
Setelah melewati jalan yang di buat oleh bola cahaya kuning Sania langsung membuka matanya saat Hana masuk ke dalam, ia melihat Sania yang sudah sadar.
"Sania!! Syukur deh!! ini minum dulu!" kata Hana ia menyodorkan segelas air di tangannya. Lalu kemudian Hana meletakan air hangat yang ia bawa. "Kamu kok baru bangun! nggak biasa-biasanya kamu bangun siang!" kata Hana.
Setelah minum Sania seketika memeluk Hana, "Kak aku takut!" katanya. "Eh! kamu takut kenapa?" Hana tidak mengerti apa yang ia katakan. "Aku takut itu gelap!" katanya dalam dekapan Hana.
"Ya udah nggak perlu takut! kamu pasti mimpi yang aneh lagi ya!" kata Hana sambil mengira-ngira. Sania tidak menjawabnya ia masih memeluk erat Hana di dekatnya.
"Ya udah nanti kamu keluar ya! kakak tunggu di luaer!" kata Hana, Sania lalu melepas peluknya dari Hana. "Iya kak! nanti aku keluar!"
Hana keluar dari dalam tenda membawa gelas dan juga air hangat yang sebelumnya ia bawa masuk ke dalam. "Adek kamu kenapa Na? sakit?" Rizal dari samping tenda kiri melihat Hana membawa barang yang ia pegang.
"Nggak kok! dia baik-baik aja" sahut Hana. Sania lalu keluar dari dalam tenda, pagi itu semuanya tampak ramai di halaman. Sania mencoba mendekat dan membantu mereka.
"Ehh Sania! baru bangun" Sapa gurau oleh Aldo. Sania tersenyum malu di sapanya.
Semuanya tampak baik-baik saja tetapi ada hal lain yaitu Nadif yang dari semalam terus diam termenung raut wajahnya menunjukan ada masalah dalam dirinya. Pandangan Sania tertuju padanya.
Pagi itu juga tidak ada aura merah lagi, dan tidak ada yang perlu Sania khawatirkan dari sebelumnya. Sania mencoba mendekati Nadif "Kak!" sapaan Sania tidak di balas olehnya.
Nadif terus melamun memandang ke arah api, "Kak!!" kata Sania sekali lagi ia tegur, Sania mencoba duduk di depannya dengan sengaja ia menyentuh bahu milik Nadif.
Seketika Sania di lihatkan kejadian yang di alami Nadif, Sania menarik napas dengan secara terkejut ia langsung terjatuh. "A.. aww!!" serunya terjatuh depan Nadif.
Nadif yang sedang melamun itu juga langsung sadar dari lamunannya. "Ehh!!" serunya melihat Sania jatuh di hadapannya. Nadif segera menolong Sania membantunya bangun.
"Kamu nggak apa-apa?" tanyanya. "Iya kak aku nggak apa-apa!" kata Sania. Lagi-lagi Sania di lihatkan kejadin milik Nadif. Pupil matanya membesar lagi matanya melotot ke arah Nadif. Nadif pun heran melihat Sania begitu ia terkejut dan mundur beberapa langkah dari hadapan Sania.
"Halo!" Nadif melambaikan tangannya di depan wajah Sania. "pupil matanya kembali normal, ia langsung menatap Nadif yang ada di depannya. "Iya kak kenapa?" kata Sania.
"Nggak ada apa-apa!" jawab Nadif menggelengkan kepalanya pelan, dengan wajah yang sedikit takut melihat Sania. "Aku permisi dulu!" kata Nadif lalu ia pergi meninggalkan Sania begitu saja dengan raut wajah yang masih takut.
'tadi itu apa? kok aku bisa ngerasa dia tau masalah aku!' Nadif berpikir demikian karena ia merasa kalau Sania tau masalah tentang dirinya.
Sania menatapnya dari belakang Nadif seolah ia paham apa yang Nadif rasakan saat ini hanya saja ia belum berani menanyainya langsung.
Sania melihat masalah Nadif, ia berselisih dengan orang tuanya, entah tentang apa yang Sania lihat tetapi ia melihatnya jelas kalau Nadif bertengkar.
Sania tidak melihat apa yang membuatnya murung sampai pagi ini, 'apa dia membuat kesalahan terus jadi murung gitu?' dalam pikir Sania.
Ia kemudian berjalan meninggalkan tempat ia berdiri disana, seketika bayangian hitam yang sering ia lihat sebelumnya muncul kembali di hadapannya, dan kini Sania melihat dengan jelas bayangan itu.
"Jangan-jangan hari ini!!" kata Sania. "Sania!!" Hana memanggilnya dari tenda. Sania langsung menoleh ke arahnya dan berjalan menuju tenda.
***********
Pagi menjelang siang semuanya sibuk berkemas merapikan barang-barangnya. Acara kumpul bareng dengan teman Hana pun berakhir di siang hari. Semuanya menganggkat barang bawaannya ke mobil.
Sania berjalan ke mobil sambil terus memikirkan Utari yang sebelumnya ia ingatkan kemarin. "Semoga dia nggak bener-bener kayak yang aku lihat!" ucapnya.
Semuanya pun selesai membereskan barang-barang mereka masing-masing dan meninggalkan puncak. Di perjalanan pulang Sania lagi-lagi melihat bayangan itu sekilas secara terus menerus.
'Ada apa sih ini!' Pikirnya cemas. 'apa ada hal buruk yang akan menimpa Utari?' ... 'aku harap jangan sampe, kemaren kan udah aku bilang dan dia juga sempet cerita kalo ada temen dia mirip denganku'
Sania terus berpikir selama perjalanan pulang. Sekilas bayangan yang ia lihat menjadi menyeramkan, seolah akan terjadi. Ia melihat Utari tewas.
Di dalam yang Sania lihat Utari tewas tanpa ada penjelasan yang ia lihat Utari yang sudah tergeletak di jalan. Itulah yang Sania lihat.
Di dalam mobil Sania menjadi gelisah karena kemarin setelah ia katakan dengan Utari ia tak lagi melihat bayangan yang terus menghampirinya. Dan kini itu terjadi lagi.
Setelah beberapa lama meninggalkan puncak mereka pun sampai di jalan raya biasa. Mobilnya melaju terus tanpa henti hingga akhirnya sampai di rumah Nindy.
Mereka semua turun bersama-sama menurunkan barang-barang yang di bawa dari rumah Nindy. Setelah selesai menurunkan barang-barang Hana di ajak oleh Aldo untuk menaiki mobil untuk di antar, Hana menolak ia akan pergi bersama Sania ke tempat lain.
"Maaf ya Do, lain kali deh!" kata Hana menolah ajakan Aldo. "oke deh, kalo gitu kita pergi dulu ya!" kata Aldo ia menekan klaksonnya dan meninggalkan rumah Nindy bersama teman-temannya.
"Kak kita mau kemana lagi?" tanya Sania, "Nggak kemana-mana sih cuma males aja kakak ikut mereka!" kata Hana "Oo kirain mau pergi beneran" kata Sania.
Sania lalu berjalan menuju rumah Nindy. "Nin! aku numpang ya!!" seru Hana dari depan rumahnya. "Iya santai aja kali!" jawab Nindy dari dalam rumahnya.
************
Suara mobil ambulan lewat terdengar dari rumah Nindy, Sania langsung mengalihkan pandangannya ke mobil itu, ia melihat aura hitam ada di sekitar mobil tersebut.
"Aura Hitam!?" serunya "Jangan-jangan itu Utari!!" kata Sania sambil mengira-ngira. Ia terus memperhatikan mobilnya seketika pandangannya menjadi dekat dengan mobil itu.
Sania menatap dari kejauhan tetapi ia mampu melihat isi dari mobil ambulan tersebut. Pupil matanya kembali membesar, bak memiliki mata ke tiga ia melihat isi mobil itu dengan jelas dari bola matanya.
Melihat isi dari mobil itu yang ia kira sebelumnya adalah Utari namun bukanlah ia yang Sania lihat tetapi orang lain yang berada disana. Aura hitam yang mengikuti mobil tersebut adalah aura yang sebelumnya di alami oleh orang itu.