Obsesi Sang Aktor

Obsesi Sang Aktor
Feeling


Kania menggeleng pelan. Kemudian mundur. “Benar? Kamu bersama wanita lain semalaman ini?”


Drake memegang handle pintu. Bisa-bisanya mengabaikan Kania di saat seperti ini.


“Drake!” Kania tidak tahan akhirnya menarik tubuh pria itu agar menghadapnya. “Jawab aku! Jangan lari dan jadi pengecut!”


“Kenapa kalau aku bermain dengan wanita lain! Wanita bukan hanya dirimu saja Kania! Ada banyak wanita yang rela memberikan segalanya padaku!”


“Kamu sadar apa yang kamu katakan Drake?” Kania mengepalkan kedua tangannya. “Padahal baru beberapa minggu lalu kamu bilang tidak akan melirik wanita lain saat sudah berkomitmen denganku?”


“Itu saat aku belum tahu ternyata hanya aku yang berjuang di hubungan ini.” Drake masuk ke dalam Penthouse. Menutup pintu dengan gebrakan.


Kania menahan tangisannya yang sudah diujung mata. Ia menghela nafas berkali-kali untuk menangkan diri. Setelah itu mendekatkan diri ke arah kamera kecil yang terhubung dengan layar di dalam.


“Aku tidak mengijinkan laki-laki lain dekat denganku.” Setelah itu Kania melangkah pergi.


Di dalam penthousenya. Kemarahan Drake berada di puncak. Sulit dikendalikan jika ia sedang benar-benar marah. Barang-barang berjatuhan akibat luapan emosinya. Bunyi-bunyi benda hancur semakin menggema. Hancur dan berantakan. Drake menyandarkan dirinya di dinding.


Ternyata sulit menjalin hubungan serius dengan wanita. Sepertinya dirinya memang tidak cocok. Pernikahan memanglah tidak cocok dengannya—lebih baik sendiri dan bisa pergi bersenang-senang dengan wanita manapun.


Drake mengusap rambutnya frustasi. Secara tiba-tiba sentuhan di tangannya membuatnya mendongak. Kania duduk di hadapannya—dengan membawa kotak P3k yang dibawanya. Perempuan itu menghela nafas melihat luka di jemari Drake.


Tanpa kata sedikitpun. Kania membersihkan luka sampai mengobatinya. Setelah itu—jemari lentiknya mengusap rahang Drake. “Jangan sakiti dirimu sendiri.”


Kania beranjak. Mengambil peralatan kebersihan. Ia sendiri yang akan membereskan kekacauan ini. Ada begitu banyak serpihan beling dari vas atau guci mahal yang dihancurkan Drake.


Berjongkok kemudian memungut pecahan itu satu persatu. Kemudian memasukkan ke dalam kantung kresek.


“Awh.” Kania berhenti saat salah satu jemarinya tertusuk serpihan guci yang tajam. Darah segar keluar dari jari tangannya.


“Hentikan.” Drake berdiri di depannya. “Orang lain akan membersihkannya.”


“Aku yang akan membereskan kekacuan yang kamu buat.” Kania masih kekeh ingin membersihkan sendiri. Mengambil satu plester dan dibalutkan ke jarinya.


“Aku bilang berhenti.”


Kania tidak mengindahkan sedikitpun ucapan Drake.


“AKU BILANG BERHENTI YA BERHENTI!” teriak Drake. Sudah dibilang—sangat sulit membendung emosi. Drake belum mampu mengontrol emosinya yang sudah terlanjur meledak. “PERGI DARI SINI!”


“Drake…” lirih Kania.


“Aku tidak bisa mengontrol emosiku Kania. Pergi dari sini!”


Kania menggeleng. “Jangan seperti ini Drake..” lirihnya.


“Pergi.” Drake menatap Kania dengan sorot tajamnya. “Aku tidak membutuhkanmu.”


~~


Perkataan Drake membuat Kania benar-benar sakit hati. Kania berada di rumah Flory. Hanya dengan bertemu temannya mungkin bisa melupakan masalahnya. Setelah Drake bilang tidak membutuhkannya—Kania langsung pergi. Biar saja—memangnya siapa yang akan terus memohon maaf.


“Kania,” panggil Flory.


“Hm.” Kania menjawab seenaknya.


“Kau sedang marah dengan Drake pasti.” Flory melipat kedua kakinya. Mereka duduk di atas sofa di depan sebuah televisi yang menayangkan sebuah komedi. Komedi yang sama sekali tidak lucu bagi Kania.


“Seperti itulah.” Kania memasukkan camilan ke dalam mulutnya. “Kita sama-sama keras kepala. Dia tidak mau mengalah. Aku juga tidak mau mengalah.”


“Kau tahu kesalahanmu. Bagaimana jika nanti Drake bersama wanita lain?”


Kania tertawa pelan. “Dia bahkan sudah tidur dengan wanita lain.”


“APA!”


“Dia selalu menuduhku bersama laki-laki lain tapi dia sendiri sampai tidur dengan wanita lain. Lalu aku yang disalahkan dan seakan harus mengemis maaf padanya.”


“Sebelumnya dia melamarku. Dia bilang tidak akan berhubungan dengan wanita lain saat menjalin hubungan denganku. Tapi dia mengingkari janjinya sendiri. Menurutmu aku harus apa? Meminta maaf padanya?”


“Tapi—bagaimana kau tahu dia tidur dengan wanita lain? Bisa jadi kau yang salah paham.”


Kania mengedikkan bahu. “Just feeling.”


Flory mengeplak bahu Kania. “Yang benar Kania. Jangan sembarangan. Harus cari yang sebenarnya dulu. Jangan menyimpulkan sendiri.”


“Tapi dia pergi ke klub saat marah denganku. Paginya aku melihat ada kissmark dan bau parfum wanita lain. Bagaimana? Masih bisa berfikir positif?”


Flory terdiam. Dia menutup kedua mulutnya. “Lalu kau mau bagaimana?”


“Aku tidak tahu.”


~~


Kania tidak jadi menginap. Ia pulang—namun tidak sepenuhnya pulang. Ia menyempatkan diri pergi ke kolam renang yang letaknya berada di lantai paling atas. Tengah malam seperti ini tidak ada orang yang berenang selain dirinya. Kania berjalan ke loker—mengambil pakaian renangnya. Setelah itu berganti.


Ia membuka bathroob. Tubuhnya sudah terbalut dengan bikini berwarna hitam. Lagipula tidak ada yang melihatnya juga. Kania masuk ke dalam air—tidak dingin seperti air kolam saat siang hari. Air kolam di malam hari akan terisi dengan air hangat.


Kania asik sendiri dengan aktivitasnya. Sampai tidak sadar jika satu laki-laki yang menatap lapar dirinya. Kania naik—mengambil bathroobnya dan kemudian memakainya.


Namun langkahnya dihadang oleh laki-laki botak dengan perut buncit. Kania tidak tahu—yang pasti pria itu penghuni gedung yang sama dengannya.


“Permisi.” Tekankan Kania.


Tiba-tiba pria itu mencekal pergelangan tangan Kania. Kania melotot.


“Apa yang kau lakukan?!” teriak marah Kania mencoba melepaskan cekalan pria itu. Kania menghirup aroma Alkohol yang begitu kuat. Dugaannya orang ini sedang mabuk.


DUGH


Kania menedang aset pria itu. Baru saja ingin kabur—kakinya kini ditangkap pria itu. “LEPASKAN AKU SIA LAN!”


Dengan mata yang memerah. Pria itu menatap Kania dengan senyum yang mengerikan. Juga tangannya yang menarik kaki Kania dengan kuat.


Kania meronta. Pria itu kini mencengkram kedua bahunya. Kejadian beberapa bulan lalu terlintas di pikiran Kania. Bayangan akan pria yang menyentuhnya. Kania memejamkan mata dengan kedua tangan yang memeluk kepalanya sendiri.


“Jangan…” lirihnya sambil menggeleng.


BUGH BYUUR


Kania tidak mampu membuka mata. Tubuhnya lemas—bayangan itu kian nyata. Hingga akhirnya jatuh pingsan.


“Kania,” panggil seseorang yang sayup-sayup masih Kania dengar.


~~


“Beri dia pelajaran. Beraninya mengusik wanitaku.” Suara dingin itu mampu membangunkan seseorang yang tengah berbaring.


Kania membuka matanya perlahan. Ini bukan kamarnya—lalu di mana dia. Ia melihat punggung lebar seorang pria dengan posisi memunggunginya.


Kania bangkit. Dengan tubuh yang terasa masih lemas. Kania tidak tahu apa yang menyebabkan dirinya seperti ini. Kejadian tadi malam membuat traumanya kambuh. Ia mencoba tegar namun tetap saja kedua matanya tetap meneteskan air mata.


“Kania,” panggil lembut seseorang.


Kania menoleh. Menampilkan senyumnya. “Ya?”


“Are you okay?”


“Yes im okay.” Kania memeluk pria di hadapannya. “Jangan meninggalkanku Drake.”


“Iam here. Cause I still by your side.” Drake mengusap punggung Kania pelan.