Sania Anak Indigo

Sania Anak Indigo
55. Bunga Semangat!


Seusai sekolah Sania dan Lisa pergi ke rumah sakit tempat Cheryl di rawat. "kita ke toko buah sama bunga dulu!" kata Sania. "untuk Cheryl ya?" jawab Lisa. Sania langsung mengangguk.


"Ya udah kita langsung aja Nia, aku tau di mana tempat jualan bunga yang bagus!" ucap Lisa. "Beneran!!" seru Sania girang. "Iya, kita mau naik bus apa kendaraan lain?" kata Lisa.


"Terserah kamu aja deh, kan kamu yang tau!" ucap Sania. Lisa kemudian sedikit berpikir untuk menaiki apa, bus sekolah juga sedang berada di dekat mereka, setelah berpikir Lisa pun memutuskan untuk pergi menaiki bus sekolah saja.


"Sania, kita naik bus aja deh, biar hemat ongkos!" kata Lisa sambil tersenyum malu. "Oo, oke deh," Sania kemudian langsung ke arah halte dan menaiki bus sekolah. "Kita turun di mana nanti Lis?" tanya Sania.


"Tenang nggak begitu jauh kok, kan di depan nanti ada perempatan, kita turun di dekat situ aja, soalnya yang jualan di dalam!" ucap panjang Lisa.


Setelah mereka menaiki bus kurang lebih 10 menit, mereka langsung mengkode supir bus untuk berhenti. Ting!!.. Ting!!.. Lisa mengetuk bagian besi dekat jendela bus.


"Pak kita turunin sini aja!!" seru Lisa dari kursi belakang. Pak Supir bus melihat Lisa yang sedang berbicara di cermin kaca spion atas itu, dia langsung meminggirkan busnya, di dekat jalan yang Lisa maksud.


"Oke! makasih ya pak!" serunya sambil turun dari bus. Mereka berdua kemudian langsung ke arah kiri perempatan, nampak jalan yang sedikit ramai dan juga banyak gerai yang berjualan di pinggir jalan.


"Disini Lis?" tanya Sania. "Iya, itu tuh di paling ujung ada penjual bunga, kita kesana aja." kata Lisa menunjukkan tempatnya. "Ya udah ayo kita kesana, sekalian kita cari buah, ada yang jual kan?" tanya Sania.


"Iya ada kok, ya udah yuk!" Sania dan Lisa kemudian berjalan di tepi jalan, banyak sekali orang-orang disana, berjualan bermacam-macam, tetapi ini bukanlah pasar. Hanya sebuah jalan yang di penuhi gerai penjualan. Tidak seperti pasar yang ramai orang dan beragam penjualan. Namun di sini penjualannya tersusuh dan di dalam ruko-ruko.


"Siang kak! mau beli bunga ya?" ucapan sapa dari penjual bunga. "Iya kak," jawab Lisa tersenyum. "Ehh Lisa toh, mau beli bunga yang mana Lis?" tanya si pejual bunga. "Mau beli bunga buat orang sakit ada mas?" kemudian Sania pun langsung menanyakan bunga yang mereka ingin bawa tetapi ia tidak tau mau membawa bunga apa.


"Oo, ada dong kak! kita semua ready! mau pilih yang mana? yang cuma berhelai-helai atau yang udah di susun di sebelah sana kalo yang udah disusun." penjual bunga itu menunjukan bunga-bunganya.


"Tapi biasanya orang-orang beli bunga untuk orang sakit itu pake bunga matahari" menunjukan bunga yang berwarna kuning. "kemudian bunga krisan" bunga yang berwarna merah muda. "terus di sebelah kirinya ada bunga anyelir (bunganya juga berwarna merah muda) sama sebelahnya itu yang warna putih bunga aster!" penjual bunga itu menyembutkan satu persatu bunga yang sering di pakai orang-orang untuk memberi semangat sembuh dari sakit.


"Mmmm..." Lisa kebingungan memilihnya. "Yang ini aja deh!" Lisa menunjuk bunga anyelir. "Oo yang itu Lis, mau berapa banyak?" tanya guyon oleh penjual bunga. "Nggak perlu banyak-banyak mas kan cuma 1 orang" jawabnya sambil cengegesan.


Sania kemudian mengambil bunganya yang sudah di susun. "Yang ini berapa mas?" Sania mengangkat bunga anyelirnya. "Itu kalo buat kakaknya aku kasih 75000 aja deh!" ucapnya. "Ya udah mas aku ambil yang ini aja!" Sania memberikan bunga itu ke penjualnya.


"Ini kak bunganya udah siap, udah di bungkus rapi!" kata penjual bunga sambil menyodorkan bunganya. "Makasih ya mas!" seru mereka kompak, Sania langsung membayar bunganya.


"Oke sekarang kita ke toko buah yuk!" Sania langsung mengajak Lisa. "Iya kita cari yang enak di bawa aja!" ucap Lisa. Mereka berdua berjalan balik ke arah perempatan mereka turun tadi.


"Lisa, itu di sebrang ada tukang buah!" seru Sania menunjuk ke tukang buah. "Ya udah, ayo kita kesana!" Mereka berdua langsung menyebrang jalan, kebetulan tidak terlalu banyak motor yang lewat, jadi jalanan tidak begitu padat dengan kendaraan.


"Pak mau buah dong!" kata Lisa. "Yang mana dek, silahkan pilih!" ucap penjual buah itu. "kalo di capur boleh pak?" Lisa menanyakan hal konyol, "mau di capur gimana dek?" Bapak penjual buah itu pun bingung dengan yang di maksud Lisa barusan.


"Maksudnya buahnya kita mau beli 1 kilo tapi di campur-campur boleh pak?" ucap Lisa. "Mau untuk apa dek? kalo di campur-campur begitu bapak belum pernah coba!" ucap Bapak penjual buah itu.


"Nggak apa-apa pak, nanti kita bisa pilih buah yang mau kita beli, soalnya mau buat jenguk orang sakit!" Sahut Sania, saat Lisa dan Bapak penjual buah sedang mengobrol. "Ya udah kalo gitu, mau beli berapa banyak dek!" kemudian Bapak penjual buah itu pun mengizinkannya.


"Beli 1 kilo aja pak!" ucap Lisa. "Boleh kok, pilih aja dek mau yang mana?" jawabnya. Bapak penjual buah menyiapkan kantong kresek untuk mereka memilih buah.


Setelah memilih beberapa buah, mereka memberikannya ke Bapak penjual buah. "Udah pak, coba di timbang dulu!" kata Sania. Penjual buah pun menimbangnya dan mengurangi beberapa buah karena bobotnya sedikit lebih dari 1 kilo.


"Nih dek, udah pas 1 kilo," ucap penjual buah itu. "Oh iya ini pak uangnya!" Sania menyodorkan uang selembar 100.000 ke pada Bapak penjual buah itu.


"O iya dek ini kembalinya!" kata Bapak penjual buah itu. Kemudian Sania memberi kode bahwa dia ingin bapak penjual itu tidak mengembalikan uang kembaliannya. "Buat Bapak aja," kata Sania. Sambil menolaknya dengan tangannya.


"Lho kok gitu dek?" ... "Iya pak nggak apa-apa ambil Bapak aja," kata Sania. setelah itu mereka berdua pun berjalan meninggalkan gerai Bapak penjual buah itu.


"Makasih ya dek!!!" seru Bapak itu dari gerainya. Sania dan Lisa menoleh dan tersenyum manis ke arah Bapak itu. "Kamu baik banget Nia!" ucap Lisa sambil mencolek Sania.


"Nggak apa-apa lah aku cuma kasihan aja sama bapak itu, jadi aku pengen ngasih!" ucapnya.


Mereka berdua berjalan menuju ke arah perempatan, mereka mencari tumpangan untuk pergi ke rumah sakit.