Sania Anak Indigo

Sania Anak Indigo
47. [Spesial Sania] Mengenal Sania dan ke 6 Bola Cahaya


"Maksudnya kak?" Cheryl tidak paham apa yang di katakan Pria Hitam itu. "Bola cahaya lainnya bisa ia dapatkan menolong makluk seperti kalian" katanya.


"Jadi kak Sania bisa dapatkan itu dari kami?" Cheryl memperjelas dan mulai mengerti yang di katakannya. "Iya, tapi itu kemungkinannya belum sepenuhnya"


"Terus apa lagi? kalo selain hal tadi?" ... "Ada banyak tergantung dari diri Sania" katanya. "Kak aku boleh tanya satu hal lagi?" kata Cheryl. "Apa itu?" jawabnya.


"Kalo boleh tau, kak Sania itu bisa melihat makluk seperti kami dari mana dia dapat?" Cheryl menanyakan hal yang sepertinya berbeda dari sebelumnya. "Kalau itu memang dia mendapatkannya sejak masih kecil, dan itu alami milik dirinya" ucap pra itu.


"Sebenarnya Sania mengenaliku sejak kecil tetapi semenjak orang tuanya meninggal, Sania dan Hana sangat tertekan beruntungnya Sania memiliki Kakak yang sangat mengerti keadaan, hingga Sania bisa memahami situasi yang tengah di alami keluarga mereka saat itu" ucapnya.


"Jadi sebenarnya kakak udah dari kak Sania kecil?" tanya Cheryl. "Iya begitulah, Sania itu memiliki kemampuan Indigo matanya begitu bercahaya jika kau memperhatikannya"ucapnya. "Bercahaya? Apa mungkin?" Kata Cheryl.


"Maksudnya?" Pria Hitam itu tidak mengerti apa yang di ucapkan Cheryl. "Aku baru inget kak, waktu itu aku bertemu Kak Sania waktu pertama kali, dia bisa mengenaliku pada saat aku belum memberitahunya" ucap Cheryl.


Cheryl mengingat kejadian dimana dirinya bertemu dengan Sania di dekat sebuah gang yang menuju tempat dirinya kecelakaan waktu itu, Cheryl mengingat betul Sania mengatakan "Apa kamu Cheryl?" pada saat itu.


Tetapi Sania tidak menjelaskan mengapa Sania bisa tau namanya itu, Cheryl kemudian menceritakannya ke pada Pria Hitam itu dan menanggapinya dia tidak terkejut sama sekali. "Aku tau apa yang di maksud dirimu barusan" kata Pria Hitam itu.


"Sebelumnya Sania memang sudah melihat dirimu duluan" ucapnya. "Tapi bagaimana bisa kak?" Cheryl merasa aneh dan bingung dengan kata Pria hitam barusan.


"Sebelumnya kan aku sudah bilang kalau Sania itu memiliki mata yang bercahaya, dia itu Anak Indigo" katanya. Cheryl mulai paham "Terus kalau memang begitu kak Sania melihatku di mana kak?" Cheryl kembali bertanya kepadanya.


"Sania sebelumnya mengalami perampokan di sebuah mini market dekat dirimu kecelakaan" katanya. "Kemudian dia memberikan sebagian uang ke perampok itu dan tidak sengaja dia menyentuh perampok itu, yang ia lihat waktu itu kejadian kelam yang dimana rumahmu terbakar" ucapnya.


Cheryl bengong dan terkejut medengarnya. "Kemudian dia melihat ayahmu menyelamatkan dirimu yang terjebak di kamar" ucapnya lagi. "Jadi yang dia lihat itu, masalalu yang terjadi pada ayahku?" kata Cheryl.


"Ya benar sekali, yang ia sentuh itu adalah ayahmu, dia melihat beberapa kejadian yang menimpamu waktu itu" kata Pria Hitam itu.


Cheryl menunduk dan menahan rasa kesalnya atas yang di perbuat ayahnya itu, dia kesal karena ayahnya yang tidak lagi berbicara kepada ibunya atau menungguinya di rumah sakit, dia juga begitu kesal dengan yang di lakukan ayahnya itu.


Pria Hitam itu melihat Cheryl yang tengah tertunduk kesal karena ucapannya tadi, dia memegang bahu Cheryl. "Udah, nggak perlu menyesali atau marah ke ayahmu sendiri, dia melakukan itu untuk dirimu yang sedang di rawat karena aku melihat beban yang di rasakan ayahmu itu, dia itu merasa sangat tertekan mencari pekerjaan pun tidak kunjung dapat hingga akhirnya dia memutuskan begitu" ucapnya.


"Tapi kenapa harus begitu kak, kan bisa nyari pekerjaan lain, aku takut ayah di tangkap, aku juga rindu dengannya" kata Cheryl. Air matanya jatuh dia menangis.


"Ayahmu begitu menyayangimu, dia mau kamu segera sembuh dan dia begitu untuk membiayaimu" katanya.


Cheryl mengusap air matanya dia terlihat kacau saat menampakan wajahnya ke Pria Hitam itu. "Cheryl, berapa usiamu?" Pria Hitam itu menanyai hal yang berbeda untuk merubah suasana yang sedang sedu.


"Makasih kak, tapi aku juga bingung harus bagaimana, aku ingin sekali menanyai ayahku itu" kata Cheryl.


"Kamu pasti bisa, Cheryl" ... "kak," ... "Ada apa, Cheryl?" ... "Bantu aku untuk bisa menyentuh ayahku" ucap Cheryl ia begitu berharap Pria Hitam itu bisa menolongnya.


Pria Hitam itu terdiam dia juga tidak tau caranya dan satu-satunya yang bisa di lakukan adalah masuk lagi ke dalam tubuh Sania. "Apa aku boleh masuk lagi ke dalam tubuh kak Sania?" Cheryl langsung menanyakan hal yang sama yang di pikirkan oleh Pria Htiam itu.


Pria Hitam itu tidak menjawab dia langsung menatap Cheryl seketika dia berbicara seperti itu, "Gimana kak? Boleh?" Cheryl menatap balik dan menanyakan lagi.


"Baiklah kalau begitu, aku izinkan kau masuk lagi, tapi hanya untuk berbicara ke ayahmu saja" Ucap Pria Hitam itu, akhirnya dia luluh dengan rayuan Cheryl.


"Makasih ya kak!" Cheryl langsung bersemangat dan tersirat wajah bahagianya saat itu juga, dengan refleks dia memeluk Pria Hitam itu. Pria hitam itu terkejut saat Cheryl langsung memeluknya itu.


Cheryl melepas pelukannya dan melihat ke Pra Hitam dengan wajah tersenyum. "Aku hari ini mau ngajak kak Sania ke rumah sakit lagi" ucap Cheryl.


"Aku cuma mau ayahku berhenti untuk pergi merampok agar dia tidak menjadi buronan dan bisa menungguku di rumah sakit" katanya. Cheryl tampak murung dengan ucapannya. Tetapi dia merasa senang karena dapat izin dari penjaga Sania itu.


"Baiklah, aku akan melanjutkan lagi untuk menjelaskan hal yang mengenai Sania, apa kamu masih ingin bertanya hal lain?" Tanyanya. "Nggak kok kak, udah cukup" jawab Cheryl cepat.


"Masih mau lanjut?" ... "nggak kak udah cukup, aku mau keluar dari sini kak" ucapnya. "Baiklah kalau begitu" Pria Hitam merubah seketika ruangan hampa yang begitu hitam dan menjadi dunia nyata, mereka keluar dari dimensi itu.


Setelah itu Cheryl kemudian langsung menghadap ke arah Pria Hitam dan tersenyum lagi, "Kak?" kata Cheryl. "Ada apa Cheryl?" jawabnya.


"Aku punya sebuah nama kak?" ucap Cheryl. "Nama? untukku?" Cheryl mengangguk sepertinya memberi isyarat bahwa dia ingin memberikan nama ke Pria Hitam itu.


"Sebuah nama seperti apa itu?" tanyanya, dia juga penasaran dengan sebuah nama yang akan di berikan kepadanya.


"Aku punya sebuah nama yang aku pikirkan, karena kakak adalah pengawas bola cahaya yang ada sama kak Sania, jadi aku pikir buat namain kakak Adhyasta" ucapnya.


"Adhyasta? Nama yang unik!" katanya sepertinya Pria hitam itu menyukai nama itu, "Iya kak, artinya Pengawas" ucapnya. Pria Hitam itu merasa senang dan mengangguk. "Adhyasta ya!" ucapnya.


"Iya kak, semoga kakak senang ya, Kak Adhyasta!" serunya, kemudian Cheryl melambaikan tangannya.


Pria Hitam itu tersenyum dengannya dengan sebuah nama yang sudah di berikan Cheryl. Dan kini dia tidak seperti seseorang yang asing.


"Adhyasta!!" Dia menyebutkan nama itu lagi dan tersenyum senang mendengarnya.