
Mereka berdua lalu melanjutkan ke kelasnya, berjalan beriringan dengan santai, Lisa masih saja terdiam dalam pikirannya. Ia masih tidak menduga akan hal itu, tetapi itulah yang terjadi Sania selalu membuat dirinya penasaran.
Saat pulang sekolah Sania dan Lisa berencana menemui wanita penjual di toko sebrang sekolahnya, "Kita tanyain atau cuma lewat aja?" ucap Lisa saat akan menyebrang.
"Samperin aja kali Lis sekalian kita kasih tau" jawab Sania, "Ya udah deh kalo gitu!" kata Lisa mereka berdua lalu menyebrang jalan di saat jalanan sepi. Sampai di sebrang jalan mereka berdua langsung melihat ke arah toko.
Mereka melihatnya masih ada wanita saat itu mereka temui, Sania juga melihat dengan jelas ia baik-baik saja. "Dia masih ada Nia!" kata Lisa sambil melirik ke arah toko.
"Mau kita samperin?" Lisa lalu menanyai rencana Sania sebelumnya. "Iya Lis, kita samperin yuk!" ujar Sania.
"Tapi aku bingung mau ngasih tau kayak gimana, kalo ngasih tau kayak sebelumnya apa dia masih percaya?" Sania kemudian merasa ragu untuk mendekat.
Langkahnya terasa berat saat ia merasa ragu seperti itu, Lisa memandang sekilas ke Sania seolah ia mengerti perasaan Sania saat ini. "Udah kamu yakin aja!" ujar Lisa.
"Ya udah deh, ayo kita coba!" kata Sania. Mereka berdua mendekat ke arah toko, si wanita itu melihat mereka berdua berjalan mendekat toko. Ia langsung keluar toko dan menyapanya.
"Hei!! kalian!" serunya gembira, Mereka menatap dengan tatapan sedikit gugup dan malu lalu mereka berusaha menutupnya dengan senyuman di wajahnya.
"Kalian lagi apa?" serunya. "Hmm, cuma mau mampir mbak!" jawab Sania malu-malu. "Nia, kenapa jadi nggak enak gini ya!" Lisa berbisik ke diri Sania ia juga merasakan hal yang sama.
"Aku juga nggak tau!" Sania membalas bisikan Lisa. "Ayo-ayo sini!" wanita itu mengajak mereka masuk ke toko. "Ngomong-ngomong, kalian namanya siapa?" wanita itu menanyai nama mereka, Ia sempat melihat nama di baju mereka berdua tetapi tidak terlihat jelas karena tertutup tas yang mereka bawa.
"Aku Sania mbak, kalo dia--" Sania menunjuk langsung ke Lisa, "Aku Lisa kak!" ujar Lisa. "Oo, Halo Lisa halo Sania" sapanya. "Kalo aku Utari!" imbunya, ia tersenyum manis ke Sania dan Lisa.
"Kalian panggil aku kak tari aja!" kata Utari. "Iya kak!" sahut Sania. Mereka berdua kemudian bercakap-cakap di dalam toko, rasa ragu dan malu mulai perlahan menghilang dari mereka.
Sania pun mulai bercerita tentang bayangan yang ia lihat sebelumnya, rasa ragu pun sirna ketika Sania bercerita ke Utari bahwa dalam keraguan Sania itu ia tidak akan percaya dengan yang Sania ceritakan tetapi justru sebaliknya.
Utari mendengarkan dengan baik yang di katakan oleh Sania, lalu Sania langsung memberi saran ke Utari, "Kalo gitu kakak lebih baik hati-hati, soalnya yang aku lihat akhir-akhir ini selalu kejadian" ucap Sania.
"Iya makasih saran kamu ya, kalo gitu nanti kakak inget terus!" ucapnya. Sania lalu merasa senang tetapi ia juga merasa bingung dengannya, mengapa ada orang yang mau mendengarnya walau belum seberapa kenal dengannya?
Pikir Sania memandang ke Utari yang sedang melayani pembeli. Setelah selesai melayani pembeli Utari kembali ke mereka berdua. "Kamu itu mirip sama temanku!" ujar Utari.
"Iya, jadi kakak pikir lebih baik kakak ikutin yang kamu bilang, soalnya dia dulu juga gitu, banyak orang yang dia kasih tau yang nggak percaya!" katanya. "Terus apa yang terjadi kak!" sahut Lisa mendengarkan serius cerita dari Utari.
"Ya gitu, mereka ngalamin hal yang nggak enakin!" jawab Utari. "Hal yang nggak bikin enak!" sahut Lisa penasaran. "Apa itu tentang kecelakaan atau hal yang--" potong cepat oleh Utari. "Yang udah dia lihat tapi orang yang di kasih tau nggak percaya!" Utari memotong perkataan Lisa.
"Jadi banyak orang yang ngalamin hal aneh contoh kecelakaan yang kamu bilang tadi sama kejadian kecil yang intinya itu udah terprediksi" ucap Utari. "hmm,, jadi kamu bisa lihat begitu juga ya Nia?" Lisa langsung bertanya ke Sania.
"Kalo hal kayak gitu sih aku belum yakin, tapi aku cuma pernah ngerasain aja!" ucap Sania. "Iya gitu sama yang teman aku bilang, dia ngerasain juga" kata Utari.
"Tapi kalo hal kecil yang begitu kalo nggak salah aku belum pernah, yang aku lihat hal yang berbahaya bagi orang aja yang aku lihat!" kata Sania. "Mungkin setiap orang beda-beda kali ya" ujar Utari.
"Tapi intinya sama, kamu sama teman aku bisa lihat hal yang kebanyakan orang-orang nggak bisa lihat!" ucap Utari. "Iya sih kak, awalnya juga aku ngerasa takut tapi sekarang mulai kebiasa, tapi tetep aja nakutin!" kata Sania.
Sesudah mengobrol sedikit lama, Sania mengajak Lisa untuk pergi, ia baru ingat kalau dirinya ada janji dengan Hana untuk pergi bersamanya. "Lis ayo pulang!" Sania berbisik ke Lisa.
"Ya udah yuk kalo gitu" kata Lisa menoleh ke Sania. "Aku baru inget kalo aku mau pergi sama kak Hana!" ucap Sania. "Oo ya udah kita pulang sekarang aja!" kata Lisa.
Kemudian Sania dan Lisa beranjak dari kursi, dan menghampiri ke Utari yang tengah melayani pembelinya lagi. "Kak kita pamit pulang dulu ya!" kata Lisa. "oo ya udah kalo gitu, kalian hati-hati ya!" kata Utari.
Utari melanjutkan melayani pembelinya, sementara iti Sania dan Lisa langsung ke luar dari dalam toko, mereka berdua berjalan ke pinggi jalan untuk menaiki angkot.
"Naik angkot aja Nia!" kata Lisa, "Ya udah kalo gitu!" jawab Sania. Lisa langsung menghadang angkot, setelah berhenti mereka berdua langsung menaikinya.
Di dalam angkot Lisa seketika bertanya ke Sania "Nia, kamu kalo lihat yang kayak gitu itu sebenernya apa yang kamu rasain?" kata Lisa yang masih penasaran.
"Ya paling cuma rasa cemas doang sih, soalnya kan yang kayak gitu kita nggak tau kapan kita lihat, tau-tau muncul depan muka gitu" kata Sania. "Berarti sama halnya kayak kamu lihat Cheryl?" Lisa kembali bertanya lagi. "Iya bisa jadi, tapi kalo yang kayak Cheryl gitu ada tanda-tanda" ucapnya.
"Tandanya apa Nia?" Ujar Lisa serius. "Kayak rasa takut gitu, kayak kita lagi masuk ke dalam ruangan yang udah lama udah tua terus kita kan was-was!" ucap jelas Sania.
Lalu Lisa langsung ke pikiran tentang rumah tua yang pernah ia kunjungi bersama Sania.