Sania Anak Indigo

Sania Anak Indigo
34. Kesedihan Ibu Cheryl


"boneka itu enggak terlalu besar kak, aku yakin dia ada disini" ucap cheryl nampak sedikit panik dari raut wajahnya dan biji matanya nampak sedang melirik-lirik mencari keberadaan boneka miliknya.


"memang boneka seperti apa yang kamu maksud?" tanya sania penasaran dengan boneka milik cheryl.


"itu boneka chipmunk bawa buah kenari, pemberian dari ayah aku" kata cheryl kemudian matanya berbinar-binar ingin menangis.


sania melihatnya sedang dalam kesedihan merasa tidak tega lalu dia pun mencoba menenangkan cheryl yang sedang bersedih dan nampak kacau.


"nanti kakak pasti bantu kok tapi jangan bersedih begitu ya, kita temuin ibu kamu dulu yuk" ucap sania, mendengar perkataan sania cheryl pun mengusap air matanya itu kemudian pun segera mengajak sania untuk ke rumah sakit.


"nah gitu, kan jadi cantik" ucapan menghibur dari sania untuk cheryl, dia pun langsung tersenyum jenaka ke arahnya.


"ya udah ayo kita pergi, ini udah mulai siang" kata sania melihat ke arah terik matahari dan melihat jam tangannya yang nampak pukul 9 pagi.


"ya udah ayo kak, kita ke rumah sakit imanuel" kata cheryl memberitahu dimana dirinya berada.


"oo, rumah sakit itu kakak tau kok itu enggak begitu jauh" kata sania. lalu mereka pun berjalan sekitar 5 meter dari tempat kecelakaan itu dan menyebrangi jalan.


setelah mereka di sebrang jalan sania mencari kendaraan untuk di naikinya dan mobil bus pun terlintas di hadapannya lalu dia pun segera menghentikan bus yang sedang berjalan santai itu, setelah bus berhenti dia segera menaiki bus itu.


"permisi pak, busnya lewat ke rumah sakit imanuel enggak?" tanya sania ke kondektur bus. "oo, lewat kok kebetulan disanakan ada haltenya di dekat rumah sakit itu" ucap kondektur itu. mendengar apa yang di katakan kondektur itu sania merasa senang kemudian bus yang sedang berhentipun segera jalan dan melaju ke arah terminal bus mentari yang satu arah ke rumah sakit tujuan sania.


setelah sania pergi pria hitam itu pun muncul di dekat tempat kecelakaan itu dan melihat sania yang sedang pergi dengan anak kecil itu, sesaat dia pun menghilang dan mengikuti sania pergi.


bukan hanya pria hitam itu yang mengikuti sania namun hana yang mengikuti secara diam-diam sedari sania pergi dari rumah.


setelah tau sania pergi hana pun menyusulnya ketempat dia akan tuju, "semoga enggak terjadi apa-apa" ucap hana perlahan.


lalu dia mencari taxi untuk mengikuti mobil bus yang di tumpangi sania tadi, sekitar berjarak hampir 50 meter dari hana mobil bus yang di tumpangi sania pun terlihat olehnya.


"pak ikutin mobil bus itu ya" ucap hana menunjuk ke arah bus yang dia maksud. "siap mbak" ucap sang supir yang melihat mobil bus tersebut.


************


setelah beberapa lama menaiki bus sania turun di halte dekat rumah sakit imanuel itu, lalu dia pun segera masuk ke rumah sakit.


"permisi sus, dimana kamar pasien yang bernama cheryl" sania menanyai ke salah satu suster yang ada di pintu depan.


"oh mohon maaf, untuk tentang itu silahkan tanya di bagian informasi di sebelah sana" ucap suster tersebut menunjukan ke arah kanannya. kemudian sania segera kesana ke tempat yang di arahkan suster tadi, dan dia menanyai ke tempat informasi tersebut.


"permisi sus, kamar pasien yang bernama cheryl dimana ya" tanya sania ke pusat informasi. "untuk pasien dengan nama cheryl ada di ruangan 303" kata suster itu dan sambil mengarahkan sania ke tempat ruangan itu berada.


"terima kasih sus!" ucap sania dia pun segera pergi ke tempat cheryl yang sebelumnya di beritahukan oleh suster.


dengan jalan yang sedikit santai dia masih saja melirik ke arah pria itu, setelah beberapa langkah dia berjalan kemudian dia pun kembali meneruskan langkahnya yang sepat melambat tadi.


pria itu sedikit sadar jika sania memperhatikannya sekilas, namun dia tidak begitu peduli dengan sania. saat sania berada sedikit jauh darinya dia pun berbalik badan dan memandangi sania dari tiang di tempat dia berdiri.


saat sania sedang berjalan membelakangi pria itu, sania merasa dirinya sedang di perhatikan, kemudian dia menengok ke arah belakangnya.


saat dia menengok pria yang sebelumnya berdiri di tiang itu pun sudah tidak ada lagi disana, sania melongak-longok ke kiri dan kanannya namun tidak ada siapa-siapa.


kemudian dia pun berbalik arah dan melanjutkan lagi ke kamar cheryl.


**********


"kemana tadi sania perginya" ucap hana di halte tempat sania turun sebelumnya, hana melongok ke dalam area rumah sakit itu berharap melihat sania adiknya.


Setelah itu hana pun ikut masuk ke dalam rumah sakit tetapi dia masih belum melihat jejak adiknya yang pergi ke arah mana sebelumnya.


***********


Tok tok... Kreekkk...


Sania membuka pintu kamar cheryl dan di sana ada seorang wanita yang sedang menunggu cheryl.


dia memegangi tangan cheryl dan mengusap-usapnya dia meletakan tangan milik cheryl ke pipi wanita itu dan dia berharap anaknya cepat pulih.


sania yang melihat wanita itu pun merasa kan apa yang dia rasakan terlihat matanya yang begitu lelah dan juga terlihat sebab karena menangis terlalu banyak.


kemudian sania mencoba mendekat ke arag wanita itu perlahan-lahan dia melangkah namun nampaknya wanita itu tidak begitu peduli dengan kehadiran sania disana.


sania pun berdiri di samping wanita itu yang sedang duduk meratapi cheryl yang sedang terbaring lemah, sania juga ikut memperhatikan cheryl. "ibu, jangan menangis terus" ucap sania dengan nada lembut.


wanita itu masih saja menangis tidak memperdulikan sania yang sedang berbicara dengannya. "kalo ibu nangis terus, kasihan cheryl dia juga ikutan bersedih" kata sania mengatakan dengan lembut.


lalu setelah sania berbicara seperti itu wanita yang sedang bersedih itu pun menengok ke arah sania. dengan air mata yang mengalir dia menatap sania dengan rasa sedihnya.


"lalu apa yang harus aku lakukan nak" ucap wanita itu sambil menangis dan menahan rasa pilunya itu.


sania tidak menjawab wanita itu dia juga memandangi wanita itu dan juga cheryl. kemudian sania memeluk wanita yang sedang menangis itu.


"sekarang ibu tenang dulu ya" kata sania dalam pelukannya dengan wanita itu.


Wanita itu pun dapat menuangkan rasa pilu itu di pelukan sania hingga dia merasakan sedikit lebih baik dari kesedihannya. lalu dia melepas pelukannya dengan sania dan melihat cheryl kembali yang sedang berbaring itu.