Sania Anak Indigo

Sania Anak Indigo
51. Yang Sania Lihat


"Lis, aku takut!!" kata Sania dia gemeteran melihat yang akan terjadi. "Udah tenangin aja Nia!" kata Lisa.


Mereka berdua masuk ke sekolahnya Lisa menggandeng tangan Sania ia membantu Sania yang sedang terlihat syok itu. "Nia udah tenangin diri kamu" kata Lisa mengusap-usap lengan Sania.


Sampai di kelas Lisa membantu Sania duduk di kursinya, hingga Sania tenang setelah Sania tenang dia menyodorkan sebotol air ke Sania. "ini kamu minum dulu" kata Lisa sambil menyodorkan sebotol air minum.


"makasih ya Lis," kata Sania menerima air minum dari Lisa. Lisa langsung duduk menghadap Sania dan menanyakan "Kamu tadi lihat apa?" Lisa langsung menanyai Sania. "Aku tadi lihat wanita itu di pukul Lis, kasihan" ucapnya Serius.


"Dipukul? terus apa lagi yang kamu lihat sampe bikin kamu begitu?" tanyanya lagi. Sania seketika terdiam dia tidak bisa berkata-kata dengan yang di lihatnya itu. "Sania!!" Lisa menegurnya seketika. "Kamu nggak apa-apa?" ujarnya.


"Ehh, nggak kok Lis, cuma aku ngebayangi itu bingung mau bilangnya" ucapnya yang terlintas langsung dari Sania. Dia tidak bisa mengatakannya ke Lisa karena itu sangatlah kejam.


Wanita yang masih terlihat muda itu di pukulnya oleh ke dua perampok itu dan menendangnya saat wanita itu terjatuh. Saat tidak berdaya wanita itu di seretnya ke semak-semak di dekat pagar. Semak-semak itu tidak di pagar karena itu adalah batas wilayah pemilik tanahnya.


Tidak ada seorang pun yang lewat disana, wanita itu kemudian di telanjangi oleh salah seorang perampok itu, wanita itu berusaha melawannya dia menendang-nendangkan kakinya tetapi masih bisa di tahan oleh salah seorang temannya.


Ia juga berteriak minta tolong tetapi mulutnya di bungkap oleh perampok itu. dan berkali-kali melawan tetap saja tidak ada gunanya perlawannya tidak berhasil mengalahkan mereka berdua.


Sania juga melihat wanita itu di perkosanya secara bergantian dan setelah mereka puas menyetubuhi wanita itu kemudian mereka membunuhnya secara kejam. Wanita itu di tikam lehernya dan ada beberapa tusukan di bagian perutnya.


Dan hal lain yang Sania lihat adalah wanita itu tewas dengan tubuh telanjang dan berlumuran darah. Itulah yang membuat Sania sangat syok, dia takut melihat kejadian itu.


**********


Pulang sekolah kembali seperti biasa, Sania, Lisa, Widia, dan Febby mereka keluar bersama-sama. "Lis, perempuan itu dimana ya?" ucap Sania dia menengok ke kanan dan ke arah kiri melihat ke arah jalan setapak.


"Mungkin dia pulang kali," ucap Lisa yang menjawabnya santai. "Aku takut hari ini dia bakalan tewas!" ujar Sania. Ia mengatakan hal itu membuat Lisa, Widia dan Febby langsung menengok ke arahnya seketika.


"Kamu serius Nia!!" ucap Lisa dan Widia yang sepontan. "Iya, aku bisa ngerasain hal buruk itu hari ini" ucapnya. "Waduh, terus kita harus gimana dong?" kata Febby. "Kita cari mbak-mbak itu yuk," kata Sania.


Ia menatap ke tiga temannya itu untuk pergi mencari seseorang wantia yang mereka lihat sebelumnya. "Tapi kita mau cari kemana!!" seru Lisa. Mereka juga bingung untuk mencarinya, jangankan Lisa yang bertanya. Sania, Widia dan bahkan Febby juga tidak tau.


"Coba ke jalan setapak ini lagi yuk" Sania mengajak teman-temannya ke arah belakang sekolah lagi di jalan setapak yang di siang hari pun terlihat sepi.


Mereka berempat berjalan bersama beriringan menyusuri jalan setapak, sampai di ujung jalan setapak berbelok ke arah kiri, disini adalah lokasi yang Sania lihat, di jalan ini yang berbelok kurang lebih ada sekitar 400 meter ada beberapa rumah.


"Nia? kamu nggak apa-apa kan?" Lisa menanyai Sania dia masih kurang yakin akankah dirinya baik-baik saja. Sania memandang Lisa dengan senyuman, itu menandakan dirinya baik-baik saja.


"kita balik yuk!" seru Febby dari belakang mereka berdua. "kenapa Feb!" kata Lisa. "disini pohon-pohonnya serem" ucapnya memandang sekeliling. Pohon-pohon disana memang sangatlah tinggi dan dedaunan yang menutup cahaya matahari.


Terlihat sejuk saat siang hari dan menyeramkan untuk belokan arah kiri yang semakin samar-samar cahaya mataharinya. "Ya udah yuk, kita balik aja" Sania kemudian mengajak mereka bertiga kembali ke sekolah.


"Serem tau, lagian ngapain sih mbak itu lewat sini malam-malam!" seru Febby. "Ya kan namanya juga musibah Feb, dia mau lewat mana juga kan terserah dia" sahut Widia membalas ocehan Febby barusan.


"Iya tapi kan se nggaknya kan dia tau kalo jalan ini sepi" ucap Febby lagi, "Ya udah sekarang kita pulang aja biar kamu nggak cerewet begini" kata Widia.


Saat di halte pandangan Sania berubah seketika, pupil matanya lagi-lagi membesar, dia melihat seorang yang sedang dia cari itu, dan Sania melihat wanita itu sedang berada di dekat mereka.


Wanita itu sedang berada di sebuah toko sebrang jalan yang hanya beberapa meter saja dari lokasi halte bus. "Sania!!" ... "Sania!!" Lisa berkali-kali menegurnya melihat tatapan Sania yang seketika berbah itu membuatnya terkejut.


Lisa memegang kedua bahu Sania dan seketika matanya berubah menjadi normal lagi, "kamu kenapa Nia!?" ucapnya sedikit panik, "aku nggak apa-apa kok, Lis, aku tau dimana lokasi mbak itu" ucap Sania.


"Dimana Nia?" kata Lisa. "Itu dia ada toko sebrang jalan ini" ucap Sania dan menunjukan arahnya. "Lis ayo kesana" Sania mengajak Lisa untuk bertemu dengannya.


"Kalian mau kemana?" tanya Febby penasaran dengan gerak-gerik Sania dan Lisa yang akan ke sebrang jalan. "kita berdua mau ke sebrang dulu ya" kata Sania.


Mereka berdiri di pinggir jalan, dan menyebrangi jalanan yang tidak berlalu rama. Sampai di sebrang jalan mereka berdua bergegas mencari toko yang ada wanita itu. "Eh Nia, ini bukan?" ucap Lisa ia berhenti duluan di depan sebuah toko.


"Eh iya ini dia Lis" ucap Sania, dia juga melihat wanita yang di maksud tadi. Tidak ambil basa-basi mereka berdua langsung memberitahuankan akan hal buruk yang Sania lihat.


"Mbak!!" kata Sania dia menyapa wanita itu. "Iya dek cari apa ya?" ucap Wanita itu, mendengar yang di katakannya barusan, Sania dan Lisa terkejut dengan wanita itu, yang ternyata dia adalah penjual toko material.


"Mbak aku mau ngasih tau aja!" kata Sania, "kamu mau ngapain dek?" tanyanya. Sania tidak menjawab segera, dia hanya memandang Wanita itu dengan sedikit rasa sedih dan rasa takut.