Obsesi Sang Aktor

Obsesi Sang Aktor
Play Piano


“Drake..” panggil Kania.


Di tengah malam bukannya tidur, Kania malah terbangun dan berakhir di depan sebuah piano klasik. Tak lama setelah terbangun, Drake justru menyusulnya. Pria itu kini duduk di sampingnya. Tidak ada acara memainkan Piano karena mereka sama-sama terdiam untuk sesaat.


“Ya?”


Kania menoleh. Menatap manik tajam milik Drake. “Aku ingin bertanya.”


“Kamu bebas bertanya padaku, Kania. Katakan apa yang ingin kamu katakan. Jangan menahannya. Aku tidak suka jika kamu menyembunyikan apa yang ingin kamu ketahui dariku. Aku akan berusaha menjawab semua pertanyaanmu.”


“Aku—aku hanya ingin tahu berapa banyak tatto yang kamu miliki.”


Drake tersenyum tipis. “Tidak banyak. Tapi sepertinya kamu hampir tahu semuanya.”


“Pinggang, lengan, belakang telinga dan punggung bagian kiri.” Kania menyebutkan letak tatto Drake. “Itu saja?”


“Aku punya satu lagi tatto kupu-kupu,” ungkap Drake.


“Di mana?” jujur Kania tidak pernah tahu ada tatto kupu-kupu lagi selain di pinggang bawah yang pertama kali ditunjukkan oleh Drake.


“Di kaki. Bentuknya kecil. Itu adalah tatto yang kubuat bersama kakakku.”


Kania sedikit terkejut. Selama ini ternyata Drake mempunyai seorang kakak. “Kamu punya kakak? Tapi aku tidak pernah melihatnya?”


“Dia sudah berada di tempat yang tidak bisa aku temui. Dia pasti sudah berada di tempat yang jauh lebih baik dari dunia ini…” Drake menatap lurus ke depan. Ada raut kesedihan saat membicarakan tentang kakakknya.


Kania merasa ini bukan ranahnya. Meski ia mencintai Drake—tapi untuk mengetahui masa lalu pria itu, rasanya masih belum pantas. “Sorry..” hanya kata maaf yang mampu keluar dari bibirnya.


“Tidak perlu meminta maaf.” Drake menoleh dan tersenyum. “Aku belum bisa memberitahukan mengenai keluargaku. Aku masih butuh waktu. Aku harap kamu mengerti.” Drake mengusap puncak rambut Kania pelan.


Kania mengangguk. “Its oke.” kemudian tersenyum. “Kamu tidak perlu memberitahuku jika kamu belum siap.”


“Thank you.” Drake mengulurkan tangannya. “Sudah malam. Lebih baik kita tidur.”


Kania menggeleng. “Aku ingin bermain Piano sebentar. Apa kamu mau meluangkan waktu?”


Drake mengangguk. Ia kembali duduk di samping Kania.


Jari-jari lentik Kania memainkan Piano dengan mahir. Bukan hanya bermain Piano, tapi juga bernyanyi. Pilihan lagunya adalah All Of Me dari John Legend.


Cause all love me


Loves all love you


Love your curbes and all your edges


All your perfect imperfections


Give you all to me


I’ll give my all to you


Youre my end and my beginning


Even when I lose I’am winning


~~


Udara sejuk di pagi hari di sebuah Villa di isi dengan kegiatan olahraga. Meski Kania sudah berkali-kali menguap karena terlalu mengantuk, Drake masih saja menariknya agar mau berolahraga. Kania merutuk dalam hati, padahal biasanya Drake adalah orang yang paling malas bangun pagi. Tapi apa? Sekarang pria itu bahkan terus menyiksanya agar mau berlari mengelilingi kebuh teh yang luasnya hampir dua kali lipat perkampungan.


Terlalu berlebihan. Tidak selebar itu sih? Kania menggeleng. Ia menatap tangannya yang setia digenggam oleh Drake.


“Drake aku lelah.” Kania berhenti. Bertopang pada lututnya. Sudah lama sekali ia tidak berolahraga. Bisa dihitung hampir 2 tahun tidak berolahraga.


“Kamu harus terus bergerak Kania. Agar tubuhmu menjadi lebih bugar.”


Kania berdecak. “Memangnya kamu sering berolahraga?”


“Jadi selama ini kamu mengira aku hanya malas-masalan di rumah?”


Kania mengangguk polos. Memang itu kan yang dilakukan Drake. Selain mengganggu Kania—Drake suka bermain Game duduk berjam-jam di depan layar komputer atau ponselnya.


Drake mencubit pipi Kania. “Kamu pikir tubuhku yang bagus ini didapat dengan hanya berbaring di kasur dan bermain game? kamu pikir aku selalu malas-malasan? Padahal aku sering ke tempat Gym untuk berolahraga.”


“Oo….” Kania hanya mengangguk saja.


“Aku sering bertemu wanita di tempat gym.” Drake melepaskan genggamannya. Kemudian menggeleng pelan. “Mereka sering memamerkan tubuhnya…”


“Apa kamu bilang? Mereka sering pamer badannya?” ulang Kania. Drake tidak menjawab pertanyaan Kania. Pria itu dari awal memang berniat menggoda. “Cih—memangnya mereka cantik? Mereka tidak punya harga diri jika memamerkan tubuhnya pada laki-laki.” Cerocos Kania masih berjalan di belakang Drake.


“Tapi tubuh mereka memang bagus….”


“Tubuhku juga bagus.” Kania tidak terima. Kania mengibaskan rambutnya. Merasa gerah karena Drake memuji wanita lain. “Tubuhku tidak sebagus mereka tapi setidaknya aku tidak sembarangan memerkan tubuhku pada sembarang orang.”


Drake melengkungkan senyum. “Jika berani kamu menunjukkan pada orang lain, maka aku akan mencongkel mata seseorang yang berani melihatnya.” Berhenti mendadak, membuat Kania membentur punggungnya.


“Drake,” keluh Kania. Tangannya menggosok dahinya yang tadi terbentur bahu Drake yang sekeras batu.


Drake malah tertawa pelan.


“Dasar,” cibir Kania.


Drake menarik Kania agar mendekat. Tanpa kata—tanpa pembicaraan. Drake hanya terdiam sembari menatap dalam Kania. Jemarinya bergerak mengusap wajah Kania pelan.


Kania hanya diam. Ada kemungkinan yang terlintas di pikirannya. Bagaimana hubungan ini kedepannya? Apakah ia akan tetap mengejar pria yang sepertinya tidak mempunyai perasaan padanya? Apa dia akan dibuang setelah perjanjian itu berkahir.


“Kania?” panggil Drake dengan suara berat pria itu.


 “Ya?”


“Ada yang ingin kamu katakan?”


Kania menggeleng. “Tidak.”


Drake mengangguk kemudian merangkul Kania dari samping. Di samping kebun teh ada sebuah lapangan luas yang digunakan bermain oleh anak laki-laki. Mereka terlihat bahagia bermain sepak bola.


“Mereka sangat ceria.” Kania dan Drake mengambil tempat duduk di samping Lapangan.


“Apa kamu ingin melihatku bermain?” tanya Drake.


Kania menyipitkan mata. “Aku tidak yakin kamu bisa.”


“Come on, Kania. Aku pintar disemua bidang, jangan meremehkanku.” Drake dengan bangga dan percaya diri. Ia berdiri dari duduknya dan bergabung dengan anak-anak yang bermain sepak bola.


Anak-anak itu menerima dengan senang hati kehadiran Drake yang ingin bermain. Mereka tidak tahu siapa Drake—yang mereka ketahui hanyalah seorang warga kota yang sedang berlibur di daerahnya. Drake memang terkenal—namun ketenarannya tidak sampai pada anak kecil.


Sepertinya waktu telah berhenti. Kania hanya melihat satu titik di sana. Drake bermain dan tertawa lepas bersama anak-anak. Dia terlihat sangat nyaman dengan orang yang baru saja ditemuinya. Drake Cole—ya hanya pria satu-satunya yang bisa membuat dunia Kania jungkir balik.


BUUGH


Sebuah bola terlempar di kepala Kania. Meski tidakk terlalu keras—namun cukup membuat Kani sampai meringis.


“Kamu baik-baik saja?” Drake memegang kedua sisi kepala Kania.


Kania mengangguk. “Aku baik-baik saja.”


Drake melihat seorang laki-laki yang menatap mereka dengan rasa bersalah. Tak lama anak itu mendekat. Kemudian mengeluarkan tangannya.


“Maafkan aku kakak cantik. Aku tidak sengaja.”


Drake bersindekap. “Kamu harus dibawa ke polisi karena membuat kakak cantik ini sakit.”


Perkataan Drake terlihat sanga serius, hingga membuat anak itu takut. Anak itu tidak kuasa menahan tangisnya.


“HUAAA AKU TIDAK MAU KE KANTOR POLISI.” Teriaknya kencang.


Drake tidak benar-benar akan menghukum anak itu. Ia hanya berniat bercanda. Lagipula anak itu terlihat menggemaskan.


“Jangan menangis.” Kania berlutut. “Kakak baik-baik saja. Jangan menangis, oke.”


“Tapi dia menakutkan.” Tunjuk anak itu pada Drake. “DIA MENAKUTKAN.” Teriaknya kemudian kembali menangis.


Drake menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Aku hanya bercanda. Jangan menangis.” Perkataan Drake tidak membuat anak itu tenang. Justru membuat tangisan anak itu semakin kencang. Bagaimana tidak, suara Drake terdengar sangat rendah seperti sedang marah besar.


“Drake…” keluh Kania. “Kamu menakutinya."


“APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA ANAK SAYA?!”


_____


Guys aku mau ngucapin terimakasih banyak yang udah support cerita ini. Pokoknya peluk jauh buat kalian yang gak berhenti kasih like sama komen🤗. Jangan lupa vote juga ya supaya aku makin semangat update😘