Obsesi Sang Aktor

Obsesi Sang Aktor
Contract?


Drake terdiam sesaat. Jujur Kania juga ingin tahu jawaban dari Drake. “Entah… tapi aku suka melihatnya. Aku suka saat dia selalu bersamaku. Tidak ada jawaban pasti yang bisa menjawab pertanyaan itu. Tapi aku suka apapun mengenai Kania.”


Aji mengangguk. “Aku harap perkataanmu tidak berubah setelah menghabiskan waktu yang lebih lama lagi dengan Kania.”


“Yaaa!” Kania tidak terima saat kakaknya akan menjelekkannya. “Jangan berbicara apapun.”


“Kau harus tahu. Kania itu paling malas mandi. Keramas bisa satu kali dalam seminggu. Saat masih tinggal bersama—aku sering mencium baunya. Kania itu tidak secantik dari luarnya—kau masih butuh waktu untuk mengenalnya. Pikirkan baik-baik pilihanmu.”


“Itu dulu saat aku masih kuliah. Kau benar-benar ya! Setelah ini kau memang harus pulang.”


Drake tersenyum. Menurutnya seru mendengarkan percakapan antara adik kakak itu. Mirip percakapannya dengan kakak perempuannya dulu. Andai kakaknya masih ada—pasti sangat senang bisa bertemu dengan Kania.


“Drake…”


“Ya?” jawab Drake yang sempat melamun memikirkan kakaknya.


“Kau baik-baik saja?”


Drake mengangguk.


“Drake pasti mulai berpikir tentang keburukannmu,” imbuh Aji.


“Aku memang harus menyeretmu pergi dari sini,” sinis Kania.


Aji dan Drake sama-sama tergelak. Malam itu mereka menghabiskan waktu makan dan saling berbincang. Hanya makan malam biasa namun Kania merasa malam ini cukup spesial. Drake bertemu dengan keluarganya. Drake tidak menghindar ataupun menampik hubungan mereka. Ya meskipun Kania harus menyadarkan diri jika hubungan ini sebatas kontrak.


“Kakak kamu baik juga.”


Di dalam mobil. Kania bersandar pada jendela. “Dia bisa baik, bisa jahat. Aku tidak pernah meminta bantuan apapun pada kak Aji. Meskipun aku dalam kesulitan sekalipun.”


“Kenapa?”


Kania menatap lurus ke depan. “Menurutku Kak Aji itu misterius. Kadang bisa jadi kakak yang menyebalkan. Bisa jadi kakak yang sayang sama adiknya…terkadang juga bisa jadi kakak yang menyakiti adiknya juga..”


“Kakak kamu pernah menyakiti kamu?”


“Maybe.” Kania mengingat kenangannya dulu dengan Aji. “Kak Aji dulu sempat tersaingi. Padahal aku belajar mati-matian dan berusaha berprestasi bukan untuk merebut kekuasannya. Kak Aji takut perusahaan jatuh ke tanganku. Karena itulah dia membuat aku masuk jurusan yang tidak aku suka.”


“Really?”


Kania mengangguk. “Aku tidak pernah berpikir masuk jurusan Farmasi. Tapi Kak Aji yang meyakinkan orang tuaku supaya aku masuk di bidang kesehatan.” Kania tertawa. “Lucu juga—Kak Aji ingin mempertahankan kekuasaan dengan mengorbankanku. Tapi baguslah—dengan aku masuk jurusan farmasi aku bisa buat produk sendiri.”


“Setelah aku lulus. Aku memutuskan merantau. Aku bilang sama bunda dan ayah, aku akan kerja di rumah sakit besar. Tapi setelah sampai di sini—aku mendirikan perusahaanku sendiri.”


Drake menepikan mobilnya. “Kania..”


“Don’t look at me like that.” Kania tertawa pelan. “Aku tidak suka ditatap kasihan Drake.”


“I know, cause I feel like that.” Drake mengusap puncak rambut Kania. “Semua itu menjadi bagian dari perjalanan hidup kamu. Kamu sudah melakukan yang terbaik.” Jari-jari Drake mengusap kedua pipi Kania.


“Drake…” Kania mendekat. Menyatukan dahi mereka. “Apa arti aku buat kamu.”


“Youre my world.”


“Drake don’t lie. You talk bulshit.”


Drake tersenyum pelan. “Don’t talk about that. Aku sangat nyaman dengan kita yang seperti ini. Kania—I love all about you. I love youre story. I love youre smile. Yeah, I love you. Just you—Kania Ayu Maharani.”


“I love you more—Drake. But we have contract…” Kania mundur. Namun Drake mencegahnya. Dia memegang tengkuk Kania agar dahi mereka tetap menyatu. Agar kedua mata mereka saling berpandang. Tidak ada kebohongan yang bisa ditutupi dengan jarak mereka yang seperti ini.


“Bagaimana hubungan kita saat kontrak itu berakhir? Hanya beberapa bulan lagi kontrak itu akan berakhir—Drake. Kau tahu? Aku sampai pusing memikirkan bagaimana hubungan ini ke depannya?”


“Kania…”


Kania terdiam. Mengambil selembar tisu dan diusapkannya ke pipinya yang sudah basah dengan air mata.


“Dengan kontrak ataupun tidak. Kita akan tetap bersama. Apapun yang terjadi. Kania aku ingin kamu selalu berada di sisiku. Aku tidak bisa membayangkan jika ada laki-laki lain yang bersamamu.” Drake menggenggam tangan Kania. Mengusapnya pelan. “Sorry. Aku telat mengungkapkan perasaanku. Tapi aku butuh waktu untuk meyakinkan diri sendiri—jika kamu bukan seperti wanita di luar sana.”


“Jadi kita resmi berkencan?”


“Bukankan selama ini kita sudah berkencan?”


“Itu tidak resmi karena kamu hanya mengklaim aku milikmu. Berkencan itu saling mengungkapkan perasaan. Kita baru saja melakukannya. Jadi kita resmi berkencan hari ini.”


Drake sebenarnya tidak mengerti dengan pemikiran wanita. Padahal selama ini kebersamaannya dengan Kania, ia artikan sebagai berkencan. Namun nyatanya Kania tidak berpikir demikian.


“Iya—kita berkencan.”


Drake memeluk Kania. Mengecup puncak rambut Kania. “Tunggu…”


“Kenapa?”


“Benar apa kata kakak kamu. Kamu jarang keramas.”


“DRAKE!!” pekik Kania kesal. Di tengah kegiatan romantis—Drake mengacaukannya. Kania berkali-kali memukuli lengan Drake karena terlanjur kesal.


Drake menghentikan pergerakan Kania dengan mencekal tangan perempuan itu. Drake menarik tengkuk Kania dan kembali mendaratkan ciuman. Kali ini mereka berciuman untuk menyalurkan segala perasaan. Kania bahagia—Kania merasa bahagia karena cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.


“I love you, Drake!” pekik Kania.


Drake tertawa renyah. Sekali tarikan—Kania sudah jatuh di pangkuannya.


“I want you—Kania. Iam fu*king want you!” tangan Drake mengusap pinggang Kania beberapa kali. Menelusup masuk dan membelai punggung mulus Kania.


“Just do it, Drake.” Kania membuka matanya kembali. “We need a room!” pekik Kania saat Drake berhasil membuka sebagian dressnya.


“You need but I don’t.”


Mobil bergoyang itu nyata. Untungnya Drake memarkir mobilnya di tempat yang gelap sehingga orang-orang yang melewati mereka tidak akan sadar.


~~


Drake tersenyum menatap wajah polos Kania. Ia sudah berpakaian rapi. Hari ini ia akan menjalani proses syuting untuk film terbarunya. Drake harus profesional meski sangat ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama Kania.


“Kania…” Panggilnya. Tangannya mengusap pipi Kania pelan. “Apa kamu tidak ingin bangun?”


Kania semakin mengantuk dengan usapan lembut dari tangan Drake di wajahnya. “Beri aku 5 menit lagi.” Wanita itu sama sekali tidak membuka mata.


“Siapa yang akan mengurus perusahaanmu jika kamu sibuk tidur?” Drake berjongkok.


Akhirnya Kania membuka mata. Melakukan peregangan sebentar. “Kamu lupa jika aku CEO-nya? Aku bisa kapanpun datang ke kantor.”


Drake tertawa renyah. “Sejak kapan kamu sama arogannya denganku?”


Kania ikut tertawa. “Sifat aroganmu menular padaku.”


Drake mendekat. Mencium dahi Kania. “Aku harus pergi. Syuting memerlukan waktu yang lama. Aku tidak tahu kapan aku bisa pulang.”


Kania mengangguk. “Semoga syutingmu berjalan lancar.”