
"Kak?" Suara Sania memanggil Hana terbaring di kasurnya. Hana saat itu sedang tertidur di dekat Sania, ia tidur di kursi kepalanya menyender ke kasur Sania.
Kemudian Hana bangun setelah Sania memanggilnya, betapa senangnya raut wajah Hana melihat adiknya yang sudah siuman dari pingsannya. "Eh Sania udah bangun?" katanya kemudian dia tersenyum lalu memeluk Sania dengan begitu erat.
"A. a.. aa.." Sania merasa sedikit sesak di peluk oleh kakaknya. "Aduh kak, jangan erat-erat, kak baik-baik aja kan?" tanya Sania. "Ehh iya-iya kakak terlalu bersemangat tadi liat kamu udah baikan, tapi seharusnya kakak yang tanya kamu baik-baik aja" kata Hana menoel sedikit hidung Sania.
"Aku baik-baik aja kok kak" ucap Sania, mendengar itu dari Sania, Hana merasa lega. "Syukur deh, ya udah ini minum dulu!" Kata Hana menyodorkan segelas teh hangat ke Sania.
Tanpa lama-lama Sania mengambil gelas itu dari Hana dan meminumnya. "Maaf ya kak, kemarin aku buat kakak khawatir" ucap Sania tertunduk lesu. "Udah enggak apa-apa kok, yang penting sekarang kamu baik-baik aja itu udah cukup bagi kakak!" serunya menanggapi ucapan Sania dengan santai.
Hana masih merasa gelisah sedikit tentang Sania dia khawatir dengannya karena takut terjadi apa-apa lagi nantinya. Dia juga masih penasaran dengan apa yang terjadi di tempat rumah tua itu.
'Sebenarnya apa yang terjadi tadi denganmu dek?' Dalam pikiran Hana, "Ada apa kak?" tanya Sania, suara Sania barusan membuat lamunan Hana pecah "hmm" menoleh dan melihat Sania "Kakak enggak apa-apa kok" ucapnya menyembunyikan kegelisahannya terhadap Sania.
"Ya udah ini udah malam, kamu lebih baik tidur" kata Hana, mencium kening Sania kemudian dia keluar dari kamarnya dan menutup pintunya. 'Kakak kenapa ya?' tanya Sania kepada diri sendiri dalam benaknya.
Kemudian setelah itu dia meletakkan gelas yang di pegangnya dan mulai berbarik untuk tidur. Melihat jam sudah menunjukkan pukul 20.55 menit.
***********
Ke esokan paginya Sania beraktivitas seperti biasanya dia pun bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah sebelum dia berangkat dia ke meja makan terlebih dahulu untuk menemui kakaknya serta untuk sarapan.
"Pagi kak!" sapa Sania ke Hana yang sedang menyiapkan makanan untuk sarapannya. "Pagi dek!" Hana membalas sapaan Sania. "Gimana kamu udah baikan?" tanya Hana.
"Udah kok kak" kata Sania. Dia memakan beberapa cemilan dan roti yang di hidangkan Hana kemudian meminum segelas susu hangatnya. kemudian Sania pun beranjak dari kursi "Kak aku berangkat dulu ya!" katanya sambil bersiap-siap dan menggendong tasnya.
"Hati-hati Sania!" seru Hana. Di pagi itu tidak ada yang mengganggu Sania tetapi pada saat ia di luar tiba-tiba muncullah Cheryl dari belakang Sania. "Kak!" kata Cheryl dari belakang Sania.
"Aaw!!" Sania terkejut mendengar suara Cheryl yang memanggilnya dari belakang, kemudian Sania pun menengok ke arah belakang dan melihat Cheryl di belakangnya.
"Eh Cheryl!!" kata Sania terkejut. "Kamu ngagetin aku aja!" Serunya sedikit mengomel. "Maaf kak!" ucap Cheryl tersenyum tengil. "Ada apa Ril? kok tumben datang tiba-tiba?" tanya Sania.
"Oo iya kak, di rumah tua kemarin ada ayah aku!" Seru Cheryl serius. "Ah yang bener kamu!" tanya Sania "Iya kak aku serius!" melihat ucapan Cheryl barusan Sania jadi yakin dengannya itu.
"Kak!!" seru Cheryl menyapa Sania yang terdiam. "Eh iya, Apa?" kata Sania kemudian dia menengok ke Cheryl yang ada di sampingnya. "Gimana kak? kita mau ke sana kan?" tanya Cheryl sekali lagi memandang Sania untuk memastikannya.
"Gimana ya?" jawab Sania meletakkan telunjuknya di dagu kemudian matanya melirik ke arah kiri atas. Dia berpikir untuk ikut dengannya atau tidak "eh tapi kan aku harus sekolah Ril" kata Sania kemudian dia balik menatap Cheryl.
"Oh iya ya kak, kalo gitu nanti Cheryl datang lagi deh" kata Cheryl mendengar jawaban Sania itu dia sedikit merasa sedih karena ajakkannya itu tidak berhasil. "Ya udah nanti temuin kakak di sekolah ya!" seru Sania kemudian perlahan-lahan Cheryl pun menghilang dari Sania.
Sania yang sedari tadi mengobrol dengan Cheryl melanjutkan langkahnya ke halte untuk naik bus sekolah yang akan di tumpanginya. Dari arah kiri trotoar terdengar suara Lisa. "Sania!!" seru Lisa menyapa Sania dan melambaikan tangannya.
Sania mendengar sapaan Lisa dari tempat duduknya kemudian dia pun membalas lambaian Lisa "Hei!" "Sini Lis?" kata Sania. Lisa mempercepat langkahnya kemudian dia pun duduk di sebelah Sania.
"Apa kabar Lis?" sapa Sania ke teman akrabnya itu. "Ahaha tumben kamu nanya begitu!" kata Lisa mendegar Sania menyapa seperti itu rasanya geli bagi Lisa tidak biasanya Sania seperti itu. "Kamu kenapa Lis?" Sania menaikkan sebelah alisnya.
"Kamu itu lho tumben banget biasanya juga kamu kalem" ucap Lisa dia masih saja tertawa menggelitik dan mentutup mulutnya dengan satu tangan. "Ya udah kalo aku aneh gini--" ucapan Sania terpotong melihat bus yang sudah di tunggunya itu pun sudah berad di sampingnya kemudian mereka berdua menaiki bus sekolah tersebut.
***********
Setelah beberapa saat di dalam bus akhirnya bus pun sampai di sekolah semua siswa turun dari bus termasuk juga Sania dan Lisa "Eh Lis" ucap Sania "Iya apaan Nia?" tanya Lisa "Nanti ikut aku yuk" Sania mengajak Lisa yang belum tahu akan kemana "emang mau kemana sih Nia?" kata Lisa dia bertanya lagi ke Sania, akan di ajak kemana dirinya itu.
"Ya udah nanti aja deh" ucap Sania mereka pun berjalan menuju kelasnya itu. "ya udah deh kalo gitu" jawab Lisa. Mereka pun masuk ke kelasnya.
Pria hitam yang selalu ada dan terkadang selalu muncul di hadapan Sania tanpa di duga-duga dia pun muncul lagi tetapi tidak mengejutkan Sania kini dia muncul dari belakang Sania dan memandang Sania masuk kelasnya.
'Sania aku harap kamu nanti enggak pergi ke rumah tua itu lagi' dalam ucapannya memandangi Sania, nampak dia sepertinya khawatir akan terjadi sesuatu hal dengan dirinya itu.
'kalau kamu masih mau pergi nanti aku pasti akan menghalangimu nanti' ucapnya setelah itu pria hitam itu menghilang.
Sania yang sedang berjalan dan mengobrol dengan Lisa dia merasa khawatir dan juga merasa seperti ada yang mengawasinya dari tadi. Saat dia sudah berada di dalam kelas dia mencoba berlari ke pintu kelasnya dan melihat ke lorong yang ia lalui bersama Lisa.
'Perasaan tadi kayak ada yang ngeliatin deh waktu lagi ngobrol sama Lisa' ucap dalam hati Sania melihat ke arah lorong.