
Tok tok
“Miss, Tuan Joshua ingin bertemu dengan anda.”
Kania menghentikan aktivitasnya. Ia melepas kacamata yang bertengger di hidungnya. “Ada dijadwalku?”
“Tidak, Miss. Katanya ini pertemuan biasa,” jawab Putri.
Kania mengangguk. “Baiklah. Suruh dia masuk.”
Joshua masuk ke dalam ruangan Kania. Tampak laki-laki itu hanya menggunakan kemeja tanpa jas rapi. Joshua menenteng sebuah papar bag yang Kania tidak tahu isinya apa.
“Apa ada hal penting yang membuatmu jauh-jauh kemari?” Kania beranjak dari duduknya.
Joshua mengangkat paper bag hitam yang berada di tangannya. “Makan siang.”
“Joshua. Kau tidak perlu repot-repot melakukannya.” Kania bersindekap.
“Bukan aku yang repot. Tapi Mommyku—dia bahkan datang ke kantorku membawa bekal makan siang lalu menyuruhku untuk pergi kantormu dan menyerahkannya padamu.”
Kania terkejut. “Aunty Jennifer yang melakukannya?”
Joshua mengangguk. “Jika aku tidak mau—Mommy akan buat keributan di Kantorku. Daripada ribut—lebih baik aku ke sini.” Ia menatap Kania. “Kau sudah makan?” mengamati Kania lebih dalam. “Sepertinya belum.”
“Seperti yang kau lihat. Kau tahu persis—orang-orang seperti kita sering melupakan makan untuk bekerja.” Kania mengambil duduk di depan Joshua.
Joshua membuka kotak bekal yang telah dibuat oleh orang tuanya.
“Kau tahu? Kita sama-sama tersiksa dengan tingkah laku orang tua kita. Jadi ayo sama-sama kita menolak mereka,” kata Kania.
Joshua mengangguk saja. “Makan dulu—Kania. Aku lapar.”
“Baiklah-baiklah.”
Mereka makan sesekali diiringi dengan obrolan ringan mengenai pekerjaan.
“Pertama kalinya aku masuk ke ruanganmu. Ternyata lumayan luas.”
Kanita tertawa pelan. “Yang pastinya tidak seluas Viction.”
“Yang itu sudah pasti,” balas Joshua.
Kegiatan makan mereka sudah selesai. Kania mengusapkan tisu ke sudut bibirnya.
“Masakan Aunty sangat enak,” puji Kania. Sudah lama ia tidak makan masakan rumahan. Biasanya ia lebih sering memasak ala kadarnya, lebih sering lagi beli junkfood.
Joshua membalasnya dengan mengangguk.
“Mengenai pembicaraan tadi. Aku serius, tentang kita yang harus menghentikan orang tua kita. Aku tidak mau terus-terusan seperti ini. Kau pasti juga risih dijodoh-jodohkan denganku,” kata Kania.
“Tidak sepenuhnya.” Joshua tersenyum. “Karena kau temanku. Aku tidak merasa risih saat berdekatan dengan temanku sendiri. Mungkin kau yang risih karena sudah mempunyai kekasih sedangkan aku belum.”
Kania terdiam sebentar. “Hubunganku tidak main-main dengan Drake. Aku ingin sekali mengenalkan Drake pada orang tuaku,” jujur Kania.
“Itu bagus. Orang tuamu bisa tahu Drake dan menghentikan drama ini.” Joshua menatap Kania. “Jangan menatapku seperti itu. Kau membuatku seperti tertolak padahal tidak.”
Kania menggeleng. “Tidak-tidak. Aku hanya merasa tidak enak denganmu. Karena orang tuaku kau juga menderita.”
Joshua bangkit. Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. “Sudah kubilang tidak sepenuhnya—Kania.” Kemudian berbalik—berjalan. Sampai di ambang pintu Joshua berhenti. “Kau bisa memberishkannya bukan?”
“Apa?”
Dagu Joshua menunjuk bekal makan siang yang sudah habis hanya tersisa tempatnya saja.
“Ya aku akan mengurusnya. Kau bisa pergi dengan tenang.”
“See you.”
~~
Kania menghambur ke pelukan pria yang sudah menunggunya beberapa menit lalu. Kania masuk ke dalam coat yang digunakan Drake. Melingkarkan kedua tangan mungilnya ke pinggang pria itu.
“Aku kedingingan.”
“Siapa yang menyuruh memakai pakaian kurang bahan?”
“This is fashion.” Kania melepas pelukannya. “Skirt pendek dan blazer crop adalah perbaduan sempurna fashionku. Aku harus tampil stylish.”
“Ya-ya terserah Kania.” Drake membukakan pintu.
“Apa kamu marah?”
Drake menggeleng pasrah. “Aku marah pun kamu akan tetap menggunakan pakaian yang tidak kusuka. Selain pasrah aku juga akan belajar mengalah.”
Kania tertawa memberikan kedua jempolnya. “Kamu sebenarnya dapat empat jempol. Tapi jempol kakiku sedang tertutup sepatu. Jadi aku akan memberikannya saat kita sudah sampai di Penthouse.” Ia segera masuk ke dalam.
“Lama-lama aku kesal juga,” lirih Drake.
Mobil sudah berjalan.
“Tadi siang kamu makan?”
“Tumben sekali.”
Kania menatap Drake dari samping. “Y-ya mulai saat ini aku akan berusaha menjaga kesehatanku sendiri.”
“Bagus.” Salah satu tangan Drake terangkat mengusap puncak kepala Kania.
“Ini bukan arah pulang. Kita akan ke mana?” tanya Kania heran karena Drake mengambil jalur yang berbeda dari biasanya.
“Belanja bulanan. Kita belum pernah melakukannya.”
Setelah mendengar ucapan Drake. Kania segera mencari sesuatu di dashbord mobil. “Kamu membawa masker?”
“Tidak perlu.”
“Topi?”
“Tidak perlu—Kania.”
“Aku akan menunjukkan hubungan kita di depan publik.”
“Drake..” lirih Kania. “Kamu sudah memikirkan konsekuensinya? Bagaimana jika mereka tidak menerima? Dan bagaimana jika hal itu membuat dampak buruk bagimu?”
“Tidak akan.”
“Drake—kamu tidak perlu melakukannya. Aku takut aku membawa namamu menjadi jelek.”
Drake menepikan mobilnya. “Persetan dengan semuanya—Kania. Aku tidak mempedulikan apapun agar kamu tetap di sampingku. Aku melakukannya agar orang-orang tidak ada yang berani menyakitimu. Terlebih para pria di luar sana yang mencoba menyukaimu.”
Drake menangkup wajah Kania. “Apa kamu malu?”
“Aku tidak malu.” Kania menggeleng. “Lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Aku tidak akan mencoba menghentikan kamu lagi.”
Drake tersenyum. Mengecup kedua pipi Kania bergantian. “I love you.”
“I lo… I like you.”
“Not I like you. say again—babe.”
Kania tertawa. “I love you too.”
Mereka telah sampai di Market. Drake mengambil syal dan melingkarkannya di leher Kania. Syal berwarna putih itu sangat cocok digunakan Kania. Tampak cute dan lucu. Drake menggandeng tangan Kania saat memasuki Market.
Drake mengambil keranjang belanja dan mendorongnya. Mereka berada di rak daging. Kania mengambil daging dengan kualitas tinggi. Biarlah. Sekali-kali menghabiskan uang Drake. Seperti kata di Drama. “Gwenchanayo.”
Orang-orang yang awalnya acuh—kini perlahan melihat mereka. Tidak banyak yang mengenali mereka. Yang pasti ada beberapa orang yang membicarakan mereka.
“Itu Drake. Waah dengan siapa dia? Sepertinya kekasihnya.”
“Gila. Kekasihnya lebih cantik dari aktris. Pantas saja Drake memilihnya. Lihat kulitnya begitu bersih dan mulus.”
“Kudengar dia pemilik bisnis Skincare. Pantas saja kulitnya glowing dan berkilau.”
“Perbedaan tinggi mereka membuatku iri.”
“Drake semakin tampan. Mereka benar-benar pasangan sempurna.”
Drake tersenyum sayup-sayup mendengar pujian orang-orang terhadapnya dan Kania. “Mereka merestui kita.” Drake menunduk dan berbisik.
“Benarkah?”
Padahal dari awal Kania yang resah bagaimana nanti jika menjadi pusat perhatian orang-orang. Namun nyatanya saat sudah terjadi—Kania lebih sibuk dan lebih acuh daripada Drake. Kania bahkan sepenuhnya fokus memilah Tomat yang ukurannya satu kepal tangannya daripada mendengarkan komentar orang lain.
“Tomat di sini sangat bagus.” Kania memasukkan Tomat ke dalam keranjang. “Kita harus datang ke sini lagi—Drake.”
“Iya.” Pasrah Drake.
Tanpa sadar Kania menarik tangan Drake untuk beranjak ke rak lain. Kini keduanya memilih Kentang.
“Padahal Kentang bagus kok orang-orang yang ngerasa jelek menyamakan diri dengan Kentang?”
Drake mengangkat satu kentang. “Kentang ini jelek. Ada noda-noda di kulitnya. Ibaratnya kayak manusia yang gak mau merawat diri. Katanya, Kentang adalah ikon untuk orang-orang yang merasa kurang percaya diri. Ini sudut pandangku ya. Jangan ada yang ditambah-tambahi atau dikurangi. Nanti ada yang tersinggung aku yang diserang.”
Kania mengangguk saja. “Cerita kamu bagus. Tapi aku gak ngerti.”
“Astaga. Percuma aku jelasin panjang-panjang.”
Kania tertawa. “Ngerti kok ngerti.”
“Bagus deh.”
“Tapi cuma dikit,” lanjutnya.
Drake mengacak rambut Kania pelan. Bukan Kania yang baper tapi malah remaja labil di sekitar mereka.
“Dia yang diacak rambutnya. Tapi hati gue yang berantakan. Aduh bang Drake, jadikan aku selinganmu bang.”
“Fiks inimah kapalku. Jangan lupa foto dulu. Sebagai bukti habis ketemu seleb.”
“Inpo kos-kosan murah di Mars. Soalnya buminya udah milik mereka berdua.”