Sania Anak Indigo

Sania Anak Indigo
69. Sesosok Wanita


Sania pun segera pulang dan meninggalkan tempat itu karena badai dan hujan datang, Sania segera berlari. Sampai di rumah, Sania segera masuk dan mengganti pakaiannya yang basah.


"Lho Sania, kamu dari mana?" kata Hana melihat Sania tengah mengganti pakaiannya. "Aku abis dsri luar kak!" jawabnya.


Setelah mengganti pakaiannya Sania segera masuk ke dalam kamarnya, ia melihat ke arah jendela banyak sekali angin di luar di tambah hujan yang sangat lebat, ada juga petir yang tidak begitu menggelegar.


"Lebat sekali hujannya!" kata Sania memandang ke arah luar jendela. Sania lalu duduk di atas kasurnya, ia menguap dan merasa ngantuk. "Aku ngantuk, capek sekali hari ini!" ucapnya.


Ia seketika langsung berbaring di atas kasurnya, perlahan-lahan ia mulai terpejam matanya dan mulai tertidur pulas, sore itu sangatlah lebat hujan dan juga badai yang sangat kencang.


Banyak sekali daun dan benda dari tanah terbang naik tersapu oleh badai, Tiba-tiba ada sebuah petir yang menyabar terdengar sangat kuat sekali.


Duaarrrr!!... Sania pun terbangun dari tidurnya ia terkejut mendengar suara petir yang menyambar itu, Matanya membelalak karena sangat terkejut mendengarnya.


"Petirnya besar sekali suaranya!" ucapnya, ia lalu melihat ke arah luar ke jendelanya. "Masih hujan lebat, ada apa ya!" ucapnya lagi. "Ahh mungkin perasaan aku aja kali yang aneh!" ucapnya lagi.


Sania merasakan hal yang tidak beres dengan cuaca di luar ia merasakan hawa yang tak biasa, udara yang masuk ke dalam kamar Sania lewat fentilasi udara meniup dinginnya udara di luar, udara mengenai Sania merasakan dinginnya udara tersebut.


Namun bukan karena udara yang dingin Sania juga merasakan dingin yang tidak biasa di dalam kamarnya. 'Dingin ini' dalam pikirnya ia merasakan hal yang tidak beres, 'aku tau dingin ini' ia mencoba berpikir tenang saat merasakan dingin tersebut.


"Ah! sudahlah, mungkin hanya perasaan aku saja!" ucapnya dan berusaha berpikir tenang, Sania kemudian segera duduk, ia kemudian memandang ke arah luar, dan ia mengalihkannya ke arah jam waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, ia tertidur sudah 90 menit.


'hah? perasaan aku baru aja tertidur, kenapa sudah jam segini?' pikirnya, ia mulai merasa heran melihat ke arah jam dindingnya itu. "Kok aneh sih!" ucapnya. "Aku yakin aku baru aja tidur, kenapa udah jam segini." ucapnya lagi.


Sania mulai merasakan hal aneh lainnya lagi, 'bener deh sekarang aneh banget!' pikirnya lagi. Ia lalu beranjak dari tempat tidurnya, ia tidak sengaja melihat di luar jendelanya ada sesosok seorang Gadis tengah berdiri di dekat jendelanya.


Wanita itu mengenakan Dress berwarna pink dress itu terlihat sedikit kotor dan juga tangannya membawa tas yang warnanya sama dengan bajunya, Sania sempat berpikir bahwa mungkin itu hanya seseorang yang menumpang meneduh di dekat jendela kamarnya, karena posisi dari Wanita tersebut membelakangi Sania.


Lalu Sania tidak lagi melihat ke jendelanya, tetapi Saat Sania mulai berjalan ke arah pintu kamarnya dan akan membuka pintunya, ia melihat ke arah jendela lagi, tetapi Wanita itu sudah tidak ada lagi disana, 'lho perasaan tadi dia masih disana!' dalam benak Sania mulai bertanya-tanya keberadaan seseorang yang berdiri di jendelanya.


Sementara ia memperhatikan di luar itu hujannya masih sangat lebat dan badai pun masih sangat kencang, tetapi masa iya dia pergi dengan cuaca yang tidak baik begitu. Pikir Sania saat melihat cuacanya.


Tetapi setelah memeriksa ternyata Wanita itu memang sudah tidak berada disana. Sania mulai terdiam ia mulai merasa aneh dan bingung. 'itu tadi wanita kan! apa mungkin aku salah lihat karena aku baru bangun dari tidur?' Sania mulai berpikir dan bertanya ke dirinya sendiri.


'tapi aku yakin dia tadi berdiri disini, masa dia berani pergi melawan hujan badai yang sangat kencang begini!' Sania mulai berpikir yang aneh, ia merasa sangat tidak wajar jika di perhatikan ada seseorang yang berani melawan badai.


Ia kemudian berjalan meninggalkan jendela dan menuju pintu kamarnya ia akan keluar untuk menemui Hana, tetapi saat ia akan keluar dari kamarnya ia merasakan udara dingin lagi. Seketika ia akan membuka pintu dan sudah memegang handel dari pintu.


Ia pun mulai terdiam saat merasakan udara dingin tersebut. 'Dingin lagi!' dalam pikir Sania, kemudian ia langsung menoleh ke arah belakangnya dan tidak ada apapun yang ia lihat saat itu, "Nggak ada apapun!" kata Sania.


"Ahh mungkin ini cuma perasaanku aja kali!" ucapnya. Lalu ia membuka pintu kamarnya dan meninggalkan kamarnya, Setelah Sania berada di luar kamarnya dan sudah menutup pintu kamarnya tiba-tiba ada sesosok wanita yang sebelumnya di luar jendelanya.


Ia berdiri di balik pintu kamar Sania, dengan rambut yang sedikit menjuntai ke bawah rambut tersebut menutupi wajahnya sehingga tidak nampak sedikitpun wajah dari wanita tersebut.


Sania tidak menyadari dan belum melihat sosok itu sudah ada di kamarnya karena saat Sania sudah berada di luar wanita itu juga baru saja masuk ke kamar milik Sania.


Wanita itu berdiri diam di balik pintu kamar Sania, dengan warna kulit yang sudah pucat, ada sedikit bercah dari di lengannya bajunya juga sedikit kotor, penampilan yang tidak biasa jika di lihat, apa lagi Sania belum pernah melihat sesosok wanita seperti ini yang sangat menyeramkan.


Hujan juga mulai mereda tetapi kilatan petir masih begitu banyak di luar, dinginnya udara di luar juga membuat isi rumah juga menjadi dingin.


Sania menemui Hana yang tengah berada duduk di meja makan, "Kak!" sapaan dari Sania ia langsung duduk di dekat Sania.


"Hei! kamu baru bangun?" kata Hana yang sebelumnya saat Sania tidur Hana membuka pintu kamar Sania dan memeriksanya.


"Iya kak!" kata Sania, Hana kemudian menawarkan segelas teh hangat ke Sania, "Kamu mau teh?" Hana menawari Sania. Sania langsung mengangguk dan menjawab "Iya kak,"


Hana lalu beranjak dari kursinya dan membuatkan adiknya segelas teh hangat untuk Sania, Sania yang tengah duduk di meja makan itu ia merasakan dingin yang berbeda dari kamarnya, 'dingin di sini kok beda dari kamarku' pikirnya.


'apa mungkin sebelumnya karena pengaruh dari badainya?' Sania mulai memikirkan sesuatu yang tidak-tidak. 'tapi yang aku masih pikirin itu wanita itu perginya kemana?' pikirnya lagi.


'apa dia itu hantu?' Sania langsung menduga-duga akan hal tersebut pasalnya Sania juga merasa aneh jika di pikirkan ulang kalau wanita itu benar-benar manusia dia pasti akan tinggal diam di sana menunggu badainya reda.