Obsesi Sang Aktor

Obsesi Sang Aktor
Habis Manis Sepah Dibuang


Terbangun akibat dering ponsel yang berdering dengan keras. Tubuh kekar itu terpaksa bangun, menyibak selimut tebal yang menutupi wanitanya dan dirinya. Drake tersenyum tipis melihat Kania yang masih tertidur pulas.


“BOSS GAWAT-GAWAT BOSS!” teriakkan memekkan dari Manajer Drake, Jefri.


Drake menjauhkan ponselnya dari telinganya. “Why? Jangan teriak-teriak, Jef!”


“Lihat TV sekarang! Cepat!”


“Kenapa?” tanya Drake. Ia mencari remot kontrol, setelah dapat segera menyalakan TV di depannya.


“AKTOR DRAKE TERTANGKAP KAMERA SEDANG MENGHABISKAN WAKTU DENGAN KEKASIHNYA DI SEBUAH RESTORAN PINGGIRAN KOTA. NAMUN HAL INI MASIH MENJADI PERDEBATAN. APAKAH WANITA SAMA YANG PERNAH DIBAWANYA KE PESTA PENGUSAHA DUKE ATAU BERBEDA LAGI.”


Ujar si pembawa acara. Di susul dengan layar televisi yang menunjukkkan Foto dirinya bersama Kania yang nampak keluar dari Restoran. Untung saja foto di ambil dari sudut pandang Drake, jadi wajah Kania tidak dilihat begitu jelas.


“PARA PENGGEMAR DRAKE, BERAMAI-RAMAI MENCARI WANITA YANG DIKENCANI IDOLANYA. MEREKA MENGUMPULKAN BEBERAPA WANITA YANG SEMENTARA MASIH MENJADI DUGAAN.”


“PERTAMA ADALAH LAWAN MAIN DRAKE DI FILM HATE BUT LOVE YAITU OLIVIA. YANG KEDUA ADALAH ANASTASYA LAWAN MAINNYA DI FILM TERBARU. DAN YANG TERAKHIR ADALAH SEORANG PENGUSAHA YANG BELUM DIKETAHUI PASTI SIAPA. ADA YANG BILANG DRAKE BERKENCAN DENGAN REKAN BISNISNYA SENDIRI.”


“Shit!!” umpat Drake.


“Bos-bos kau masih mendengarku?”


“Ya.”


“Semua orang nampak sangat ingin tahu hubunganmu. Kusarankan agar lebih hati-hati saat bersama Kania. Aku baru saja dihubungi perusahaan. Mereka bilang—tidak berdampak buruk. Justru berdampak baik karena orang-orang penasaran dengan film-mu dengan Anastasya.”


Drake mengangguk. sedikit lega, setidaknya identitas Kania belum diketahui orang-orang. Namun jika memang sudah waktunya, Drake tidak bisa mencegahnya. Ia menoleh saat mendapati pergerakan dari wanita yang masih tertidur pulas di bawah selimut tebal berwarna putih.


“Bos, kau masih mendengarku?”


“Hm.”


“Kau harus datang ke acara promosi Filmmu.”


Drake melirik jam dinding di sebelah kirinya. “Aku akan pulang. Kau suruh orang membawakan baju untuk Kania.”


“For? WHAT BOS?!”


“Jangan banyak tanya, Jef. Lakukan saja.” Tidak lagi mendengar balasan dari Jefri, Drake langsung menutup sambungan telepon.


Langkahnya membawanya mendekat ke arah wanita yang tertidur dengan telungkup. Punggung mulusnya terlihat jelas di matanya. Drake menunduk. Mengusap bagian belakang kepala Kania pelan.


“Aku pergi.”


~~


Menggeliat, mencari posisi ternyaman untuk kembali tertidur. Namun cahaya yang menerpa, membuat seorang wanita membuka mata. Terdiam, mencoba mengingat apa yang terjadi dengannya.


Meraih cepat selimut yang membungkusnya, benar saja tubuhnya tidak sedang terbalut apapun. Kejadian semalam bukan mimpi. “Ah sial!” umpat Kania keras. Mengacak rambutnya asal.


Bangun tertatih sembari membungkus selimut ke seluruh badannya, Kania tidak berhentinya merutuk mendengar bel berbunyi. Membuka pintu sangat sedikit, mengeryit melihat seorang wanita di depannya.


“Saya suruhan, Jefri. Saya diminta untuk memberikan paper bag ini untuk anda,” ujar menjelaskan sang wanita.


Kania mengangguk. Meraih paper bag berwarna hitam itu lalu menutup pintu dengan rapat. Bukan tidak punya sopan, tapi dirinya sangat malu. Bayangkan saja tidak menggunakan pakaian dan hanya berselimut putih saja.


Di dalam paper bag terdapat Dress dan dalaman. Semuanya sama persis dengan ukuran yang biasa digunakan oleh Kania. “Dia sudah merasakan semua tubuhku, tidak perlu heran dia bisa tahu ‘ukuranku’.”


Membuka selimut yang membungkus dirinya, Kania menatap pantulan dirinya di cermin. Semua terdapat jejak yang dibuat Drake. Hal paling gila yang dilakukannya bersama Drake. Make out di dalam toilet.


Tak mau membuang waktu lagi, Kania segera membersihkan diri. Usai mengenakan dress berwarna maroon, ia segera mencari ponselnya. Terdapat banyak panggilan dari Sekretarisnya.


“Hallo,” panggilnya.


“Miss, anda di mana? Apa anda tidak masuk ke kantor?”


“Meeting mingguan sementara ditunda.”


“Baiklah. Tolong siapkan pakaian kantor yang biasa aku gunakan. Terserah merk apapun. yang terpenting saat aku sudah sampai, pakaianku sudah ada. Aku akan datang maksimal 45 menit.”


“Baik, Miss. ”


Jarak dari club dengan kantor Kania lumayan jauh. Untuk itu ia segera mempersiapkan keberangkatannya dengan memesan taksi. ‘Dasar Drake tidak bertanggung jawab!’ batinnya. Segera menuruni tangga.


“Habis manis sepah dibuang,” rutuk Kania.


~~


“Oke jadi apa yang membuatmu akan menginap di sini?” tanya Flory mengintrograsi Kania. Melihat Kania yang hanya berbaring di sofa dengan mata tertutup membuat Flory merasa kasihan.


“Kau letih, lelah, lesu?” tanya Flory lagi.


Kania mengangguk. “Hm.”


“Aku lupa menanyakan pergi ke mana kau di pesta ulang tahunku? Kata Joshua kau pergi ke toilet untuk membersihkan rokmu yang terkena tumpahan minuman Luara, tapi aku tidak melihatmu. Kau ke mana Kania?”


Kania mengerjap pelan. Sebisa mungkin ia bersikap biasa saja agar tidak membangkitkan kecurigaan Flory. “A-aku pulang.”


Sebuah bantal melayang terkena wajah Kania. “Siapa yang menyuruhmu pulang? bahkan itu baru awal kau sudah pulang.”


Kania tidak mau kalah. Ia melempar bantal itu kembali ke Flory. “Yaaa! Aku tidak suka di sana.”


“Dasar kampungan,” hina Flory.


 Kania mengejar Flory yang telah berlari usai menghinanya. “Katakan lagi aku akan menghabisimu, Bitch!”


“Kampungan-kampungan.”


Terjadi aksi kejar-kejaran antara dua perempuan itu. Saling memukul bantal. Hingga keduanya lelah dan sama-sama terbaring di lantai dengan posisi kapas  yang sudah bertebaran ke mana-mana.


“Jadi kau pulang karena….?”


“Sudah kubilang aku tidak suka.”


Flory menoleh. Memandang Kania hingga matanya terhenti di sebuah titik. Kerah kemeja yang terseringkap membuatnya bisa melihat dengan jelas tanda biru keunguan itu di leher Kania.


“WAIT—KANIA! ITU KISSMARK!” seru heboh Flory  bangun lalu menghadap Kania.


“A-apa?” Kania segera menutup area lehernya. Terlambat Flory telah melihatnya. Tandanya terlalu banyak sehingga terselingkap sedikit akan langsung terlihat.


“JANGAN BOHONG KAU PASTI SUDAH TIDUR DENGAN SESEORANG?! MENGAKU SAJA SIAPA?”


Heboh sangat heboh. Flory seperti sedang menyiarkan sebuah pengumuman di sebuah lapangan luas yang perlu teriak-teriak agar orang-orang bisa mendengarnya. Segera menutup bibir Flory menggunakan telapak tangannya. Kania tentu saja tidak ingin teriakan Flory membuat tetangga sebelah terganggu.


“Kecilkan suaramu.”


Flory tersenyum. “Ayo katakan, siapa yang merebut ke-pe-ra-wa-nan-mu?”


“I still virgin, Flo!”


“What? Kok bisa?” tanya heran Flory. Terlihat sekali dari raut wajahnya sangat heran dengan pengakuan Kania. “Lalu siapa yang membuat tanda di lehermu?”


Kania menghela nafas panjang. “Drake.”


Suara Kania diiringi dengan bel pintu Apartemen Flory yang berbunyi. “Wait, aku akan mengambil makanan kita dulu.”


Flory berjalan ke arah pintu. Bersiap akan memberikan sejumlah uang tunai untuk diberikan pada pengantar makanan. Namun saat pintu terbuka, mendadak terdiam kaku. Mengerjapkan mata berkali-kali. Memastikan apakah benar di depannya adalah orang yang menjadi dalang kerumitan hidup sahabatnya.


“Di mana Kania?” tanya pria itu di ambang pintu.