
Malam pun tiba suasana amat gelap di temani api unggun, perasaan Sania sangat sensitif malam itu, ia merasakan perasaan yang tidak membuatnya takut.
Tetapi perasaannya sangat sensitif malam itu, ia dapat merasakan hal-hal kecil di sekitarnya. Beruntungnya Adhyasta ada disana dengannya. Ia mengawasi Sania dan yang lainnya.
Adhyasta dapat melihat Sania yang menarik aura merah itu, aura yang ada pada orang-orang sekelilingnya. Tipis sekali aura itu mengalir ke dirinya dan mengelilingi dirinya.
Aura merah yang Sania lihat sebelumnya di Hana sekarang merata ke semua teman Hana dan kini mengalir tipis ke tubuh Sania.
Jadi perasaan Sania sangat sensitif karena aura tersebut. Aura itu membuka perasaan Sania, hal kecil yang sedang Sania rasakan adalah perasaan milik seorang gadis di sebelah Sania di antara Hana dan Nindy. Yaitu milik teman Hana yang bernama Nadif.
Malam itu Nadif terlihat diam tidak berbaur dengan yang lain, Sania mampu merasakan perasaan miliknya dari aura yang mengalir itu. Sania memandangnya dari sebelah Hana.
Namun Nadif hanya melamun memandang ke arah api unggun. Sementara Pria-pria malah senda gurau dengan yang lainnya.
Tidak ada hal lain lagi yang Sania rasakan aura merah terus mengalir dan mengelilingi dirinya disana. Semakin banyak semakin mengumpul di satu titik, membentuk bulatan bola di punggung Sania.
Adhyasta melihat fenomena ini di luar perkiraannya. Aura yang sebelumnya ia pikir adalah aura yang sangat mengerikan dan juga sebelumnya ia melarang Sania untuk pergi dan kini justru berbalik, aura itu mengalir ke tubuh Sania perlahan.
Bola cahaya lainnya pun muncul di punggung Sania seakan mendukung pembentukan bola cahaya yang baru, di punggung sebelah kanan yang paling atas bola cahaya itu berbentuk.
Semua orang tidak ada yang melihatnya kecuali diri Sania sendiri dan Adhyasta. Sania merasakan ada hal aneh di punggungnya, menyala terang seperti seseorang menyoroti dengan cahaya.
Berkali-kali Sania menoleh ke belakangnya ia tidak dapat melihatnya dengan jelas karena pembentukan bola itu.
Aura itu masih terus mengalir ke diri Sania semakin lama semakin deras aliran aura tersebut hingga membuat Sania hilang kendali. Sania mendadak pingsan dan terjatuh dari tempat duduknya.
Hana yang tepat berada di sampingnya dengan cepat langsung meraih tangan Sania, "Sania!" ucap Hana memegang tangan Sania.
Sania tidak menjawab ia terdiam karena pingsan, Hana melirik ke kirinya dan ke depannya, lalu kemudian ia langsung menarik Sania ke pelukkannya.
"Sania kamu kenapa!" Hana berbisik ke telinga Sania. Hana kemudian mengusap-usap lengan Sania berharap Sania sadar. "Sania bangun!" kata Hana.
Adhyasta yang mengawasinya itu dengan segera ia langsung mendekat ke Sania. "Gawat! auranya merenggut kesadarannya!" Ucap Adhyasta.
Ia berusaha menahan pembentukan bola cahaya itu yang semakin cepat alirannya. "kalau aku tidak bisa menahan Sania pasti dia akan hilang kendali dan bola cahaya merah ini akan membawa Sania dalam mimpinya" Adhyasta menarik semua aura merah itu.
Membawanya ke dimensi lain bersama Sania di alam sadarnya. "Sania ayo bangun!" ucap Hana terus berkali-kali ia memanggil Sania. Suara Hana terdengar jelas oleh Sania, menggema dan memantul di pendengarannya.
"Sania!" menggema tiga kali di dalam pendengaran Sania. Sania tengah terduduk menunduk dengan kaki menekuk. Lalu ia memandang ke atas karena mendengar suara Hana.
Hana mulai panik Sania tak kunjung sadar, teman Hana melihat Hana yang sedang kesusahan itu menanyakannya. "Hana! adek kamu kenapa?" tanya Aldo dari depannya. "Nggak tau! dia tau-tau pingsan!" ucap Hana dengan nada yang mulai panik.
"Eh-eh kita tolongin Sania, ayo angkat ke tenda!" kata Aldo. Tiga orang pria membantu Hana untuk mengangkat Sania ke dalam tenda, "Kok bisa sih!" ucap pria yang berbaju kemeja itu.
"Udah nanti aja nanyanya kita tolongin dulu aja!" kata Aldo. Seketika Sania membuka matanya membelalak pandangannya mengarah ke atas. Matanya menyala pupil matanya membesar, aura merah di sekelilingnya pun bisa di lihat orang-orang yang ada disana.
"Whaa!!" salah dari teman Aldo berteriak melihat Sania langsung membuka matanya itu. "Seketika Sania langsung berdiri, "Sania!!" Hana berlari dan langsung memeluk Sania.
Pandangan Sania menjadi was-was ia memandang semua sekelilingnya, aura merah pekat yang tengah mengalir sekarang sudah berhenti. Di dimensi lain Adhyasta sudah berhasil menahan aliran aura tersebut. "Syukur, bisa gawat orang-orang di luar sana kalo aku tidak segera bertindak"
Pandangan Sania yang sangat was was tadi juga sudah berhenti matanya kembali normal aura yang sempat keluar dari diri Sania juga sudah menghilang seketika. "Kak!!" Sania langsung memeluk Hana.
'Kok bisa sih! sebenernya adeknya Hana ini kenapa? apa tadi itu?' dalam pikir pria yang berdiri di sebelah Aldo. Ialah yang pertama melihat Sania membuka matanya tadi.
Ia sangat terkejut melihat hal tadi hingga teriak. "Woy, kamu kenapa?" ucap Aldo. "Kamu lihat kan tadi matanya nyala!" katanya. "Iya aku lihat!" jawab Aldo.
"Sebenernya adeknya Hana kenapa sih?" kata pria sebelah Aldo. "Aku juga nggak tau, aku juga baru pertama kali lihat kayak begini!" kata Aldo.
"nanti kita tanya aja ke Hana nya Zal gimana?" kata Aldo. "Ya udah nunggu mereka tenang dulu!" kata Rizal yang ada di sebelah aldo.
Hana kemudian mengajak Sania masuk ke dalam tenda, "Ya udah kamu istirahat aja disini kakak, jagain di luar!" kata Hana. "Tapi kak aku takut!" kata Sania.
"Kenapa?" ucap Hana. "Tadi itu gelap! aku nggak tau dimana, aku dengar suara kakak, tapi aku nggak bisa lihat" kata Sania.
Bola cahaya itu keluar lagi di punggung Sania kini Hana dapat melihatnya. "Sania!! apa itu!!" seru Hana dari dalam tenda. Pandangan Sania kembali berubah matanya menyala lagi.
Tangan Sania bergerak maju. Aura dari cahaya itu pun keluar bergerak sesuai gerakan tangan Sania. Aura itu bergerak membuka tenda, dan Sania keluar dan berdiri di depan teman-teman Hana.
"Sania!!" seru Hana dari dalam tenda. Ia menoleh ke belakangnya, Seketika Adhyasta muncul di depan Sania. "Sania! hentikan!" kata Adhyasta. Teman-teman Hana langsung berlari berpencar. "Itu sebenernya apa sih? adeknya Hana kenapa sih!!!" seru Rizal saat sedang berlari menjauhi Sania.
Sania menatap Adhyasta dengan pandangan sinis, seolah ia terkendali oleh rasa kebencian yang amat tinggi. "Sania sadarlah!!" kata Adhyasta.
Sania kemudian menggerakan tangannya ke arah depan, aura itu juga ikut mengikutinya, ia menyerang adhyasta yang tengah berdiri di hadapannya.
Adhyasta kemudian berusaha mengendalikan waktu tetapi Sania juga dapat meniru gerakkannya. Adhyasta mencoba membawa Sania ke dimensi lain, waktu seketika berhenti Sania memandang sekelilingnya. Adhyasta dengan segera mungkin memegang kening Sania dan merubah lokasinya ke dimensi lain.