Sania Anak Indigo

Sania Anak Indigo
65. Bola Cahaya Lain Melawan Aura Merah


Di dalam dimensi lain Adhyasta berusaha menyadarkan Sania yang tengah di kendalikan aura merah tersebut. Berkali-kali Adhyasta melawan dan mencoba menyentuh Sania tetapi di halangi oleh aura tersebut.


Bak perisai yang terus menjaga tuannya, aura itu terus mengelilingi Sania dan juga merenggut kesadarannya.


"Sania!! sadarlah!!" seru Adhyasta yang terus-terusan melawan aura yang menahannya. Sania menatap Adhyasta dengan tajam seolah tatapan kebencian yang terus datang kepadanya.


Aura itu menarik Adhyasta dan mengangkatnya ke atas dan mempererat cengkramannya perlahan-lahan semakin erat mencengkram Adyasta.


"Aaahhhh!!!!" teriaknya dari ketinggian. "Sania!!!" serunya. Adhyasta berusaha mengacungkan jarinya ke arah Sania berada, dan seketika ia pindah tempat langsung ke depan Sania.


Sania seketika menjelitkan matanya aura merah yang sebelumnya mengangkat Adhyasta berpencar dan berbalik arah ke diri Sania. Adhyasta yang mengetahui dirinya di kejar aura merah itu mencoba menembus Sania.


Ia langsung masuk ke dalam diri Sania dan keluar menuju punggungnya. Ia menyentuh bola cahaya itu yang semakin lama semakin merenggut kesadaran Sania.


"Sania!!!" suara menggema di dalam kegelapan memanggil dirinya lagi. Sania yang sedang duduk menunduk mendegar suara itu. Lalu ia mengangkat kepalanya. "Sania!!" suara itu terdengar lagi.


"Dimana ini? Disini gelap! Tolong aku!" kata Sania melihat sekelilingnya mengacungkan tangannya ke arah depan. "Sania kembalilah!" kata Adhyasta.


Tatapan Sania berubah matanya berubah-ubah merah dan hitam. Mendadak ia menutup telinganya, aura yang mengalir keluar semakin hilang. "Aaaaa!!!!" teriaknya sambil menutup kuping.


"Sania ayo kamu pasti bisa!!" kata Adhyasta memberi semangat dari belakang Sania berada. Namun tatapan Sania masih ada rasa was-was gerak matanya tidak teratur. Tatapannya ke kiri dan ke kanan secara terus menerus.


Bola cahaya itu semakin mengecil dan bola cahaya lainnya kembali muncul, bola cahaya kuning yang berada di bawah bola cahaya merah di punggung kirinya mengalirkan cahaya kuning ke bola cahaya merah.


Warna dari bola cahaya yang sebelumnya merah pekat sekarang berubah menjadi merah terang. Di bantu dengan bola cahaya Biru di punggung sebelah kanannya juga.


Kedua bola ini saling mengalirkan auranya ke bola cahaya merah. Seolah mengisyaratkan Sania harus kembali sadar jangan sampai ia di telan rasa kebencian yang tercipta dari aura merah itu.


Sania kemudian tertekuk, lututnya menyentuh tanah kedua tangannya masih menutup kupingnya. Aura yang sebelumnya mengelilingi Sania berwarna merah pekat sekarang ada tiga warna yaitu Merah, Kuning dan Biru.


Warna kuning dan biru berdominan mengelilingi Sania, Seakan warna merah tertelan dan kalah dari ke dua warna tersebut. Sania kemudian menggulingkan badannya ke tanah ia pingsan.


Aura itu masih terus mengelilinginya, dari beberapa meter tempat Sania pingsan Adhyasta melihatnya, tangannya menutupi wajahnya karena kilauan dari bola cahaya itu.


"Luar biasa! Sania mampu bertahan melawan aura merah tersebut dari pada generasi sebelumnya!" ucap Adhyasta. "Ia tinggal menaklukkan aura hijau sebentar lagi yang akan ia dapat nanti!" katanya.


Perlahan cahaya yang mengelilingi Sania meredup. Adhyasta mencoba mendekatinya. "Kamu mirip sekali dengan dewi kelinci!" katanya. Ia kemudian membantu Sania mengangkatnya dan membawanya keluar dari dimensi miliknya.


Mereka berdua kemudian keluar dari dalam dimensi milik Adhyasta. Saat keluar Ia langsung membaringkan Sania di tenda yang sebelumnya ada Hana disana.


Waktu yang sebelumnya terhenti pun ia rubah kembali berjalan. Semuanya kembali normal namun semuanya tampak bingung yang di lakukan mereka masing-masing.


Seolah dia lupa akan kejadian beberapa saat yang lalu. Adhyasta tengah berdiri membelakangi mereka, ternyata dialah yang menghapus ingatan tentang kejadian itu. Ia tidak ingin melihat kepanikan tadi.


Semuanya kemudian berkumpul di api unggun lagi. Hana yang berada di dalam tenda bersama Sania pun bingung mengapa ia ada di sana. Ia melihat Sania yang tengah berbaring di depannya langsung mengecup keningnya.


"Selamat tidur" kata Hana perlahan ia mundur dan keluar dari dalam tenda. "Adek kamu udah tidur Na?" kata Nindy menyapanya dari tenda sebelah kanannya.


Hana mengangguk ia menghampiri Nindy ke tenda sebelah, "Tadi itu kita abis ngapain sih? kayaknya ada yang kita kerjain tapi lupa" kata Hana bertanya ke Nindy.


"Aku juga nggak tau, aku ngerasa gitu ada yang lupa tapi apa" Nindy menunduk menoleh-noleh ke bawahnya mencari sesuatu. Mereka semua juga sama mencari-cari sesuatu yang menurut mereka lupa.


"Ahh udah ah lupa!" kata Rizal ia langsung mendekat ke arah api unggun di halaman dekat tenda. "Lagian aku juga ngapain jauh-jauh kesini segala!" katanya.


Mereka semua yang tadinya berpencar entah kemana arah kembali ke api unggunnya masing-masing. "Bon kamu ngerasa ada yang lupa?" kata Rizal menanyai Boni.


"Iya dari tadi aku cari-cari juga!" katanya. Malam itu semua merasa aneh dan lupa sesuatu. Adhyasta sengaja melakukan itu agar mereka tidak takut dengan Sania yang baru saja hampir melukai mereka karena pengaruh Aura merah tersebut.


Malam pun berlalu mereka semua menikmati malam di depan api unggun hingga satu persatu pergi ke tendanya masing-masing. Hana berjalan masuk ke dalam tenda yang berada Sania disana.


'apa sih tadi? terus aku ngapain di dalam tenda sebelumnya?' Hana masih terus bepikir tentang kejadian sebelumnya. 'Ah udahlah lupain mungkin cuma perasaan aku aja kali' kata Hana.


***********


Pagi itu semua berkumpul di halaman, semuanya sibuk menyiapkan makanan mereka semua saling bantu membantu menyiapkannya. Sania masih belum sadar dari pingsannya.


"Kenapa Sania belum bangun!" kata Hana dari luar tenda. Ia lalu mengeceknya, "Sania! Sania!" Namun tidak bangun juga. "Sania!" kata Hana lagi.


"Sania masih belum sadar ya!" kata Adyasta di dekat tendanya. Hana semakin khawatir dengan Sania yang tidak menjawab panggilannya.


"Sania!! kamu kenapa? Sania bangun!! jangan becanda dehh!" kata Hana ia mulai cemas. Hana kemudian keluar dan mengambil air hangat untuk Sania.


Adhyasta melihat Hana keluar dari tenda, lalu ia mencoba membantu Hana untuk membangunkan Sania. "Aku coba masuk ke dalam alam bawah sadarnya!" kata Adyasta.


Di dalam alam bawah sadar Sania ia melihat Sania tengah duduk diam disana. "Sania!!" sapa Adhyasta. Ia kemudian menatap kearahnya. "Kamu!" kata Sania.


"Ayo keluar, jangan buat kakakmu cemas!" kata Adhyasta. "Bagaimana? aku dari tadi udah mencari-carinya! aku nggak nemuin jalan keluar, aku ketakutan!" katanya.


Adhyasta berjalan mendekat ke dirinya dan meraih tangan milik Sania. "Ayo ikut bersamaku untuk keluar!" katanya. Kemudian Sania langsung berdiri seketika bola cahaya kuning keluar dari punggungnya. Dan menbentuk lingkaran mereka berdua lalu berjalan menuju lingkaran tersebut.