
Sampai di rumah Sania segera menemui Hana di dalam, Hana di dalam sedang bersiap untuk pergi Sania pikir Hana sudah pergi duluan meninggalkannya dan ternyata Hana masih belum pergi.
"Maaf ya kak aku telat!" ucap Sania saat masuk rumahnya. "Iya nggak apa-apa kakak juga belum pergi!" sahut Hana ia kemudian mengemasi barang yang akan di bawanya.
Hana pergi sampai besok, jadi Sania di izinkan ikut bersamanya. Hana akan pergi ke rumah sahabatnya yang akan mengajaknya pergi berkunjung ke tempat-tempat nasional.
Kebetulan besok adalah hari minggu jadi Sania bisa ikut bersama Hana seharian lebih hingga pulang besok. Sania juga masih belum tau kemana Hana akan pergi.
Ia hanya khawatir dengan Hana, sebelumnya yang Sania lihat adalah aura berwarna merah pekat. "Kak aku udah siap!" seru Sania dari depan pintu kamar Hana.
"Iya, tunggu sebentar ya!" sahut Hana di dalam kamarnya. "Kak kita mau pergi kemana ya?" Sania kemudian menanyai hal yang membuatnya penasaran dirinya.
"Cuma ke rumah teman kakak kok!" Hana keluar dari kamarnya. "Oo, Aku boleh ikut kan?" tanya Sania. "Boleh kok!"
Mereka berdua lalu keluar dan menutup rapat pintu depan dan menguncinya. Sania melihat dari punggu Hana masih nampak jelas warna aura pada diri Hana.
Merah pekat yang semakin melebar semakin nampak jelas. Sania bingung dengan warna itu, yang ia lihat sebelumnya tidak ada warna seperti itu. Sania lalu khawatir tentang Hana yang akan pergi dengan membawa warna aura itu.
"Ayo Sania" Hana berjalan lebih dulu di depannya. Sania mengikutinya dari belakang, mereka berhenti di pinggir jalan untuk mencari mobil, Hana mencari mobil taksi agar lebih cepat ke tempat tujuannya.
Sania berdiam diri di dekat Hana, ia merasakan ada hal lain di dekatnya lalu Sania tidak sengaja menoleh ke belakangnya, ada Cheryl disana yang tengah berdiri menatap Sania.
"Lho Cheryl!!" seru Sania. "Kamu kemana aja? aku udah lama nggak liat kamu akhir-akhir ini!" ucap Sania. "Ada apa Nia?" Hana mendengar Sania berbicara sendiri di belakangnya.
Sania lalu menoleh ke Hana "nggak kok kak, cuma ada temanku!" Sania menjawab Hana. "Siapa?" tanyanya. "Cheryl kak!"
"Oo, kenapa dia Sania?" ... "Nggak tau, dia tau-tau muncul di belakang aku!" kata Sania. "Kak!!" Seru Cheryl dari belakang. Sania langsung menolehnya. "Aku rasa hari ini aku bakalan balik ke badan aku deh!!" ucap Cheryl.
"Hah!! syukur deh.." jawab Sania. "Pantesan kamu hari ini keliatan terang banget ternyata kamu mau balik ke badan kamu" kata Sania ia merasa senang Cheryl akan kembali hidup normal.
Tapi bukan kebahagiaan yang tampak pada diri Cheryl, ia merasa sedih karena ia tidak akan bertemh dengan Sania lagi. "Kamu kenapa?" kata Sania.
"Aku cuma takut nanti nggak bisa ketemu kakak lagi!" tutur Cheryl. "Ya udah nggak apa-apa, kan kamu bisa ketemu balik sama ibu kamu!" ucap Sania.
Sania lalu seketika ingat dengan ayah Cheryl yang di tangkap kemarin di bank samping dekat rumah sakit. "Kamu tau nggak!" ucap Sania. "Apa kak?" kata Cheryl.
"Kan kamu bilang sendiri itu komplotan ayah kamu sama yang lainnya!" kata Sania. "Iya, aku waktu itu denger mereka ngomong di rumah tua itu!" kata Cheryl.
"Bapak kamu di tangkap!" ucap Sania. Mendengar yang di katakan Sania barusan Cheryl langsung tertunduk. Ia juga merasa kesal dengan yang di lakukan ayahnya, ia juga yang ingin Sania melaporkan ke polisi.
Tapi Cheryl merasa sedikit terpukul karena ayahnya di tangkap, yang ia ingin kan adalah ayahnya berhenti merampok, memang benar saat ini ayahnya berhenti merampok tetapi ia sekarang sudah berada di penjara berasama rekannya.
"Sania ayo!" kata Hana yang baru saja memberhentikan mobil. Sania menoleh ia kemudian menurunkan badannya ke Cheryl. "Ya udah kamu nggak usah ngerasa sedih gini, Kakak pergi dulu ya!" kata Sania ia sekalian menenangkan Cheryl.
Sania kemudian masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Cheryl yang tengah berdiri sendirian di sana. Setelah mobil yang di tumpangi Sania melaju Cheryl pun menghilang. Sania melihatnya dari dalam mobil.
"Apa katanya Nia?" Hana pun ikut penasaran dengan Sania, "Cheryl sebentar lagi mau sembuh!" ucap Sania. "Oo, berarti yang kemaren kamu ke rumah sakit itu jenguk dia!" kata Hana.
Sania mengangguk. "Iya, tapi kemaren aku waktu lewat keluar dari gedung yang mau kakak kesana aku sebelumnya ngerasain aura orang-orang!" kata Sania.
Ia mengingat saat akan ke kamar Cheryl. Sania melihat aura milik orang-orang. Dan ternyata sebelah gedung milik Cheryl di rawat adalah gedung yang mengalami kebakaran. Saat Sania akan pulang dan lalu ia bertemu Hana.
Ia sudah melihat gedung itu terlebih dahulu, disanalah Sania melihat banyak sekali aura hitam pada orang-orang.
Sania menjelaskan secara rinci kepada Hana tentang yang ia lihat kemarin di rumah sakit, Hana kemudian paham mengapa Sania menghentikan langkahnya untuk menuju gedung kemarin.
"Tapi kakak udah ketemu sama teman kakak kok! dia kemaren katanya lagi di deket gedung itu!" ucap Hana. "Syukur deh, dia nggak ngalamin kecelakaan kan kak!" tanya Sania. "Nggak kok, dia aman disana! dia lari ke arah kakak kebetulan kakak lihat jadi kakak langsung sapa dia!" ucap Hana.
Sania kemudian bercerita lagi ke Hana tentang selama ini yang ia lihat, Hana sebenarnya penasaran dengan Sania yang memiliki kemampuan seperti itu, tapi Sania selalu pergi sendiri bersama temannya.
Akhir-akhir ini juga Sania sering melihat kejadian sebelum orang-orang mengalami hal yang belum terjadi. "Tadi ada mobil kecelakaan nggak kak!" kata Sania ia ingat tadi pagi ia melihat mobil bus yang melaju kencang.
"Nggak tau deh! tapi tadi kakak lihat di depan ada rame-rame!" kata Hana. 'berarti bener yang aku lihat tadi pagi, terus ambulan juga tadi lewat waktu aku udah di sekolah' kata Sania dalam pikirnya.
"emang ada apa? kamu tau tentang kecelakaan itu?" Hana kemudian penasaran kembali yang di katakan Sania barusan.
Sania mengangguk, ia menatap Hana "Aku lihat mobil itu penuh aura!" ucap Sania. 'lagi-lagi aura buruk yang selalu Sania lihat, apa dia ikut aku karena aku karena aura juga? ahh nggak mungkin pasti ada alasan sendiri Sania ikut aku' dalam pikiran Hana kemudian bertanya-tanya demikian.
Hana menatap Sania dengan keseriusan yang ia harap adalah tidak terjadi apa-apa dengan Sania ikut bersamanya.