
Hana terus meratapi kesedihannya ia tidak menyangka adiknya akan masuk ke rumah sakit, "kamu kenapa bisa jatuh sih dek" ia terus berkata sambil menangis.
"coba kakak tadi nggak dengerin omongan kamu, pasti kamu nggak akan begini" Hana menangis tersedu-sedu, ia melihat adiknya dari luar ruang perawatan.
Di balik pintu ia terus menangisi adiknya itu, tidak lama kemudian dokter keluar dari dalam kamar Sania dan Hana langsung menghampirinya "Dokter!! adik saya keadaannya bagaimana?"
"Dia sepertinya tidak mengalami luka yang parah di sekujur tubuhnya juga tidak ada luka, tadi kamu sebelumnya bilang kalo dia terjatuh dari lantai 4" kata dokter, "Iya dok dia jatuh dari ketinggian segitu" Dokter pun bingung dengan kejadian yang di ceritakan oleh Hana.
Tetapi jika di pikir dokter benar adanya kalau Sania jatuh dari ketinggian pasti ada luka ataupun patah tulang yang menandakan kalau memang dirinya jatuh, tetapi setelah pemeriksaan oleh dokter Sania tidak ada satupun luka di sekujur tubuhnya dan itu membuat dokter kagum sekaligus bingung.
"Kalau keadaannya adik kamu tidak ada yang luka serius tapi dia tidak sadarkan diri atau bisa di bilang dia koma" kata dokter ia memberitahu Hana perihal keadaan adiknya itu, Hana hanya bisa menangis mendengar keadaan adiknya itu.
Beruntungnya ada Lisa yang berada di dekat Hana ia sambil memeluk Lisa ketika sedang menangis, "Saya permisi dulu kalau begitu, nanti saya akan periksa lagi Sania" dokter meninggalkan mereka berdua di depan pintu kamar Sania.
"Udah kak tenangin diri kakak" Lisa terus menggosok-gosok tangannya di bahu Hana agar Hana kuat menjalani hal tersebut, Hana terus menangis di bahu Lisa.
Lalu mereka berdua berjalan masuk menuju kamar Sania dan memandangnya secara dekat, "Sania!!" Hana melepas pelukkan dari Lisa dan menuju ke Sania ia memegang tangan Sania dan menangis di genggaman tangan tersebut.
"Sania maafin kakak dek" Hana terus menyalahkan dirinya sendiri "Ayo dek bangun, kamu bisa salahin kakak" ia terus seperti itu.
***********
"Dimana aku?" .... "Gelap sekali disini!" .... "Tidak ada seorang pun yang datang menemuiku"... Lalu ada cahaya yang melintas di depannya dan cahaya itu menampakan tempat dan kejadian yang sebelumnya Sania alami.
Sania melihat ke arah cahaya tersebut dan melihat kejadian yang ia akan terjatuh, Sania melihat dirinya sendiri di dalam cahaya itu dan disana Ia sedang berusaha melepaskan diri dari aura hijau yang mengelilingi dirinya.
seketika juga ia terjatuh di saat ia terjatuh ada sebuah aura yang berwarna jingga yang sempat melindungi dirinya namun karena belum sepenuhnya melindungi Sania aura itu hanya sebatas menahan Sania agar tidak terluka.
Tetapi tepat dengan Sania menyentuh tanah aura itu menghilang dengan cepat dan membawa ke tiga bola cahaya milik Sania, saat itu juga sosok tersebut turun dan memandangi Sania, sosok itu memandang Sania dengan rasa bersalah.
Karena faktor terpengaruh oleh aura hijau ia juga tidak bisa melawan Sania, lalu Sania juga di perlihatkan kejadian sebelumnya yang menampakan sosok tersebut.
Kejadian sebelumnya yang di alami sosok tersebut ternyata adalah ia mendapatkan aura tersebut dari sebelum dirinya meninggal, ia sudah memiliki aura tersebut namun karena kejahilan temannya dan membuat dirinya tewas waktu itu.
Tetapi ia selau saja kalah dengan aura itu dan menyebabkan kejadian seperti ini, ia merasa takut dan selalu merasa kalah perlawanan dari aura hijau.
Setelah itu cahaya yang menampakan kejadian itu pun menghilang dan menjauhi Sania dan Sania juga terseret oleh sebuah cahaya dan ia masuk kedalamnya.
Di dalam sana ia bertemu dengan generasi sebelumnya yang sempat menguasai bola cahaya yang saat ini di kuasai oleh Sania, kedatangan Sania di sambut hangat oleh semua yang berada di dalam dimensi itu.
Kedatang Sania di sambut dan di beri tepuk tangan dan Sania dapat melihat semua yang ada di punggung mereka ada yang tiga dan ada yang dua dan ada beberapa yang menyamai seperti yang ada di punggung miliknya.
Dan tiba-tiba ada dua ekor burung merpati putih menghampiri dirinya dan merpati tersebut berubah menjadi 2 wanita yang cantik, kedua wanita itu meraih tangan Sania dan memandunya berjalan menuju ke sebuah ruangan di sana.
Di ruangan itulah ia dapat menemui Dewi kelinci yang hanya bisa di temui oleh seseorang yang sudah hampir memiliki semua bola cahaya miliknya, terutama Sania bola cahaya milik Sania sudah ada empat di punggungnya.
dan ia hampir saja mendapatkan bola cahaya yang ke 5 namun karena ia terjatuh dan bola cahaya jingga juga muncul secara mendadak karena akibat perpaduan dua cahaya kuning dan merah.
Sania berjalan masuk menuju ruangan yang berada dewi kelinci di sana, ia menemui Dewi kelinci yang sedang duduk memberi makan burung-burung merpati miliknya.
Dari belakang Sania berdiri menghadapnya dan Dewi kelinci sedang memunggunginya, seketika juga wanita cantik yang memandu Sania ke dalam berubah menjadi seekor burung lagi.
Dan terbang menuju Dewi kelinci berada dan bersama kawanannya yang sedang di beri makan oleh dewi kelinci, Dewi kelinci kemudian berbicara dengan Sania tetapi saat itu yang Sania lihat di depannya sudah menghilang dengan kecepatan yang luar biasa.
Tanpa ada kedipan mata tiba-tiba Dewi kelinci sudah berada di sampinya, Sania pun terkejut dan ia terjatuh saat menatapnya, "Jangan takut Sania, aku tidak akan melukaimu" Ia berkata seperti itu sambil terbang.
Ia tidak menyentuh tanah ia terus mengambang seperti itu, Dewi kelinci setiap ia akan berbicara sudah pindah tempat sesuai yang dia inginkan, ia mendadak juga berada di samping Sania dan memegang rambut Sania.
"Kamu sudah bejuang Sania, apa kamu masih ingin kembali menemui kakak mu Hana?" Dewi kelinci menanyakan hal tersebut ke Sania seketika Sania langsung mengingat Hana yang berada entah dimana dia juga tidak tau dirinya berada dimana saat ini.
"Tidak perlu cemas tentang keadaan Hana dimana Sania dia aman berada di bumi" ucap Dewi kelinci dan ucapan itu membuat Sania sangat amat terkejut, lalu itu membuat Sania berpikir 'Apa maksudnya? Sebenarnya siapa sih dia?'
Sania mulai penasaran dengan siapa dia bertemu dan juga dengan ucapannya yang barusan saja ia katakan, "Beruntung sekali ada gagak milikku yang selalu setia menemanimu Sania" ucap Dewi kelinci lagi.
Dan lagi-lagi Sania bingung dengan ucapannya dia tidak begitu paham apa yang di bicarakan oleh seorang wanita yang sangat cantik itu di depannya.