
“Miss, tuan Drake melakukan pertemuan untuk membahas keinginannya mencabut semua sahamnya dari Maharani Corp.” Perkataan Putri membuat Kania berhenti.
Kania tertawa pelan. “Kau benar-benar menghancurkan hidupku.” Menatap Putri yang melihatnya takut. “Lakukan.”
Kania sudah menduga jika urusan bisnis yang tercampur dalam urusan percintaan akan menjadi rumit. Sekarang Kania berada di sebuah ruangan yang mana Drake bersama rekannya.
“Selama ini Maharani Corp sudah berkembang dengan pesat. Saya ingin tahu kenapa anda ingin mencabut semua saham anda?” tanya Kania.
Drake duduk dengan santai. Tangannya bersindekap sembari bersandar di kursi.
“Saya Rehan penasehat hukum dari Tuan Drake akan menjawab pertanyaan anda.” Pria yang bersama Drake mengambil alih jawaban yang seharusnya dijawab oleh Drake.
Kania ingin mengumpat sekeras mungkin. Bagaimana bisa pria di depannya sangat santai. Setelah mencampakkannya begitu saja—Kania benar-benar ingin mencakar pria itu.
“Tuan Drake sudah memutuskan untuk berhenti dari dunia hiburan. Dia akan berfokus pada bisnisnya sendiri. Penarikan dananya dari Maharani Corp akan masuk ke dalam perusahaannya sendiri.”
Kania tersenyum. “Dra—Tuan Drake pemilik saham kedua terbesar dari Maharani Corp. Jika mencabut semua sahamnya, sama saja menghancurkan Maharani Corp. Daripada mencabut semua saham kenapa tidak mengakuisi saja sekalian Maharani Corp menjadi salah anak perusahaan.”
Drake berdiri tegak. “Kau pergilah,” suruhnya pada penasehat hukumnya.
Sekarang mereka tinggal berdua.
“Gampangnya aku hanya tidak ingin terikat lagi denganmu. Sekalipun, sebuah bisnis.” Drake menatap Kania dengan mata tajamnya.
Kania menyugar rambutnya. “Dari awal aku sudah menduganya. Seharusnya aku tidak pernah menerima tawaranmu. Seharusnya aku tidak pernah mencampur urusan pribadi dengan pekerjaan. Puas membuat perusahaan diambang kehancuran?”
“Belum.” Drake menampilkan smirknya. “Aku bahkan belum melakukannya.”
“Katakan apa maumu?” Kania menghela nafas. “Kenapa kau melakukan semua ini padaku? Apa salahku? Jika aku membuatmu marah aku minta maaf.”
“Sebenarnya bukan karena kesalahanmu. Tapi kau juga harus menanggungnya.”
Tampahng Drake sungguh menjengkelkan bagi Kania. Pria itu benar-benar membuat perasaan Kania campur aduk.
“Haruskah aku memohon padamu? Kau ingin aku berlutut agar tidak menghancurkan perusahaanku?” Kania berdiri. Untuk perusahaan yang ia bangun dari keringat dan cucuran air mata. Kania bisa melakukan segalanya untuk mempertahankanya.
“Tidak perlu. Aku tidak berniat menyelamatkan perusahaanmu.” Drake menatap Kania remeh. “Benar—kau bisa melakukan apapun demi perusahaanmu. Tapi sepertinya kalau kau memohon lebih keras aku akan mempertimbangkannya.”
Kania memejamkan matanya. “Drake…” lirihnya. “Kau benar-benar menyiksaku.” Lagipula harga dirinya sudah sangat jatuh di hadapan Drake.
Kania berlutut di hadapan Drake. “Aku mohon jangan hancurkan perusahaanku.”
Drake terdiam sembari menatap Kania. Tangannya mengepal erat.
“Aku mohon jangan menghancurkan apa yang sudah aku bangun susah payah.” Kania menunduk.
BRAAAK
“KANIA!” teriak seseorang.
Kania dan Drake menoleh. Di sana Joshua yang berhasil masuk ke dalam ruangan. Ia langsung mendekati Kania yang berlutut di hadapan Drake. Membantu Kania berdiri.
Joshua menatap Drake. “Aku akan membeli sahammu di Maharani Corp.”
“Josh—” Kania menoleh.
“Tenang saja. Aku memang sudah mempertimbangkan mengakuisi Maharani Corp sejak lama.” Jashua tersenyum pada Kania. “Harus kau ingat, jangan berbisnis dengan orang brengs3k.”
Drake berdiri. “Kau berani membeli berapa?”
“Dua kali lipat.”
Drake tersenyum senang. “Bagus. Aku setuju menjualnya padamu.” Beralih menatap Kania. “Karena urusan kita selesai. Aku ucapkan selamat perusahaanmu tidak jadi hancur. Ada pahlawan kesiangan yang datang membantumu.” Dengan santainya Drake menepuk pelan bahu Joshua.
Drake pergi dengan gaya angkuhnya. Ia menyugar rambutnya tidak berhenti tersenyum. Sangat bahagia seperti memenangkan sebuah lotre.
Sedangkan Kania yang berdiri menatap punggungnya hanya bisa tersenyum getir. Semudah itu Drake mencampakkan dirinya. Membuatnya hancur dalam sekejap. Kania memejamkan mata, berusaha agar air matanya tidak jatuh.
“Joshua,” lirih Kania. “Apa salahku? Kenapa dia tega padaku?” pada air matanya tidak dapat dibendung lagi. Iya Kania menangisi kebodohannya yang masih mencintai pria itu padahal sudah menyakitinya.
“Kalian putus?”
Kania tersenyum getir. “Lebih dari putus, dia mengancurkanku, membuangku..”
Joshua memeluk Kania. “Menangislah jika itu bisa membuatnya lega.” Mengusap punggung Kania agar lebih tenang.
“Aku benar-benar bodoh. Aku mencintainya—memberikan segalanya. Kenapa dia begitu kejam padaku. Apa salahku?”
“Kau tidak salah, Kania. Jangan menyalahkan diri sendiri.”
~~
Hubungan Drake berakhir begitu saja. Tidak ada
Kania tidak tahu apa salahnya sehingga pria itu tiba-tiba meninggalkannya. Beberapa hari ini tubuhnya terasa lemas. Ia juga sering mual saat mencium bau-bau tertentu.
Kepalanya begitu pusing. Memutuskan untuk bersandar sebentar di kursi kerjanya.
“Miss, sebentar lagi rapat.” Putri melihat Kania yang terduduk lesu segera mendekat. “Miss, anda baik-baik saja?”
Kania mendongak. Wajahnya begitu pucat.
“Anda harus pergi ke rumah sakit, Miss.” Putri menatap Kania kawatir. “Saya akan membatalkan rapat bulanan.”
Akhirnya Kania dibantu Putri pergi ke rumah sakit. Di rumah sakit dokter yang menanganinya sempat menatapnya sambil tersenyum. Setelah melakukan pemeriksaan, Kania duduk di depan dokter.
“Anda hamil.”
Kania mendongak. “Apa?”
“Anda hamil. Bisa diingat kembali kapan terakhir datang bulan?”
Kania sudah lebih dari satu bulan tidak datang bulan. Tangannya gemetar. Kejadian itu sudah tiga bulan lalu, di mana Drake dan dirinya menghabiskan malam yang begitu menggairahkan. Malam yang benar-benar membuat mereka bersatu tanpa penghalang sekecil apapun. Tentunya Drake tidak menggunakan pengaman. Tapi—
“Dokter, saya hanya merasa kecapekan, bagaimana bisa hamil?”
“Anda memang hamil. Kandungan anda berusia sekitar dua minggu. Untuk lebih lengkapnya, anda bisa melakukan pemeriksaan di dokter kandungan. Saya akan memberikan anda obat ringan meredakan mual dan pusing.”
Dunia Kania benar-bena hancur. Ia memegang perutnya yang masih rata. Kehadiran janin ini diwaktu yang tidak tepat. Apa Kania akan membiarkan anaknya terlahir?
Kania keluar dari ruangan.
“Bagaimana, Miss? Anda baik-baik saja?” tanya Putri.
“Aku baik-baik saja. Hanya kelelahan.” Kania mengambil tasnya yang dibawa Putri. “Tolong handle pekerjaanku di kantor. Aku akan pulang dan beristirahat.”
Sepanjang perjalanan pulang. Ponsel Kania tidak berhenti berdering.
“Miss sebaiknya diangkat dulu, siapa tahu penting.” Putri yang menyetir melirik Kania dari kaca spion.
“Dari kakakku. Tidak ada yang penting darinya.” Kania hanya menatap panggilan dari Aji, kakaknya begitu saja.
“Berhenti di apotek. Aku ingin membeli sesuatu.” Sesuai perintah Kania, mobil berhenti di depan sebuah Apotek.
“Apa yang anda butuhkan, Miss? Saya akan membelikannya.”
“Tidak perlu.” Kania turun. Tujuannya hanya satu, yaitu membeli tespeck. Kania butuh sesuatu untuk meyakinkan dirinya sendiri jika ada nyawa di perutnya. Ada manusia lain yang hidup di dalam tubuhnya.
“Ada yang bisa saja bantu?” tanya petugas Apotek.
“10 tespeck,” jawab Kania datar.