Obsesi Sang Aktor

Obsesi Sang Aktor
Hanya Sementara


“Bukan urusanmu.”


“Drake,” lirih Kania. “Aku minta maaf.”


Drake membalikkan badannya. “Untuk?”


Kania memejamkan mata sebentar. “Karena terus menghindarimu.”


“Lalu?”


“Aku tidak akan menghindarimu dan membiasakan diri terhadapmu.”


Salah satu alis Drake terangkat. “Aku tidak butuh omongan.”


Kania menyatukan tangannya. “Tapi—aku juga mempunyai permintaan. Aku tidak ingin kau menyentuhku terlalu jauh. Please—hanya itu.”


“Cause youre still virgin right?”


Pertanyaan Drake bagaikan sebuah pisau yang menancap di wajah Kania. Malu! Sangat malu tapi Kania berusaha setenang mungkin. Lebih baik memang berkata yang sejujurnya. “Ya. Kau benar. Sebelumya aku tidak pernah sedekat itu dengan pria. Aku tidak akan menyangkalnya lagi—berpelukan saja rasanya sangat canggung. Kau pria pertama yang berhasil membuatku melampaui batasku selama ini. ”


“Oke,” jawab Drake diringi dengan seringaian geli. Lucu karena akhirnya secara  langsung Kania mengakuinya sendiri jika dia memang pemula dan tidak pernah disentuh oleh siapapun.


“Jangan tertawa!” peringat Kania.


Drake menatap Kania. “Seperti yang kukatakan—aku perlu bukti bukan omongan semata.”


“Apa yang harus kulakukan?” rengek Kania.


Drake mendengus. “Pikirkan sendiri.” Ia memegang handle pintu bersiap membuka.


Namun sebuah pelukan dari belakang menghentikan. Pelukan  hangat dari seorang Kania untuk Drake. “Like this?” tanya pelan Kania. Perempuan itu menyandarkan kepalanya di bahu lebar Drake.


Kania lebih memberanikan diri. Ia berjinjit kemudian mengecup pipi kanan Drake dari belakang. “Perlu kau ingat aku masih pemula.”


Drake tersenyum tipis. Ia membalikkan badan. Menangkup wajah Kania kemudian mendekat. Menyapu bibir yang menjadi candunya. Drake tidak ingin berhenti mencium Kania. Bibirnya terus bergerak ******* bibir ranum perempuan itu. Tanpa sadar sudah membuka pintu penthouse dan membawa Kania ke dalam.


Menghimpit tubuh Kania ke tembok. Pangutan bibir mereka seakan tidak bisa terlepas. Beberapa menit kemudian Drake berhenti karena merasakan Kania kehabisan nafas. Tangannya membelai pipi perempuan dengan lembut.


“Kruk.” Bunyi lapar dari salah satu perut.


“Drake—kau lapar?” tanya Kania.


“Bukan aku.”


Kania sedikit tersenyum. “Tidak mungkin aku. Aku sudah makan.”


**


Kali ini Kania memasak untuk Drake tanpa paksaan lagi. Pertama kali ia masak di dapur ini diiringi dengan gerutu yang tidak jelas. Kini Kania lebih memilih diam dan fokus pada masakannya. Hanya memasak ringan seperti Pasta dan omlet. Lagi pula tidak ada bahan makanan di dalam kulkas.


Sedangkan Drake yang asik dengan gamenya duduk di sofa. Sesekali melihat Kania yang masih asik dengan kegiatan masaknya. Beberapa menit kemudian, Kania membawa dua piring ke atas meja makan.


“Drake—makanlah,” ujar Kania.


Drake mengangguk. Berjalan ke arah meja makan. Sebelum duduk, lebih dulu memeluk Kania dari belakang. Mengecup leher perempuan itu singkat kemudian duduk. Sedangkan Kania mematung beberapa detik akibat perbuatan Drake.


“Makanlah, aku akan pulang,” ucap Kania.


Drake mencekal lengan Kania. “Aku tidak mengijinkanmu pulang. Tetap di sini.”


Kania ingin membuka mulutnya untuk menolak. Namun ia menahannya, ia sudah berjanji akan bersikap seperti seorang kekasih sungguhan. Akhirnya ia duduk di samping Drake.


“Bagus—semakin cantik jika menurut.” Tangan Drake mengusap puncak kepala Kania.


“Tidak ada hubungannya,” sahut Kania cepat. Merasakan ponselnya bergetar, tangannya segera membuka. Terdapat satu pesan dari Flory: Sudah melakukan seperti kataku?


Kania mengetikkan balasan: Sudah


Sesudah mengirimkan balasan, ponselnya diraih dengan cepat oleh tangan seseroang. Drake mengambil ponsel Kania lalu menaruhnya ke dalam saku celananya.


“Drake—kembalikan.”


“Tidak. Kau sedang mengirim pesan pada pria lain?” tanyanya.


“Itu perempuan, temanku.”


“Kembalikan.” Tangan Kania mengadah.


Jari Drake menunjuk sakunya. “Ambil sendiri.”


Kania mendengus. Memilih menjatuhkan kepalanya di atas meja. Menghadap Drake yang sedang makan. Matanya tak berkedip melihat Drake yang tengah mangunyah makanan. Bibir pria itu terlihat sangat seksi, Kania mengerjap. Menepuk kepalanya pelan, kenapa dirinya mendadak menjadi wanita mesum seperti ini.


“Kenapa? Mengagumiku?”


“Tidak.” Kania menegakkan badannya. “Apa aku boleh pulang?”


“Kau ingin menghindar lagi?”


“B-bukan seperti itu. Aku hanya ingin berganti pakaian saja.”


“Tidak usah berganti.”


Kania kembali menjatuhkan kepalanya. Baru kali ini ia sangat menurut pada seseorang. Dengan orang tuanya saja tidak sampai seperti ini. Perintah Drake sangat mutlak untuk dilakukan.


~~


“Kau selalu menggunakan produk skincare milikku?” tanya Kania.


Posisinya berada di kamar mandi. Duduk di atas wastafel dengan di hadapannya Drake yang berdiri. Tangannya mengoleskan cairan skincare yang bernama Mostoraizer. Jari-jari lentiknya terampil mengoleskan ke seluruh wajah tampan Drake.


“Beberapa hari lalu karena aku ingin mencoba,” jawab jujur Drake.


Kania mendengus. Melompat turun, sekarang gilirannya. Ia mencuci wajahnya pelan menghadap kaca dengan Drake yang memeluknya dari belakang. Pergerakannya sangat terbatas karena tubuh Drake yang terlalu menempel padanya.


“Drake—“ keluh Kania.


“Hm.” Drake menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Kania. Tangannya memeluk perut ramping perempuan itu. “Jangan mengeluh, kau sendiri yang bilang tidak akan menghindariku.”


Kania menghela nafas. Tubuhnya terangkat kembali duduk di atas wastafel. Tanpa aba-aba, Drake menciumnya. Menyapu bibirnya dengan agresif. Terjadi pangutan bibir di antara mereka. Tangan Drake menelusup masuk, membelai area pinggang dengan lembut.


Sentuhan di kulit mulusnya membuat Kania memejamkan mata. Belum lagi lehernya yang digigit kecil oleh Drake. Tangannya memeluk erat leher pria itu. Bahkan sekarang Kania sangat sulit menahan mulutnya agar tidak mengeluarkan suara menjijikkan.


Drake melepaskan Kania. Telapak tangannya menangkup wajah merah Kania. “Beautiful,” lirihnya. Menyatukan dahi mereka. “Kali ini aku membiarkanmu pergi.”


Kania mendongak. Kenapa rasanya malah kecewa. Ia menggeleng. Tak lama merasakan sebuah tepukan lembut di puncak kepalanya. Akhirnya Kania kembali ke Penthousenya meninggalkan Drake yang berperang dengan gairahnya. Jujur ia belum bisa mengendalikan gairahnya yang menggebu-gebu saat berdekatan dengan Kania. Ingin sekali rasanya menjadikan Kania sepenuhnya miliknya.


“I fucking want you, Kania.”


**


Menatap diri di depan cermin. Kania menatap lehernya yang berwarna merah. Sebuah tanda yang dibuat oleh Drake, pasti besok akan lebih terlihat jelas lagi. Seharusnya ia bisa mencegah Drake melakukan hal itu. Kania mengacak rambutnya. Kegiatannya terhenti saat melihat bibirnya bengkak. Pengalaman yang sulit dilupakan, ciuman yang menggebu-gebu antara dirinya dan Drake.


“Aku sudah gila,” keluh Kania menjauhi cermin.


Merebahkan diri di atas kasur. Menatap langit-langit kamarnya. “Semuanya hanya sementara,” lirihnya.


**


Sedang asik-asiknya menonton film serial kesukannya. Tiba-tiba seorang pria datang, berdiri tepat di depannya. Memandangnya datar. Kemudian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.


“Ikut denganku.”


Kania mendongak.“Ke mana?”


Drake tidak menjawab. Langsung menarik tangan Kania agar berdiri.


“Drake!” pekik Kania.


“Ayo.”


“Aku harus berganti dulu.”


Drake mengamati Kania dari bawah hingga atas. Hotpants dan kaos berwarna putih. Sangat berbahaya jika laki-laki lain juga melihatnya. “Cepat. Tidak lebih dari satu menit.”


Kania langsung berlari masuk ke dalam kamarnya. Sembari berganti di dalam kamar. bibirnya tidak berhenti menggerutu. Pilihannya jatuh pada dress sederhana selutut dan sebuah cardigan rajut.


“Ayo.”


Drake mengangguk. Mengambil tangan Kania lalu menggenggamnya. Melegakan ketika menyadari Drake tidak seburuk bayangannya. Drake memperlakukannya layaknya kekasih. Kania sedikit mengangkat bibirnya membentuk senyuman tipis.