
Kania tidak tahu arti pasti kalimat Drake. Tapi ia berusaha menenangkan suasana agar rapat bisa tetap berjalan. “Seseorang itu pasti sangat spesial—tapi saya minta fokuskan sejenak diri anda pada rapat.”
“Oke.” Drake mengangguk. Lalu duduk sembari melipat tangannya.
Rapat berjalan lancar. Semua pengambilan keputusan berdasarkan masukan orang-orang. Kania menjadi pemimpin perempuan yang tidak bisa diremehkan. Apalagi sekarang perusahaanya meroket, orang-orang mulai segan dengannya. Tidak ada lagi yang meremehkannya hanya karena perempuan.
Dulu ia sering sekali mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari calon kliennya. Menggapnya remeh hanya karena perusahaannya masih kecil. Dulu ada yang terang-terangan ingin menjadikannya selingkuhan dan sebagai bayarannya menanam saham dalam jumlah besar. Tentu Kania langsung menolak. Penolakannya dianggap sebagai tindakan merendahkan. Pria tua itu langsung berkoar-koar katanya Kania terlalu jual mahal.
“Kau tidak akan sukses jika terlalu jual mahal. Aku yakin sekali tidak akan ada yang tertarik dengan perusahaan kecilmu itu. Sebentar lagi pasti akan hancur!”
Semua orang yang berada di dalam restoran memandangnya kasihan. Tapi sekuat tenaga Kania berusaha teguh dengan prinsipnya, tidak ada cara kotor untuk membangun sebuah bisnis.
Jika mengingat kalimat menusuk itu, Kania sangat benci dan marah. Dulu ia belum berani melawan orang berpengaruh karena terlalu berisiko. Ia memilih diam dari pada memperpanjang masalah.
Kania berdiri. Senyum di bibirnya terbit begitu lebar. “Terima kasih atas waktunya sekalian. Saya berharap kerja sama ini bisa saling menguntungkan dan terjalin lama. Selamat siang.”
Semua orang berjalan keluar. Kania masih merapikan beberapa berkas yang berada di atas meja. Ia tidak sadar jika ada seseorang yang diam-diam memperhatikannya dengan seksama. Rahangnya menajam—pandangannya tidak lepas sama sekali.
Drake berjalan maju. Kania berhenti saat mencium aroma maskulin yang akhir-akhir ini dihapalnya di luar kepala.
Drake yang sudah berada di dekatnya membuatnya reflek berjalan ke belakang menghindari. Sial, tubuhnya berhenti saat membentur meja. Tubuhnya semakin terpojok ketika tubuh Drake yang tinggi melingkupinya.
“Kau tahu apa yang mengangguku saat rapat?”
“Apa?”
“Kau.” Tangan Drake menyusuri pipi semakin turun sampai ke pinggang. Semakin turun lagi hingga menyentuh paha Kania yang terbalut kain. “Kenapa kau lancang sekali memerkan tubuhmu pada orang lain.”
“Aku tidak serendah itu! Aku sudah biasa memakai setelan ini untuk meeting.”
Drake menunduk. Nafasnya menerpa leher Kania. “Kau tidak tahu seberapa kuat aku berusaha menahan diri untuk tidak merobek pakaianmu yang kurang bahan itu. Sia lan Kania. Kau benar-benar membuatku terus marah.”
“Perlu kau catat, aku memakai pakaian yang nyaman untuk tubuhku. Aku tidak perlu menuruti perkataanmu hanya soal pakaian. Tidak penting!” dengan nafas yang memburu Kania berjalan ke arah pintu keluar.
Tidak semudah itu karena Drake lebih dulu menarik dan membalikkan tubuhnya. “Kau lupa? Perlu kutegaskan agar kau mengerti?” Tangan kekar itu merayap dari pinggang semakin ke bawah. Membelai paha yang masih terbalut kain.
“Kau lancang—Drake!” hardik Kania berusaha melepaskan diri.
“Tidak—aku tidak lancang. Kau milikku, sepertinya aku harus benar-benar menegaskan dirimu arti milik itu seperti apa.” Dengan gampangnya Drake mengangkat tubuh Kania hingga duduk di atas meja rapat.
“Stop—Drake! biarkan aku pergi.” Kania tidak bisa menyerah begitu saja. Kania sama keras kepalanya dengan Drake.
Belum sempat mendekat. Kania lebih dulu menendang aset berharga seorang aktor. Drake kesakitan dan langsung mundur. “Shit!” umpat Drake.
“S-Sory—Drake tapi aku harus melakukannya,” setelah mengucapkan permintaan maafnya Kania langsung kabur terbirit-birit.
Kania menghilang di balik pintu. “Aaargh,” teriak frustasi Drake.
Kania lebih dari perkiraannya. Perempuan yang berani menolaknya berkali-kali. Perempuan yang takut tapi masih berusaha melawan. Dan perempuan yang bisa melakukan apapun demi mempertahankan apa yang telah diperjuangkan. Bukannya merasa menyerah, justru Drake semakin tertantang menaklukan perempuan itu apapun yang terjadi.
~~
“Ah—kau tidak waras Kania! Seharusnya aku tidak menendangnya.” Kania memukul dahinya pelan. “Tapi kalau aku tidak menendangnya—dia bisa saja melecehkanku lagi.”
“Sial—aku harus apa?”
Dering di ponselnya menyadarkan Kania. Ia melihat sebuah pesan masuk.
The Devil Drake: Aku akan membalas perbuatanmu!!!
Kania mencak-mencak. Betapa kawatirnya ia sekarang. Apa yang akan diperbuat Drake pada dirinya. Seketika keinginan untuk pulang ke Yogyakarta terlintas di kepalanya. Sudah setahun terakhir ia tidak pulang karena terlalu sibuk mengurusi binisnya. Sekarang ia ingin pulang dan berlari sejauh mungkin dari pria itu.
“Tidak bisa—aku tidak boleh pulang. Bagaimanapun aku harus menghadapinya,” ucap Kania pada dirinya sendiri. “
~~
Berjalan keluar. Sekarang pukul 1 malam. Sangat melelahkan karena berusaha menghindari seseorang. Bekerja sampai larut malam, bukan—tapi lebih ke menyibukkan diri mungkin. Kania mengerjakan suatu hal yang biasanya ia limpahkan pada staffnya.
Masuk ke dalam Penthousenya—Kania mencari saklar lampu dan menyalakannya. Seketika tubuhnya terperanjat saat melihat seorang pria tengah duduk di sofa bertopang kaki dan menatapnya. Drake itu seperti Hantu, bisa muncul di mana saja.
“Kau mengagetkanku,” keluh Kania.
Drake menaikkan sudut bibirnya. “Sengaja huh?”
“Maksudmu?”
“Sengaja menunggumu yang berusaha menghindariku.”
Kania berkacak pinggang. “Heii! Aku tidak akan menghindarimu kalau kau tidak berbuat seenaknya.”
“Benarkah?” Drake bangkit. Bersindekap sembari berjalan mendekat. “Tapi aku punya hak untuk berbuat seenaknya.”
“Kau boleh berbuat sesuatu padaku dengan catatan aku menyetujuinya.”
“Kau tidak akan setuju semua yang aku perbuat padamu. jadi—aku lebih memilih untuk menjadi pemaksa yang berbuat seenaknya dan mendapatkan apa yang aku mau.”
Kania mendengus. “Aku akan kalah jika membantahmu.” Ia berjalan ke kamar dengan cepat. Berharap sekali agar Drake tidak mengikutinya. Kali ini permohonanya dikabulkan dengan cepat. Drake tidak mengikutinya, pria itu berjalan menjauh setelah menerima panggilan telepon.
Kania mengunci rapat kamarnya. Setelah itu melepas pakaiannya satu persatu dan masuk ke dalam kamar mandi. Setelah menyelesaikan ritual mandi, Kania keluar hanya dengan menggunakan handuk putih yang melilit tubuhnya.
“Wow,” sebuah suara berat menyambutnya.
Sebuah tangan memeluknya dari belakang. Beberapa kali menerima kecupan di lehernya yang masih basah. “Kau tahu? Aromamu sangat menyegarkan.”
Kania terdiam. Salahnya? Iya memang salahnya karena keluar kamar mandi hanya menggunakan handuk. Dipencahayaan terang kamarnya, pasti Drake melihat tubuhnya dengan jelas.
“Tunggu—kita berbicara nanti.” balas Kania. Membalikkan badannya, mengeratkan tangannya pada handuk. Berusaha mendorong tubuh Drake menjauh darinya. “Oke kau pergi dulu. Aku harus berpakaian yang cantik dulu agar kau suka.”
Drake mengedikkan bahu. Ia langsung memeluk Kania. “Kau bahkan tidak perlu memakai apapun untuk membuatku suka.”