
Di dalam sekolah saat mereka belajar terdengar suara ramai-ramai di depan sekolahnya entah suara apa itu, banyak juga kendaraan yang berhenti untuk melihatnya.
Ada ambulan juga disana yang tengah berhenti di sebuah jalan berdekatan dengan toko milik Utari, banyak juga orang-orang berkerumunan disana.
Seolah ada seseorang di antara kerumunan itu, saat istirahat sekolah Sania melihat dari lantai dua sekolahnya, Ia melihat banyak sekali orang-orang di jalanan itu. 'ada apa disana?' pikir Sania saat melihat itu.
Sania langsung memanggil Lisa yang berada di dalam kelasnya, "Lis! Lisa! sini?" kata Sania, Lisa melihat Sania yang sedang serius seperti itu. 'kenapa Sania?' lau Lisa berjalan mendekatinya.
"Kenapa Nia?" ... "Itu disana ada kerumunan orang!" Sania menunjuk ke jalan. "Eh iya! disana ada apa ya!" kata Lisa. Widia dan Febby mendekat dari dalam kelas mereka.
"Ada apa Lis, Nia? kok kalian keliatan serius gitu!" ucap Widia dari belakang mereka. "Itu Wid, rame-rame kayaknya ada yang kecelakaan deh!" kata Lisa.
"Iya lho, pantesan dari tadi aku juga denger suara ambulan di luar" kata Febby, "Siapa ya yang kecelakaan disana" kata Widia mereka semua memandang ke arah keramaian itu.
Sania diam dan berharap dugaannya itu salah, 'aku yakin itu bukan kak Utari' saat mereka sedang melihat dari kejauhan bel sekolah pun berbunyi bertanda masuk jam pelajaran berikutnya.
Semua siswa pun masuk ke kelasnya masing-masing.
***********
Tidak lama mobil ambulan itu pun pergi membawa seseorang di dalamnya entah siapa seseorang itu Sania pun masih belum memastikannya. Di kerumunan itu juga ada seorang nenek-nenek yang tengah duduk disana.
Nenek itu juga tampak bersedih ia terlihat syok dan sedang menangis disana, seseorang mencoba menolong nenek itu untuk tenang, tetapi nenek itu tidak mendengarnya ia terus seperti itu.
Lalu lintas yang macet karena kejadian kecelakaan itu dan polisi tengah mengaturnya kembali, semuanya berjalan kembali normal sementara ada salah seorang polisi juga yang mencoba membujuk nenek-nenek tersebut.
setelah beberapa lama nenek-nenek itu pun mulai tenang dan sudah tidak seperti sebelumnya terlihat syok dan juga ia berhenti menangis. Namun ia masih ketakutan karena kecelakaan itu.
Waktu pun berjalan begitu cepat tidak terasa Sania dan teman-temannya pun keluar dari sekolahnya bel sekolah pun sudah berbunyi mereka semua pun pulang ke rumah masing-masing.
Saat sampai di depan gerbang Sania tidak lepas dari pandangannya ke sebrang jalan, ia terus memandang ke sana, lalu Sania mencoba mengajak teman-temannya untuk melihat ke arah sebrang jalan.
Jalanan begitu ramai saat itu mereka berdua bersiap-siap untuk berjalan namun masih ragu karena takut kendaraan yang ramai, sementara ada polisi lalu lintas yang berada di tengah jalan yang sedang mengatur lalu lintas jalanan.
Ia melihat 4 orang siswi yang ingin menyebrang jalan lalu ia mencoba menolongnya, saat tiba di depannya polisi itu pun meraih lengan milik Sania dan mencoba mengajaknya menyebrangi jalan bersama dengannya.
"Kak Utari!!" seru Sania sedikit panik, "Kak!!" namun tidak ada jawaban dari dalam tokonya, tetapi tokonya masih buka, "Lho kak Utari sih kemana?" ucapnya ia lalu berjalan masuk ke dalam tokonya.
"Kak!" kata Sania lagi, namun masih tidak ada jawaban darinya. Ia kemudian keluar dari toko milik Utari, "gimana Nia? kak Utari ada?" Lisa langsung bertanya saat Sania keluar dari dalam tokonya.
Sania pun bergeleng, lalu Sania mencoba bertanya kepada seseorang yang berada disana, "permisi pak! mau tanya, bapak lihat orang yang jualan di toko ini nggak?" tanyanya, seseorang itu pun menjawab tidak tau karena ia juga baru datang dan langsung menuju ke ramaian tersebut.
Dari beberapa orang disana tidak ada yang tau kemana perginya Utari disana, orang-orang juga tidak tau itu kecelakaan apa, Sania disana juga mulai panik ia mulai merasa takut. "Kemana sih perginya kak Utari!!" ucapnya kesal.
Teman Sania yang berada di belakang dirinya mencoba menenangkan dirinya yang dirundung kekesalan dan kegelisah itu, "Udah Nia tenangin dulu aja, mungkin dia lagi keluar sebentar!" kata Lisa.
Lalu teman-teman Sania membantu Sania Widia dan Febby bertanya-tanya ke seseorang di sekitarnya, dan ia mendapatkan jawabannya dari seorang polisi yang membantu nenek-nenek sebelumnya.
"Permisi pak! apa bapak lihat seorang gadis yang jualan di toko ini?" Widia menghampiri polisi tersebut dan langsung menanyainya. "O iya perempuan yang jualan di toko ini, ia baru aja di bawa ambulan" ucapnya.
Sania yang mendengar itu pun ia dengan reflek berdiri, "Di bawa ambulan pak? emang dia kenapa?" Sania langsung bertanya, ia mulai merasa tidak tenang mendengarnya.
"Iya dia sebelumnya menyelamatkan seorang nenek-nenek yang mau menyebrang jalan, saat itu nenek-nenek itu sebeneranya tidak ada yang di khawatirkan, tetapi ada sebuah mobil melaju kencang dan seseorang wanita itu menyelamatkannya" ucapnya.
Sania mulai mengerti tentang penjelasan dari polisi tersebut walau belum begitu jelas, Ia kemudian berjalan menghampiri nenek itu ia berada di dekat mobil polisi.
"Itu neneknya ya pak?" Sania menunjuk ke arah nenek itu, "Iya itu neneknya, syukur dia di selamatkan oleh wanita baik" Sania menuju ke arahnya.
Sania memandangnya lalu ia duduk di depan nenek tersebut, "Nek?" sapa Sania dengan pelan, namun nenek itu diam terlihat ia masih sedikit syok, "maaf dek! untuk sementara neneknya jangan di ganggu dulu!" kata polisi itu ia mendekat ke Sania.
"Dia masih syok dengan ke celakaan tadi jadi sebaiknya dia jangan di dekati dulu!" Sania pun mendengarkan kata polisi itu, ia berjalan mundur kemudian berbalik badan meninggalkan nenek itu.
"Pak mau tanya! tadi yang nyelamatin nenek itu apa dia juga selamat maksudnya dia nggak kehilangan nyawa kan?" kata Sania. Polisi itu menjawab pertanyaan Sania "dia tidak kehilangan nyawanya dia masih sadar!"
Mendengar hal itu Sania merasa lega dan sedikit tenang, ia tidak lagi terlalu cemas. "Nia! ayo kita pulang!" kata Lisa ia mencoba mengajak Sania pulang. Sementara Widia dan Febby yang berada di dekat Sania pun hanya diam.
Mereka tidak mengerti apa yang di lakukan Sania disitu dan siapa Utari itu, "Iya Sania kita pulang yuk!" Febby juga mengajak Sania untuk pulang. Sania mengangguk ia menurutin permintaan teman-temannya.
Tetapi saat mereka akan meninggalkan lokasi kecelakaan itu Sania memandang ke arah area tempat Utari tertabrak.