
Setelah ia berhenti sejenak melihat gendung kosong itu ia pun berbalik dan langsung menghampiri Hana dan Lisa. 'aneh banget deh, aku ngerasain ada yang mantau dari gedung itu'
'tapi kalo kata Lisa gedung itu udah lama di tinggalin pekerjanya, aku jadi penasaran' Sania berjalan dan terus berpikir tentang gedung tersebut.
Sampai di dekat ruang UGD mereka berpisah dengan Hana, Sania dan Lisa langsung masuk ke dalam kamar Utari, mereka melihat Utari sudah terbangun di atas kasurnya.
"Halo kak! udah bangun?" sapa Lisa "Lho kalian!" spontan Utari terkejut melihat mereka berdua berada di kamarnya. "Iya kak, kita datang, kita tadi lihat ada rame-rame di deket toko kakak jadi kita coba cari tau" ucap penjelasan Sania ke Utari
"Syukur deh kalo kakak nggak ada yang cedera serius" kata Lisa ia sambil mendekat ke Utari. "Iya kakak juga ngerasa beruntung" ucap Utari, "Memang kejadiannya gimana sih kak? kok bisa sih sampe bikin kakak begini?" Sania penasaran dengan Utari yang mengalami kecelakaan.
"Kakak cuma mau nyelamatin nenek-nenek yang hampir ketabrak mobil" tukasnya "waktu kakak tarik nenek itu mobil itu nyerempet kakak" ucapnya.
"jadi kakak jatuh dan kakak lupa abis itu" imbuhnya. "Kakak pingsan kali tadi, waktu kita kesini juga kakak lagi tidur" kata Sania. "Iya kali, abisnya kakak juga lupa sehabis kakak jatuh, tau-tau udah di rumah sakit aja" tuturnya.
"Ya udah kak, cepet sembuh ya ini kita bawain roti buat kakak" Lisa meletakan roti itu di meja, Utari mencoba duduk menyender ke dinding "Ada luka serius nggak kak?" Lisa menatap luka-luka milik Utari dengan serius, "Nggak kok cuma terkilir doang tangan kakak"
"Tapi itu lumayan banyak lukanya kak!" Lisa terus menatap Utari dengan serius, "udah nggak apa-apa kakak baik kok cuma luka begini doang nanti juga sembuh" ucapnya. Sania mendekat ke Utari, "apa mungkin ini ada sangkutannya yang aku lihat tadi pagi ya Lis?" kata Sania serius.
"Mungkin ini bisa jadi juga Nia, kan kita sebenernya mau ke toko kak Utari tadi pagi, tapi karena kita terlambat ke sekolah jadi kita mutusin buat masuk ke kelas" kata Lisa, Sania mengangguk
"Emang apa yang kamu lihat Sania?" Utari mendegar percakapan mereka berdua dan merasa penasaran dengan cerita mereka, "cuma bayangan kakak doang kok, tapi aura hitam yang aku lihat jadi makanya aku tadi pagi cemas" katanya.
"Emang kalo aura hitam yang kamu lihat kenapa?" Utari pun mulai penasaran, "biasanya kalo aku lihat aura hitam itu pasti ada aja kejadian kecelakaan, jadi makanya waktu aku lihat aura hitam milik kakak, aku jadi cemas" ucap Sania.
"Beruntungnya kakak cuma cedera ringan" ucap Lisa, "jadi sekarang kecemasan kita udah hilang waktu kita datang kakak baik-baik aja" imbuhnya, Sania pun duduk di kasur Utari ia juga melihat sekeliling kamar Utari tapi tanpa sengaja ia melihat di jendela ada rambut.
Ia pikir saat melihat rambut itu mungkin hanya seseorang yang berada disana, Sania pun tidak terlalu menggubris akan hal itu tetapi ia mulai kembali melihat lagi ke arah jendela saat itu juga rambut yang terlihat di jendela pun sudah hilang.
Saat kembali melihat jendela Sania mulai mengerutkan wajahnya dan mulai berpikir 'perasaan tadi di situ ada orang deh, ahh udah lah mungkin cuma perasaan aku aja kali'
'Tapi kalo dia bukan orang seharusnya aku bisa lihat dia walau dia berusaha nggak terlihat sama aku' Sania mulai berpikir keras dengan sesosok wanita yang akhir-akhir ini sering menghantuinya. 'kalo emang dia hantu ngapain juga dia gitu, aku juga seharusnya bisa lihat dia juga'
"Aku nggak ada apa-apa kok, cuma ada hal yang masih belum bisa aku ceritain" ucapnya, "emang hal apa sih sampe kamu nggak bisa cerita Nia?" Lisa semakin memojokan Sania agar dirinya mau bercerita. "Nggak ada Lis, nanti aja deh aku ceritain!" namun Sania masih tetap teguh ia masih tetap ingin merahasiakan hal itu.
"Ya udah deh kalo gitu, nanti aja kalo kamu udah bener-bener mau cerita" kata Lisa, tiba-tiba ada seorang dokter datang ke dalam kamar Utari.
"Bagaimana? kamu udah baikan?" kata dokter tersebut sambil berjalan mendekat Utari, "Iya dok, cuma masih kerasa sakit aja tangan aku" jawab Utari.
"Mari saya periksa lagi, kebetulan tangan kamu terkilirnya tidak terlalu parah jadi tidak bengkak di area yang terkilir" ucap dokter tersebut.
Ia mulai memeriksa Utari disana dan memegang tangan Utari yang terkilir karena kecelakaan, setelah ia memeriksa Utari dokter pun keluar dan meninggalkan mereka berdua di dalam kamar.
"Apa kakak boleh pulang?" Lisa seketika langsung bertanya ke pada Utari saat setelah di periksa oelh dokter, "Nggak tau, kakak juga belum tanya!" jawabnya.
Setelah beberapa lama mereka di dalam kamar Utari mereka berdua pun memutuskan untuk keluar dari dalam mereka keluar karena akan pulang. "Kita pulang dulu kalo gitu kak" Lisa berpamitan dengan Utari.
"Ehh iya kalian hati-hati ya" ... "Iya kak, kakak juga cepet sembuh ya" Lisa menjawab Utari, Mereka berdua pun berjalan keluar dari dalam kamar Utari, "kak Hana kira-kira udah pulang belum?" Lisa bertanya ke Sania.
"Kita tunggu disini aja kalo gitu, siapa tau dia belum pulang" kata Sania, mereka berdua duduk di kursi tunggu dekat kamar Utari, "Kamu yakin kak Hana masih disini" kata Lisa.
Sania bergeleng sambil tersenyum ke Lisa, "lah kirain kamu tau, ya udah ayo kita keluar aja" Lisa kemudian mengajak Sania untuk keluar dari rumah sakit menuju halaman luar.
"Kita mau ngapain Lis?" Lisa diam dia masih menarik Sania berjalan keluar. "Kita tunggu disini aja" mereka berhenti di dekat pintu keluar rumah sakit, saat mereka disana justru pandangan Sania tertuju ke gedung kosong itu.
Ia juga melihat sesosok wanita disana yang sama persis di jendela kamarnya, ia berdiri menghadap ke arah Sania menatap dari kejauhan dan ketinggian dari gedung tersebut.
"Eh Lis, kamu lihat gedung itu kan?" Sania bertanya ke Lisa apakah dia juga melihat sesosok wanita yang tengah berdiri di gedung tersebut.
Lisa pun menggelengkan kepalanya ia merasa ia tidak melihat siapapun selain gedung yang terbengkalai saja.