
suara pintu menyadarkan Anisa akan lamunan Elson. sudah 5 hari anisa tak melihatnya, membuatnya sangat merindukannya. anisa melihat ke arah pintu dan masuklah seorang wanita cantik yang Anisa kenal, Rere sekretaris erick.
kini Anisa tengah di rumah menemani Rahma.
"nyonya Anisa, bisa ikut dengan saya sebentar." Rere berjalan mendekati Anisa.
anisa melihat Rahma yang masih tertidur.
"apa Erick yang menyuruhmu." ujar Anisa lesu.
Anisa sedikit berpikir kenapa Erick bisa tahu kalau sekarang Anisa ada di rumah sakit.
"iya nyonya. mari.. pak erick sudah menunggumu."
tubuhnya begitu lelah karena seharian ini terus berjaga. kondisi Rahma sangat tidak baik, membuat anisa tak bisa tidur nyenyak. tapi dia tak bisa menolak ajakan ini, mungkin saja Erick membawa elson sekarang.
Anisa pun berdiri dan melangkah, Rere mengikuti nya dari belakang.
"silahkan nyonya" Rere membuka pintu mobil. Anisa hanya menjawab dengan senyuman.
sepanjang perjalanan Anisa hanya diam. tak banyak yang ingin dia tanyakan pada Rere. karena Rere pasti tak akan menjawab semua.
sesampainya di sebuah restoran Rere dengan sigap langsung membuka pintu mobil lalu segera mengajak Anisa masuk.
anisa tertegun melihat Erick yang tengah duduk. dia sendiri tak seperti yang di bayangkan Anisa. Anisa mendesah kecewa.
"duduklah." perintah Erick. "dan kau pergi lah."
Rere segera pamit untuk pergi setelah mendapat usiran dari Erick. anisa masih diam, bingung harus memulai percekapan dari mana.
"untuk apa menemui ku?" tanya Anisa. Erick meraih tangan kanan anisa, dia begitu ingin bersama Anisa sekarang. Anisa diam saja tak menolak tangannya di genggam Erick.
"aku mau minta maaf anisa..." ujar Erick dengan suara yang pelan nyaris tak terdengar.
Anisa mematung mendengar nya. dia tak mengerti dengan sikap Erick.
"aku tahu selama ini kau telah terluka karena aku. tapi aku mohon maafkan aku."
Anisa menarik tangannya.
"kau baru menyadari sekarang?"
Erick bangkit lalu berjalan ke samping Anisa, menarik tangan Anisa supaya berdiri.
"pulanglah kerumah. kita mulai dari awal lagi."
Anisa menarik tangannya, lalu mendorong tubuh Erick agar ada jalan baginya. Anisa tak menjawabnya, dia masih tak mengerti dengan apa yang terjadi sekarang. sikap erick yang seperti ini masih membuat Anisa sedikit ragu.
"aku sudah putus dengannya." jawab Erick.
Anisa tak peduli, dia tak percaya. Anisa tetap berjalan meninggalkan Erick yang berdiri di tempatnya. Erick tak pernah merasa sesakit ini, kakinya begitu berat untuk melangkah mengejar Anisa. suaranya pun terasa kelu.
Erick menarik napasnya. dia tak ingin terlalu memaksa Anisa sekarang. tapi Erick tak akan menyerah untuk mendapatkannya kembali. Anisa adalah ibu dari anaknya, lagi pula mereka belum resmi bercerai.
Anisa berjalan menyusuri jalanan yang mulai sepi karena hampir tengah malam. pikirannya menjadi kacau pertemuan nya dengan Erick, setiap kata yang di lontarkan Erick membuat anisa semakin bingung untuk menyikapi nya.
di sebrang jalan tanpa anisa sadari, ada seorang lelaki tengah mengawasinya. lelaki berjaket coklat dengan topi hitam. dia berjalan perlahan ke arah anisa yang berdiri di pinggir jalan untuk memanggil taxi. tangan kanannya memegang pisau lipat.
"Anisa..." sebuah panggilan membuat anisa juga lelaki itu beralih melihat nya. Lelaki itu memasukan kembali pisau lipatnya lalu berjalan menjauhi Anisa. dia mengurungkan niatnya malam ini.
"lama tak bertemu."
"dilan, hai.. apa kabar.?" sapa Anisa. dilan adalah lelaki yang Anisa kenal. dia mengenalnya karena Minggu lalu tak sengaja bertemu dengannya saat jalan-jalan bersama alpin.
"baik. kau mau pulang.?" tanya dilan. mata dilan melihat lelaki tadi berjalan memasuki toko roti. dia sangat tahu dengan jelas siapa lelaki itu. tapi tak tahu kenapa dia seperti ingin melukai anisa.
dilan memang sedari tadi ada disekitar sini, erick menyuruh nya untuk mengawasi Anisa selamat sampai pulang kerumahnya. tak menyangka dia akan melihat semua ini.
"iya, tapi seperti nya sangat sulit mencari taxi di sini."
"kalau kau mau, aku bisa mengantarmu. hanya saja naik motor." ujar dilan. dia memang hanya punya kendaraan ini.
"mm..iya. tak apa." jawab anisa.
mereka pun segera naik ke atas motor dan meninggalkan tempat itu. dilan tersenyum seraya melambaikan tangan nya pada anisa.
Anisa tak pulang kerumah karena ingin menemani Rahma di rumah sakit.
dilan merogoh sakunya mengambil ponselnya .
"Anisa sudah sampai dengan selamat bos. dan ada sesuatu yang menarik yang harus kau tahu.. Erick."
dilan tersenyum begitu mendengar Erick menyuruhnya untuk terus mengawasi anisa secara diam-diam.
"bukankah kau ingin aku mengawasi gerak-gerik Alpin. kenapa sekarang menjadi Anisa."
gumam dilan begitu panggilan nya terputus.
dilan teringat dengan lelaki yang di lihat nya tadi. dia harus menemui nya sekarang, untuk menanyakan apa yang akan dia lakukan tadi.
kenapa ingin menyakiti Anisa. permainan apalagi yang sedang terjadi ini.