Obsesi Sang Aktor

Obsesi Sang Aktor
Pertemuan Dua Keluarga


“Bun, Please…” Kania berjalan mondar-mandir. “Aku tidak akan datang jika kalian berencana mendekatkanku dengan Joshua.” Benda pipi itu masih berada di pipi kanannya.


“Ini pertama kalinya kami akan bertemu dan membawa anak masing-masing. Bukan untuk mendekatkanmu dengan Joshua tapi untuk menjaga hubungan baik antar teman. Bunda sudah lama tidak bertemu Jennifer. Kania—kamu harus datang.”


Kania menyugar rambutnya kasar. “Tapi—Bund, Kania sangat sibuk besok.”


“Tidak ada pengusaha yang sibuk di hari weekend. Jika sibuk itu berarti tidak suka hari libur. Kali ini aja Kania—Bunda udah datang jauh-jauh ke sini kamu malah gak mau ketemu. Tolong hargai orang tua kamu.”


Kania menghela nafas. “Oke Kania akan datang. Jangan berekspektasi apapun pada Kania.” Setelah itu Kania menutup ponselnya. Melempar ponselnya ke ranjang begitu saja.


Akhir-akhir ini aktivitasnya semakin padat dengan beban kerja yang semakin menggila. Sekarang ditambah lagi dengan urusan keluarga yang tidak ada habisnya.


~~


Kania melangkah memasuki sebuah restoran. Ketukan heelsnya terdengar pelan. Ia membuka pintu—menemukan sebuah bangku yang sudah terisi dengan beberapa orang diantaranya orang tuanya.


Kania yakin—wanita yang duduk di depan keluarganya adalah keluarga Addison. Jennifer dan Kendric Addison. Keduanya nampak serasi—lalu di samping mereka ada laki-laki berkacamata, itu Joshua. Kania menghela nafas kemudian memasang senyum.


“Kania?” tanya Jennifer.


Kania menganggguk dan tersenyum ramah. “Iya Aunty.”


“Akhirnya aku bisa bertemu dengan putri cantikmu,” adu Jennifer pada Dewi Sekar, ibu Kania. Jennifer tanpa canggung memeluk Kania lebih dulu. “Kamu sangat cantik—mirip ibumu.”


“Terimakasih Aunty.”


“Kania duduk di sebelah Bunda.” Dewi Sekar menarik tangan putrinya agar duduk di sebelahnya. Padahal awalnya Kania ingin duduk bersama ayahnya, namun karena sudah terlanjur ya sudah ia pasrah.


Di depanya ada Joshua. Kania dan Joshua saling berpandang. Tampak dari mereka memang seperti teman. Kania mengedikkan bahu—begitupun dengan Joshua. Mereka seperti saling bertanya-tanya kenapa tiba-tiba keluarga mereka bertemu.


Percakapan orang tua diisi dengan kenangan masa lalu. Katanya masa remaja adalah masa yang paling dikenang. Mereka makan dengan tenang.


“Aku mendengar jika Kania juga terjun di dunia bisnis?” tanya Kendric.


“Iya Uncle. Saya membangun bisnis saya sendiri,” jawab Kania santai.


“Kalian punya anak-anak yang pintar,” puji Kendric pada Bhanu dan juga Dewi Sekar. “Aku dulu sering bertemu dengan Aji karena sering menggantikan Bhanu. Tapi hari ini aku baru bertama kalinya bertemu dengan Kania.”


“Dulu Kania tidak berminat pada bisnis. Bahkan dia masuk jurusan Farmasi. Aku kira dia merantau karena bekerja di rumah sakit yang besar—tapi ternyata membangun bisnis Skincarenya sendiri,” jelas Bhanu. “Kania sudah lama merantau—dia tidak pernah ke kantor Bhatara. Dia sibuk dengan dunianya sendiri. Walaupun begitu—Kania tumbuh jadi perempuan yang mandiri dan kuat.”


Kania memotong steaknya. Ia menyesal karena tidak menceritakan apapun pada ayahnya. Apa keinginan sebenarnya, apa yang sebenarnya cita-citanya dan apa yang sedang terjadi pada dirinya.


“Kamu hebat Kania,” puji Kendric.


“Terimakasih, Uncle.”


“Aku juga sering melihat Joshua menghiasi majalah. Namanya terpampang di mana-mana sebagai pebisnis muda penerus Viction yang cerdas,” puji Dewi Sekar.


Jennifer mengangguk setuju. “Aku bahkan sering tidak sengaja melihat wawancaranya di Televisi. Pada awalnya aku memang sangat bangga. Tapi lama kelamaan bosan dan menjadi kesal. Karena wawancara Joshua membuat jam sinetron kesukaanku diundur.”


Semuanya tergelak dengan ucapana jujur Jennifer.


“Mom…” keluh Joshua.


Jean, perempuan unik yang memelihara singa lucu bernama Gabby. Juga teman baik Drake. Tapi Kania tidak menginginkan hal ini terjadi—Jean bisa saja memberitahu Drake tentang makan malam dua keluarga ini. Kania tidak ingin Drake tahu—karena ia tidak ingin Drake marah.


“Jean?” Dewi Sekar memanggil. “Waah kamu sudah besar. Dulu tante sering mencubit pipi kamu.”


“Tante Dewi yang membuat pipiku sampai sekarang tidak bisa tirus.” Jean mendekat. Mereka berpelukan. Pandangan Jean berhenti tatkala melihat seorang perempuan tengah duduk di depan adiknya.


“Kania?”


“Kamu sudah mengenal Kania? Kania anak tante.”


“Tentu saja aku mengenal Kania, Tante.” Jean mengambil duduk di samping Joshua. “Karena Kania kekasih temanku—Drake.”


“Apa kamu percaya rumor palsu seperti itu?” Dewi Sekar nampak ingin sekali menolak hal yang diucapkan Jean. “Kania tidak mengenalkannya pada kami. Hubungan mereka tidak seserius itu—Jean. Kania masih muda—berteman dengan banyak orang bisa membuka jalan bisnisnya lebih luas.”


Jean mengerutkan keningnya—kemudian mengangguk. “Oh mungkin memang aku yang terlalu percaya pada rumor.”


Dewi Sekar tersenyum. “Dari dulu Kania jarang berhubungan dengan laki-laki. Jika sudah pasti menjalin hubungan lebih dari teman—pasti sudah dikenalkan pada kami.”


“Joshua juga jarang menjalin hubungan dengan perempuan. Sekarang dia malah sibuk-sibuknya mengurus perusahaan,” imbuh Jennifer.


“Mungkin mereka cocok. Kalian cobalah dekatkan diri. Kalian sama-sama tidak punya kekasih. Dan juga sama-sama bekerja di bidang yang sama,” imbuh Kendric.


~~


“Aku minta tolong padamu—Jean. Tolong jangan beritahu Drake soal hal ini. Bukan cuma kau tapi Duke juga.” Kania berada di toilet bersama Jean.


“Tenang saja. Aku tidak akan memberitahukan Drake tetang hal ini. Lagipula aku tidak ingin melihat kalian bertengkar.” Jean menghela nafas. “Jujur aku akan lebih senang jika kau menjalin hubungan dengan adikku. Tapi aku tidak seegois itu merusak kebahagian kalian.”


“Dari awal aku tahu niat orang tuaku bukan hanya ingin bertemu makan malam biasa. Pasti ada niat untuk membuatku dan Joshua semakin dekat.” Kania mengambil tisu. Menyeka sedikit keringatnya di dahi. “Tapi aku tidak bisa melakukan apapun. Aku sudah mencoba menolak. Tapi Bunda bersikeras membujukku agar datang ke acara ini.”


“Aku berniat mengenalkan Drake pada orang tuaku secepat mungkin.”


Jean mengangguk. “Itu bagus—semakin cepat semakin baik. Agar orang tuamu tahu—ada pria lain yang sudah bersamamu. Mungkin dengan bertemu Drake. Tante Dewi tidak akan memaksamu lagi.”


“Aku juga tidak enak pada Joshua. Pasti dia risih dengan acara seperti ini.”


Jean tertawa pelan. “Bagaimana kau tahu dia risih. Bisa saja di dalam hati dia senang.” Perkataan Jean terdengar ambigu. Kania ingin berbicara lebih—tapi Jean lebih dulu keluar dari toilet membiarkan Kania sendirian.


~~


Kania masuk ke dalam Penthouse. Melepaskan heelsnya asal kemudian melemparnya ke sembarang arah. Ia hendak menekan saklar lampu—namun pergerkaannya tiba-tiba dicegah oleh sepasang tangan yang langsung memeluknya sembari membungkam bibirnya.


“I miss you baby.”


Kania melemah. Ia tidak melawan, justru mengusap tangan yang sedang memeluknya dari belakang. “Drake…” lirihnya.


“Ya.” Drake mencium leher Kania beberapa kali. Baginya sebagai cara mengambil aroma wanitanya yang memabukkan.


Kania menekan saklar lampu. Kemudian membalikkan badannya. Mendongak—menatap Drake yang sedikit berkumis.


“Kamu dari mana?” Drake mengusap bibir Kania yang masih berlapis lipstik.