang melihat Alpin sangat memutuskan untuk segera pergi.
"hei.. aku duluan" ujarnya di jawab anggukan Alpin.
saat berjalan melewati ruang IGD, dilan tak sengaja melihat polisi tengah memegang dompet yang dia sangat kenal. karena hanya ada satu dompet di dunia ini yang berbentuk seperti itu. dompet yang di buatnya sendiri saat ulang tahun Erick waktu di zaman SMP.
"bukankah itu..." dilan mengeryit. "maaf pak, apa saya boleh tahu korban kecelakaan itu seorang laki-laki atau perempuan?"
"dia seorang lelaki. Anda siapa?"
dilan merasa jantungnya langsung berdebar dengan cepat dia berlari ke dalam, mencoba melihat dengan pasti kalau itu Erick atau bukan.
"maaf, anda tak bisa masuk." seorang polisi menahan langkahnya.
"tapi pak, saya hanya mau tahu.. itu teman saya atau bukan?"
polisi saling bertatapan lalu melihat dompet yang di pegang nya.
"coba kau lihat ini." polisi itu menyerah kan dompet itu pada dilan.
"iya." tangan dilan bergetar saat menerima dompet itu. di bukanya perlahan.
deg..
jantungnya terasa berhenti berdetak. saat melihat foto Anisa yang dia lihat. dia semakin yakin kalau orang di dalam itu adalah Erick. lalu dengan hati-hati dilan menanyakan ktp nya karena di dalam dompet tak ada sama sekali.
"justru itu yang membuat kami sulit. di dompet nya tak ada identitas mengenai nya dan juga ponselnya hancur, ikut terbakar di dalam mobil."
dilan menelan ludah nya. "ini.. ini.. istri nya." dilan memperlihatkan foto Anisa yang ada di dalam dompet itu. "dia Erik teman saya pak."
"apa itu betul. kalau begitu bantu kami untuk membuat laporan"
"sebentar aku harus menghubunginya dulu."
dilan merogoh ponselnya, menyentuh layar ponsel dan mencari no Anisa.
tut..tut..Tut...
(nomor yang anda tuju di luar server area)
"hais.. sial." umpat dilan. lalu kembali menyentuh layar mencari no kontak Alpin.
Tut..tut..Tut.. (terhubung)
"ya.. ada apa?"
"alpin cepat lah kemari. aku di IGD."
"ada apa?"
"cepat lah.. nanti ku jelas kan."
"ha..Lo..dilan.."
"cepat ..oke." seru dilan seraya mematikan panggilannya.
sebelum melihat ke adaan Erick dilan menjawab beberapa pertanyaan yang di ajukan polisi membuatnya sangat tak sabar.
"apa sudah selesai pak?" tanya dilan.
"iya. terimakasih atas kerja samanya." polisi itu mengulurkan tangannya."kami permisi dulu."
setelah berjabatan tangan mereka pun pergi. dilan segera menghampiri perawat yang tadi mengurus Erick."apa dia baik-baik saja?"
"kami sedang berusaha. kami harap anda tunggu di luar." usir perawat itu saat melihat dilan membuka pintu untuk masuk.
"ha......... kenapa bisa begini. reza saja masih terbaring dan sekarang kau malah ikutan terbaring juga. apa kalian sedang melakukan challenge berbaring di ranjang rumah sakit." dilan selalu saja mengumpat tak jelas jika hati nya merasa khawatir.
"dilan. kenapa memanggil ku sini?"
dilan langsung menjelaskannya pada Alpin. Alpin diam terpaku. Erick kecelakaan setelah melihat nya dan Anisa di taman tadi. dia pikir pasti itu lah penyebab kecelakaan Erick, karena tak konsen menyetir hingga terjadi hal tak di inginkan ini.
"hei.. malah bengong." dilan memukul lengan alpin."ku bilang, kau tahu no telpon rumah Anisa tidak?"
"i.iya. aku akan memberi tahu nya sekarang."
Alpin menatap layar ponselnya, dia ragu. jika langsung memberi tahukan Erick kecelakaan takutnya Anisa akan pinsan. dia terus menimbang keputusan nya membuat dilan semakin tak sabar.
"jangan berpikir kau akan membiarkan Erick begitu saja. Alpin, ku saran kan untuk tidak merusak hubungan orang, apalagi teman sendiri."
"aku sadar itu." jawab Alpin. dia hanya tak mau anisa terkejut dengan ke adaan Erick.