
Mereka berdua sampai di rumah teman Hana, dan segera turun dari mobil. "Hana!!" seru seorang wanita dari balik pagar, lalu ia menghampiri Hana dan Sania di luar pagar rumahnya.
"Ayo masuk!" ajaknya teman Hana. "Ini adek kamu Na?" teman Hana memperhatikan Sania yang berdiri di samping Hana. "Iya, kenalin ini Sania!" kata Hana. Sania lalu berjabat tangan dengannya. "Aku Sania kak!"
"Aku Nindy!" ucapnya. Sania langsung senyum ke padanya. "Hari ini kita langsung pergi Nin?" kata Hana. "Iya tapi nanti dulu deh, tunggu yang lainnya!" kata Nindy.
Mereka berencana reuni kelas di puncak selama 1 malam bersama kawan-kawan Hana. Sania tidak pernah tau akan hal itu, yang Sania tau dia ikut dengan Hana karena Sania khawatir akan terjadi sesuatu dengan Hana.
Beberapa saat setelah mereka sampai di tempat Nindy teman-teman Hana pun tiba. Mereka semua sudah siap untuk pergi ke puncak selama semalaman.
"Halo gaes!! kita semua udah siap nih!" kata salah seorang cowok berkemeja. "Ya udah ayo kita langsung berangkat aja!" kata Nindy.
"Ya udah ayo, Ehh ini adik kamu ya Han!" kata seorang pria berkemeja itu. "Iya nih, adik aku Sania" kata Hana. "Halo, aku aldo!" menyapa Sania.
"Sania!!" ucapnya malu-malu. Lalu kemudian mereka semua bersiap untuk pergi ke puncak. Mereka ber 7 langsung ke arah mobil yang sudah mereka siapkan sebelumnya.
Saat semuanya berjalan menuju mobil perasaan Sania mulai tidak beraturan, Ia merasakan hal yang menyeramkan saat akan pergi.
Mereka bertujuh empat wanita dan tiga pria, saat meraka berjalan ke mobil dan Sania yang tengah berdiri diam di teras rumah Nindy, ia melihat bermacam-macam warna aura milik teman Hana.
Dan termasuk Hana, tidak ada yang berwarna gelap yang Sania lihat semuanya memiliki warna.
"Jangan pergi!!" ucap Pria Hitam yang mendadak mengatakan itu di samping Sania.
Sania langsung menoleh dan mundur beberapa langkah dari Pria Hitam itu dengan mata yang menjelit ke arah Pria Hitam.
"Kamu!!" matanya masih melotot ke arahnya. "Sania kamu jangan pergi, ajak Hana kembali!" ucapnya. "Kenapa? apa ada yang salah?"
"Kamu pasti ngerasain sesuatu kan? lebih baik nggak pergi walaupun bukan apa-apa tapi kamu bisa ngerasain hal itu!" ucapnya. Sania terdiam lalu pandangannya ke arah mobil. "Sania ayo!!" seru Hana di dekat mobil.
Sania mendadak menjadi bimbang ia menatap pria hitam itu dan juga menatap Hana. Ia bingung memilih mana, Pria Hitam itu menggelengkan kepalanya memberi kode untuk tidak pergi.
Sania akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan Pria Hitam yang tengah berdiri di dekatnya. "Iya kak aku kesana!" berjalan ke arah Hana.
Pria Hitam itu menatap Sania lalu perlahan menghilang. Sania juga demikian menatapnya kemudian mobil yang tengah ia tumpangi pun melaju pergi.
Sania sebenarnya ingin melakukan yang di katakan Pria Hitam itu, tapi ia takut merusak acara milik Hana. Di dalam mobil ia tidak sengaja menyenggol lengan dari salah seorang teman Hana.
Seketika Sania tidak sengaja melihat kejadian yang ia alami sebelumnya, pupil matanya membesar dalam beberapa detik, ia langsung menarik lengan yang menempel dari teman Hana tersebut.
Hana yang ada di sampingnya melihat Sania yang bertingkah aneh "Sania kamu kenapa?" Hana berbisik ke Sania. "Nggak kak! aku tadi nggak sengaja kesenggol temen kakak!" jawabnya.
"Apa? apa yang kamu lihat?" kata Hana. Mereka berdua saling berbisik tidak ada yang menghiraukannya. "Bukan apa-apa kok kak, aku juga nggak tau apa yang barusan aku lihat, nggak ada kejadian yang aneh" ucap Sania.
"Baiklah kalo begitu, kalo ada apa-apa cerita ya!" kata Hana. Sania mengangguk ia melihat sekeliling dalam mobil, ia juga menatap teman Hana yang ia senggol tadi.
Semua di dalam mobil auranya pun sama rata yang Sania lihat, aura itu berwarna sama seperti Hana. 'kenapa jadi warna merah pekat semua?' dalam pikir Sania melihat aura mereka semua.
************
Setelah dua jam mereka menaiki mobil akhirnya sampai di puncak, semuanya keluar termasuk juga Sania. Cahaya matahari pun mulai meredup sekitar jam 4 sore di puncak sudah terasa gelap.
Semua teman Hana menyiapkan tempat untuk istirahat dan juga tempat untuk duduk menikmati malam bersama api unggun.
Tidak ada hal aneh saat Sania melihat ke semuanya, tetapi ia masih di gandrungi rasa takut yang sebelumnya ia rasakan. Pria Hitam itu kembali muncul di hadapan Sania, kali ini ia muncul tidak secara tiba-tiba mengejutkannya.
"Sania!!" ucapnya di depan Sania. "Kamu lagi? kenapa kamu ada disini?" tanya Sania. "Aku mengawasimu!" jawabnya. "Kamu berhati-hati saja dengan semua hal yang di lakukan disini! apa yang kamu rasakan itu pasti ada yang akan terjadi!" ucapnya.
Sania mendengarkan yang di katakan Pria Hitam itu ia juga memandang ke arah teman-teman Hana yang sedang menyiapkan tempat. "Iya kak, aku pasti hati-hati. aku cuma khawatir aja, aura mereka semua sama! merah pekat" kata Sania. "Aku juga melihatnya!"
"Kamu bisa lihat?" Sania sedikit terkejut mendengar Pria Hitam itu melihat warna aura itu. "Iya, aku bisa melihatnya! merah pekat bercahaya!" ucapnya.
Sania memandang Pria Hitam itu dengan sedikit menjelitkan matanya. 'siapa sebenernya dia sih aku masih penasaran sama dia' ucap Sania dalam pikirnya.
'itu adalah bola cahaya kamu selanjutnya Sania!' Adhyasta (Pria Hitam) tidak memberitahu ke Sania bahwa itu adalah cahaya yang akan menjadi bola cahaya miliknya.
Angin spoy-spoy bertiup, cahaya matahari sudah tidak terlihat lagi, dan sekeliling menjadi remang-remang. Seseorang menyalakan api, membakar kayu yang sudah mereka kumpulkan.
Sania berjalan mendekat ke api unggun tersebut dan duduk di dekat Hana. Malam pun tiba, suasana puncak sedikit sunyi suara jangkrik dan binatang malam mulai berbunyi.
Ada dua orang wanita yang sedang menyiapkan makan malam. Sementara yang lainnya sedang menikmati malam bersama api unggun.
"Ahh sayangnya kita cuma bisa berenam untuk reuni kelas ini!" ucap seorang pria berbaju kemeja. "Yang lain kan pada sibuk bro!" jawabnya pria yang duduk di samping pria berkemeja itu. "Kita adain ini itu untuk rame-rame!" ucapnya.
Teman Hana yang sedang menyiapkan makanan itu datang, "Makan malam udah siap gaes!" ucapnya. "Yee asik!" seru Aldo kegirangan. Semuanya mendekat dan mengambil makanannya masing-masing.
"Wah malam begini enaknya minum yang hangat juga dong!" kata Pria berkemeja itu. "Yee bikin aja sendiri itu di tenda ada kopi sachet sama air panas!" seru Nindy.
Malam itu mereka semua duduk dan menikmati malam bersama dengan api unggun. Sania juga ikut terlibat. Ia tidak merasakan hal apapun saat bersama, Pria Hitam itu juga masih berdiri di tempat tadi memandang ke mereka semua.