Sania Anak Indigo

Sania Anak Indigo
52. Mencoba Mencegah


"Aku cuma mau bilang mbak, kalo nanti malam jangan lewat situ ya!" kata Sania sambil menunjuk ke jalan setapak yang ada di samping sekolahnya.


"Lho kenapa dek? kan biasanya juga saya lewat situ" ucapnya santai. Sania terdiam dia bingung mau menjelaskannya bagaimana agar dirinya tidak lewat jalan setapak itu. "Aku cuma takut aja mbak, disitu soalnya gelap!" ucap Sania dengan polosnya.


"Nggak apa-apa kok, lagian mbak juga lewat situ nggak malam-malam banget" Mendengar katanya barusan membuat Sania menarik napas dengan lega. "Pokoknya mbak kalo udah jam 9 jangan lewat situ ya" Sania sambil memohon.


"Iya deh, nanti mbak nggak lewat situ, kalo emang itu buat keselamatan mbak!" ucapnya, tampaknya Wanita itu mengerti apa yang Sania katakan barusan dengan memohonnya.


"Makasih ya mbak, aku cuma khawatir aja soalnya kemaren aku liat ada orang yang aneh disana kebetulan aku juga sering liat mbak lewat situ" ucap Sania. Sania sengaja berkata seperti itu karena ia takut dengan yang ia lihat sebelumnya.


Sania dan teman-temannya kembali ke halte setelah memberitahu hal itu Sania merasa lega tetapi dia masih menyimpan rasa khawatir dengan wanita itu. 'semoga dia baik-baik aja,' Sania masih gelisah dan memikirkannya.


"Sania!!" Lisa menyentuh pundak Sania yang sedang melamun. Sania menengok ke arahnya, "kamu kenapa Nia?" ucap Lisa dengan lembut. "Aku masih kepikiran sama wanita itu," kata Sania dengan khawatir.


"Lho bukannya tadi udah ketemu kan sama mbaknya" kata Lisa, "Kenapa masih khawatir?" tambahnya.


Sania diam lalu dia memandang ke arah jendela mobil bus. Ia tampak terlihat bersedih, dia merasa pasti wanita itu akan terkena hal lain selain perampokan di jalan setapak itu.


************


Sania dan Lisa turun di dekat rumahnya seperti biasa, mereka berdua berjalan bersebelahan, Cheryl dari arah depan Sania sudah menunggunya, tetapi Sania tertunduk ia tidak melihat kalau Cheryl sedang ada di depannya.


Sania melewati Cheryl dan Cheryl menatap ke arah Sania, Cheryl melihat Sania sedang sedikit melamun pandangannya kosong ke arah tanah. "Kak!!" seru Cheryl dari belakang Sania.


Sania terhenti langkahnya saat Cheryl memanggilnya. Sania menoleh ke belakangnya dan melihat Cheryl. Lisa yang berada di samping Sania juga ikut berbalik badan. 'Sania kenapa?' dalam pikiran Lisa bertanya.


"Cheryl!!" seru Sania, mendengar yang di ucapkan Sania, Lisa sudah tidak heran lagi dengannya ternyata ada Cheryl di belakang mereka. Walau Lisa tidak bisa melihatnya tapi dia percaya dengan Sania.


Sania berjalan mendekat ke arah Cheryl, dia membukukkan badannya "Kamu udah lama disini?" Sania mendekat dan langsung menanyainya. "Iya kak, tadi aku duduk disini tapi kakak nggak liat aku" ucap Cheryl.


"Ahh, maaf kakak sedikit melamun tadi" kata Sania dia tersenyum ragu mendengar yang di katakan Cheryl barusan. Lisa mendekat ke Sania dan memegang punggung Sania "Nia!" Sania menengok "Ada Cheryl di sini ya?" kata Lisa memandang ke arah depan Sania.


"Iya Lis, Cheryl ada di depan aku" ucapnya. "Ya udah kakak pulang dulu ya, nanti dateng aja ke rumah kalo gitu" kata Sania dia kemudian berdiri tegak dan berbalik badan. "Lis ayo pulang" Sania mengajak Lisa untuk pulang.


Mereka berdua berjalan meninggalkan Cheryl sendirian di pinggir jalan, 'aku mau ngomong ke kak Sania kalo aku sebentar lagi bakalan sembuh' ucapnya dalam hati Cheryl. 'Semoga kakak ikutan senang' kemudian Cheryl tersenyum sambil memandang Sania dari belakangnya.


***********


"Kak, aku bentar lagi sembuh," ucap Cheryl. "Sembuh?? maksud kamu, kamu udah kembali normal lagi!!" seru Sania spontan mendengarnya.


"Iya kak," Cheryl tersenyum meringis. "Terus kapan itu?" kata Sania. "Aku juga belum tau kak, aku udah di bawa ke ruangan perawatan" ucapnya. "Oo, cepet sembuh ya Cheryl" Sania memegang pipi Cheryl dengan manja.


"Makasih ya kak!" seru Cheryl tersenyum pipinya merona, dan air matanya keluar seketika. Dia langsung memeluk Sania dengan cepat. "Eh eh, kamu kenapa?" Sania bingung. "aku cuma mau bilang makasih udah nemenin aku" ucapnya.


"Udah santai aja lah, nanti kan kita ketemu lagi di dunia nyata" kata Sania. "tapi aku nggak tau bakalan inget apa nggak," kata Cheryl. "maksudnya gimana?" kata Sania.


"Kakak pasti pernah denger kan kalo orang yang kritis di rumah sakit itu ruhnya keluar, kalo ruhnya balik lagi terus orang itu sembuh pasti orang itu lupa dia udah keluar kemana aja" ucap panjang Cheryl. Sania pun langsung memahami yang dj katakan Cheryl barusan.


Sania terdiam, lalu seketika dia tersenyum kembali ke arah Cheryl. "Ya udah nggak apa-apa yang penting kamu bisa sehat lagi" ucap Sania. Cheryl tersenyum sedih mendengar Sania. "walau aku nggak bisa inget, tapi aku masih bisa ngerasain baiknya kakak" kata Cheryl.


"Ya udah ya kak, aku mau pergi dulu" Cheryl menghilang seketika setelah dia mengatakan sesuatu ke pada Sania. Tetapi ada hal beda yang di rasakan oleh Cheryl saat dia berhadapan dengan Sania.


Cheryl melihat Sania penuh dengan cahaya, Sania berkilauan berbeda dari sebelumnya Sania sangatlah menyala. "apa mungkin ini yang dimaksud sama kak Adhyasta?" ucap Cheryl saat dia pergi meninggalkan Sania.


"Mata kak Sania begitu terang" katanya lagi, "aku harap bisa mengatakan ke ayahku agar dia tidak merampok lagi" ucap Cheryl, dia berharap agar bisa mengobrol dengan ayahnya dan menghentikan ayahnya agar tidak merampok lagi.


"Coba deh besok aku bilang kak Sania buat membujuk ayahku" ucapnya. Cheryl pun tiba dk rumah sakit ia langsung menemui ayah dan ibunya dj ruangannya.


"Sabar ya bu!! sebentar lagi Cheryl sembuh kok" kata Ayah Cheryl. Cheryl yang sedang datang ke arah mereka pun berhenti, matanya berbinar, "ayah!!" ucapnya.


"Aku sayang ayah!!" serunya, Ia pun tak kuasa menahan air matanya setelah ia mendengar itu, ayahnya juga sedang memeluk ibunya yang tengah menantikan Cheryl. "aku pasti sembuh kok ma, tapi sebelum itu aku harus buat ayah berhenti merampok" ucap Cheryl.


Mungkin ke dua orang tuanya tidak mendengarnya tetapi Cheryl mempunyai tekad dan rasa sayang yang kuat terhadap mereka. Cheryl langsung menghampiri mereka berdua dan langsung memeluknya.


***********


"Huuff!!" ... "kenapa aku masih mikirin mbak-mbak tadi ya" kata Sania ia sambil berguling di atas kasurnya. "Semoga dia nggak lewat situ" ucapnya.


Kemudian dia pun memejamkan matanya perlahan, dan mulai terlelap.