
Saat sedang mengobrol bersama tiba-tiba Cheryl pun kejang-kejang. Seisi ruangan Cheryl melihatnya menjadi cemas. "EH CHERYL KENAPA!!" ucap Ibunya panik. Lisa kemudian keluar mencari dokter.
"Dok, dokter!!" teriak Lisa sambil berlari mencari dokter. Sania yang berada di dalam ruangan menatap Cheryl yang ada di depannya. "Kamu kenapa?" gimik Sania menanyai Cheryl. "Aku juga nggak tau!" jawabnya.
Sania melihat Cheryl yang sedang kejang-kejang itu, dan kembali menatap Cheryl di depannya. Tubuh Cheryl seketika bercahaya terang sekali. Sania melihat hal yang tidak biasa itu merasa takjub.
'Cheryl kenapa? dia begitu bercahaya!' pikirnya. Dan cahaya itu semakin terang tetapi Cheryl semakin menghilang di telan cahaya itu.
Suara Parameter milik Cheryl langsung berbunyi, Tiitt... Tiittt.. Seolah menunjukan ada hal yang tidak beres dengannya. "Dok, Cheryl kejang-kejang, dia baru aja dok waktu kami di dalam!" ucap Lisa dari luar kamar Cheryl.
Lisa masuk membawakan dokter untuk memeriksa Cheryl, "Dok tolong anak saya!!" kata Ibu Cheryl memelas ke dokter. "Iya bu, coba saya periksa dulu ya, mohon untuk kalian tunggu di luar!" kata dokter itu.
Suasana di dalam sana sangatlah kacau, Ibu Cheryl menangis dengan ke khawatirannya, Sania juga demikian ia juga cemas dengan Cheryl yang barusan ia lihat. Cheryl nampak di telan cahaya tadi ia perlahan memudar dengan cahaya itu.
"Lis, Aku tadi lihat Cheryl tapi dia redup!" Kata Sania berbisik. "Redup gimana?" kata Lisa. "Nggak tau juga sih tadi waktu sebelum dia kejang-kejang, dia kayak sedikit menghilang gitu sama warna cahaya putih terang" kata Sania.
"Semoga dia nggak kenapa-kenapa!" kata Lisa. Mereka berdua mencoba menenangkan Ibu Cheryl. "Tenang ya bu!! Cheryl lagi di periksa kok!" ucap Lembut Lisa memegang pundaknya.
Setelah beberapa lama di luar menunggu dokter yang sedang memeriksa Cheryl, Dokter pun keluar dari kamar. "Dok gimana anak saya!!" Spontan Ibu Cheryl langsung berdiri. "Tenang bu!! Cheryl hanya mengalami denyut jantung yang mulai normal, nanti kami akan kembali kesini lagi untuk pemeriksaan selanjutnya" kata dokter barusan membuat Ibu Cheryl langsung menarik napas lega.
"Syukur, makasih ya dok!" kata Ibu Cheryl sambil menahan tangisnya. "Kalau begitu saya permisi dulu bu! mari bu!" dokter meninggalkan mereka bertiga.
Ibunya pun dengan cepat langsung masuk ke kamar Cheryl ia kemudian menangis di depan anaknya, ke khawatiran yang baru ia rasakan seolah langsung menghilang setelah melihat Cheryl.
Ia mengecup kening Cheryl "Cepet sembuh ya nak!" Ucapnya sambil menangis, Lisa dan Sania yang berada di belakang Ibunya Cheryl terdiam melihatnya mereka berdua tertunduk. Sania mengalihkan pandangannya ke Cheryl berada tadi.
Tetapi tetap saja Cheryl masih di selimuti cahaya itu di tubuhnya. "Lis, Cheryl ada di depan aku!" kata Sania. "Terus dia kenapa-kenapa?" bisik Lisa. "nggak kok cuma dia penuh cahaya!" ucapnya.
"Masih sama kayak yang kamu lihat tadi ya?" ... "Udah nggak sekarang cahayanya sedikit menguning!" kata Sania.
"Cahaya kuning??" Lisa kemudian langsung menduga-duga dan menyangkut pautkan dengan Sania. 'cahaya kuning yang dulu itu apa ya?" Dalam pikir Lisa.
'apa ada hubungannya sama Sania?' Lisa menatap Sania dengan amat serius. Setelah beberapa lama mereka di rumah sakit, mereka pun pulang bersama-sama.
Saat mereka keluar dan sampai di halaman depan rumah sakit mereka bertemu dengan Hana. "Lho kakak?" Sapa Sania dari beberapa langkah di hadapan Hana.
"Kakak mau cek temen kakak kemaren dateng kesini" ... "Udah kak?" kata Sania. "Belum, kalian pulang aja duluan" kata Hana. Setelah itu saat Hana berjalan masuk ke rumah sakit. Sania melihat aura gelap pada diri Hana.
'Hah! Kak Hana!!' Dalam situasi itu Sania kemudian berbalik dan memegang lengan Hana. "Kak jangan pergi!!" ucap Sania sambil mejam. "Lho kenapa? kakak nggak kemana-mana cuma mau nengokin temen kakak yang kemarin disini" kata Hana.
Lisa dan Hana tidak mengerti apa yang terjadi dengan Sania. Tetapi mereka melihat Sania nampak serius dan ke takutan. "Sania kamu kenapa?" kata Lisa di samping Sania.
"Hari ini kakak harus pulang!" kata Sania serius. "Ya udah nanti kakak langsung pulang!" .. "Tapi kamu jangan begini, kakak cuma sebentar Sania!" kata Hana.
Lalu mereka berdua membawa Sania duduk di teras rumah sakit. "Sania minum dulu" Lisa memberikan sebotol air mineral untuknya. "Kamu kenapa dek?!" Hana menanyai Sania yang barusan bersikap aneh.
Sania meminum air yang di berikan oleh Lisa ke dirinya. "Aku khawatir kak!" ucap Sania. Ia juga memandangi Hana dengan tatapan yang amat sayang. Namun pandangannya itu tertutup warna aura yang sedikit samar-samar.
"Nanti aja kak, bentar lagi aja kalo kakak mau pergi!" kata Sania dengan lembut. Sebelumnya Sania melihat Hana dengan warna aura yang begitu gelap. Tetapi setelah ia melihat lagi dan menunda Hana pergi. Yang ia lihat saat ini warna aura itu sudah sedikit memudar.
"Ya udah kakak disini dulu deh!!" .. "Emang kamu lihat apa kok sampe ketakutan kayak tadi?" Hana mengerti apa yang di rasakan adiknya barusan.
"Aku takut!!" jawaban Sania hanya begitu, Entah takut apa, yang jelas Sania menjawab demikian. Setelah mereka duduk di teras rumah sakit sedikit lama, tiba-tiba alarm rumah sakit berbunyi.
Semua orang panik lari keluar pada menyelamatkan diri. "Lho ada apa ini!!" Hana, Lisa dan Sania pun bingung melihat orang-orang berlarian keluar.
"Pak ada apa ya?" Lisa menanyai seseorang yang baru saja keluar dari gedung sebelah kiri. "Nggak tau dek, tapi dari lantai bawah ada api disana" ucapnya.
"ada api?" kata Lisa. "Iya, kurang tau itu apa, kayaknya kalo nggak salah dari gas dapur rumah sakit" kata Bapak-bapak itu.
Setelah Lisa menanyai orang yang baru saja keluar dari tempat itu Lisa dan Hana menatap Sania dengan tatapan yang kagum. Seolah mereka kagum dengan Sania yang sepertinya tau akan hal itu.
'Apa Sania lagi-lagi kebetulan? kok bisa pas begini sih? sampe nyegah Hana pergi' ucap dalam pikir Lisa.
Asap yang menggumpal sebelumnya di lantai dua tiba-tiba muncul sebuah api disana. Lalu mobil pemadam kebakaran datang mereka mencoba memadamkan api yang belum membesar itu.
"Sania!!" kata Hana tetapi pandangannya ke arah gedung yang ada di depannya. "Kamu kok bisa!!" kata Hana. "Bisa apanya kak?" Sania tidak mengerti apa yang di maksud Hana.
Yang jelas Sania saat ini melihat ke diri Hana tidak lagi di selimuti dengan aura gelap.