
'Apa maksudnya?' Sania mulai kembali berpikir lagi dan dia baru mengingat saat ada sebuah cahay sebelumnya yang datang dan memperlihatkan kejadian sebelumnya.
Kejadian itu adalah saat Sania terjatuh, dan ia melihat saat itu Hana menangisi dirinya yang tengah berbaring di tanah, tidak lama kemudian ia masuk terseret ke dalam dimensi tempat ia berada sekarang.
'Apa mungkin?' matanya Sania membulat saat mengingat dan terkejut saat dia mengetahui sebenarnya, "Iya, tebakanmu memang benar Sania" kata Dewi kelinci tersebut, Sania lalu menengok ke arah Dewi kelinci dengan mata melotot.
'Kenapa dia bisa tau apa yang sedang aku pikirkan?' Sania berpikir demikian karena Dewi kelinci seolah menjawab yang ia pikirkan barusan, "Aku mengetahui semua pikiran orang yang sedang berada disini, mereka semua tidak bisa menyembunyikan dariku apapun itu!" tuturnya.
Lantas itu pun mengejutkan Sania ia tidak bisa berkata-kata dan terus memandangi Dewi kelinci yang sedang melayang membelakangi dirinya, "Lalu bagaimana untukku bisa kembali ke bumi?" Sania langsung bertanya kepadanya.
Dewi kelinci berbalik ia menunduk dan tetap melayang di hadapan Sania, "Tunggulah, tunggu beberapa hari disini bersama rekan-rekan yang lain" ucapnya, Dewi kelinci menyentuh dagu Sania dengan beberapa jarinya.
"Hanya beberapa hari saja?" Sania bertanya kembali kepadanya untuk kejelasan berapa hari dia disini, "Iya hanya beberapa hari, jika kamu beruntung kamu bisa di jemput dengan cepat oleh gagak yang selalu bersamamu" ucapnya.
"Maksudmu Adhyasta?" Sania menebak siapa gagak tersebut, dan Dewi kelinci mengisyaratkan iya ke Sania "Bagaimana dia bisa sampai disini?" Sania kembali bertanya lagi.
"Entahlah tetapi lihat saja nanti apa yang akan dia lakukan nantinya" tuturnya lagi, dan lagi-lagi itu membuat Sania merasa bingung dengan perkataan dari Dewi kelinci, dan ia kemudian berbalik badan berjalan menuju pintu keluar.
Seketika juga ada dua ekor burung yang menghampirinya dari belakangnya dan mencoba membantunya sama seperti saat Sania di pandu ke dalam ruangan Dewi kelinci.
Sampai di luar Sania bertemu dengan semua generasi yang pernah memegang bola cahaya miliknya sebelumnya, ia berbaur dengan yang lainnya "Hei, apakah aku boleh bertanya?" Sania menegur seseorang yang berada tepat di depannya.
"Iya ada apa? kamu mau tanya apa?" Wanita yang Sania tegur itu menjawabnya dengan senyuman di wajahnya, "kamu disini udah berapa hari?" Sania menanyakan keberadaan wanita tersebut.
"Aku baru saja mau setengah hari disini" jawabnya, dan jawaban itu membuat Sania bingung "Memangnya kamu waktu kesini baru ya?"
"Nggak aku udah lama banget, kenapa kamu nanya begitu apa kamu ada hal yang ganggu kamu?" wanita itu kemudian berbalik bertanya ke Sania, "Aku bingung dengan wanita yang berada di dalam tadi, dia bilang harus menunggu berhari-hari kalau mau kembali ke bumi" tutur panjang Sania.
"Oo aku ngerti kenapa kamu nanya begitu sama aku, sebenarnya satu hari disini itu bisa sampai satu bulan di bumi memangnya kamu nggak di kasih tau ya tadi di dalam?" ucap Wanita itu "Oh iya yang di dalam itu Dewi kelinci, dialah yang memiliki bola cahaya yang saat ini ada di punggungmu" imbuhnya.
Sania terkejut saat mendengar Dewi kelinci, ia pernah mendengar seperti yang di ucapkan Adhyasta, "Dewi kelinci? tapi kenapa dia ngasih bola cahaya ke manusia? apa dia nggak bisa ngelanjutin diri sendiri? kalo di lihat dari bentuknya dia sepertinya abadi?" Sania kembali dengan sejumlah pertanyaan kepada Wanita itu.
"Jadi begitu ternyata dia menarik semua yang pernah menguasai beberapa bola cahaya miliknya, kalau sudah beberapa hari di sini baru bisa balik lagi ketubuh yang sebenarnya" Sania mulai mengerti.
"Kamu tadi datang ada dua ekor burung yang mengahampirimukan? itu adalah mereka yang tidak bisa selamat di bumi dan akhirnya mereka beruba menjadi anak buah Dewi kelinci, kalau kamu bisa kembali ke bumi kamu masih di kategorikan selamat" kata Wanita itu.
"Jadi yang di dalam itu ternyata seperti kita?" Sania terkejut lagi saat mendengar hal tersebut dan Wanjta itu juga mengangguk, "Iya sudah banyak yang menjadi burung merpati ada juga yang memang tidak ingin kembali ke bumi jadi mereka sepenuhnya dan selamanya tinggal disini" ucap Wanita itu lagi.
"Kalau boleh tau mereka bisa jadi burung seperti itu asal usulnya dari mana?" lalu seketika Wanita itu diam dia tidak menjawab pertanyaan Sania barusan.
"Lho kenapa?" Sania bungung mengapa Wanita itu diam ketika Sania bertanya seperti itu, "Aku juga tidak tau asal mulanya dari mana yang aku tau seperti yang aku katakan sebelumnya" jawabnya.
Setelah itu Sania kemudian berbaur dengan yang lainnya ia menanyakan sudah berapa lama mereka tinggal tempat ini dan pertanyaan lainnya yang di lontarkan Sania ke pada teman-teman barunya.
Sania sambil menunggu hari berlalu tetapi ia rasa hari tidak cepat seperti biasa di bumi ia merasa kalau di tempatnya sekarang waktu sangat lama sekali walau ia sudah menunggu tetapi mataharinya masih saja di atas dan tidak bergerak turun.
"Kok aneh sih perasaan aku udah lama banget disini deh, tapi kenapa belum juga malam" ucapnya sambil memandang ke arah langit, "apa benar kata orang itu kalo disini sehari bisa sampai di bulan di bumi?" katanya. "kalo begitu aku harus nunggu beberapa hari disini biar bisa kembali ke bumi?"
Sania kemudian merasa bimbang dan terus perpikir seperti itu ia ingin sekali kembali ke tempat dirinya sebelumnya bertemu Hana dan yang lainnya.
************
Sudah tiga hari semenjak jatuhnya Sania dari gedung yang terbengkalai itu Hana masih tetap menunggu adiknya yang sedang dalam perawatan, Hana terus memandangi adiknya dari kursi dekat tempat tidur Sania.
Hana sudah tidak menangisi keadaan adiknya saat ini iya sudah menerima kejadian itu, yang Hana ingin kan hanya Sania kembali sadar dan kembali bersama dirinya lagi. Kecerobohan Hana mendengarkan adiknya waktu itu membuatnya sangat merasa bersalah karena ia mendengarkan Sania.
Hana terus memegangi tangan adiknya, tangan yang di penuhi selang infus dan juga beberapa orang tubuh milik Sania yang di beri peralatan medis, "Sania kamu harus bangun, jangan tinggalin kakak ya, nanti kakak sendirian dirumah!"
Hana terus berbicara sendiri ia masih saja merasa bersalah kalau ia mengingat kejadian tiga hari sebelumnya dan juga saat memandangi adiknya, matanya berbinar dan terkadang berlinang air mata hingga jatuh kelantai.