Obsesi Sang Aktor

Obsesi Sang Aktor
Berbaikan


Entah kenapa Kania ingin tertawa melihat raut Drake yang sangat kesal. Berada di sebuah restoran untuk mengisi perut, Drake duduk di depan Kania. Drake uring-uringan karena kalah bermain golf dengan Joshua. Merasa harga dirinya jatuh di depan Kania—Drake menjadi sangat kesal.


“Kau menertawakan kekalahanku?” tanya Drake menyipitkan mata melihat raut senang Kania.


Kania menggeleng. “Bukan—tapi wajahmu lucu,” jawabnya.


“Aku bukan pelawak—Kania. Wajahku terlalu tampan untuk ditertawakan.”


“Kau terlalu percaya diri—Sir,” ucap Kania.


“Jangan panggi aku seperti itu.”


“Kenapa?”


“Berbahaya.”


Kania mengerjapkan mata. Sungguh tidak tahu letak bahayanya di mana. Tapi ada yang ia sadari—berbicara ringan seperti ini bersama Drake menyenangkan. Drake tidak lagi memaksanya—melakukan apapun sesuka hati yang menyakitinya.


“Aku suka seperti ini—Drake.”


“Maksudmu?”


Kania menatap dalam Drake. “Aku suka kau yang seperti ini. Aku bisa berbicara denganmu tanpa takut. Kau lebih manusiawi. Aku lebih suka kita yang seperti ini. Bisakah kita mulai semuanya dari awal?”


“Mulai dari berteman maksudmu?”


Kania tertawa. “Ehmm mulai pelan-pelan.”


“Kau tahu perkataanmu ambigu.”


Kania mengerjapkan mata. “Bukan—maksudku kau dan aku bisa menjalani hubungan yang ringan. Berbicara dengan jujur apa yang ingin dibicarakan dan menghargai satu sama lain.”


“Boleh tapi—“


“What?”


“Aku tidak bisa menahan untuk tidak menyentuhmu.”


“Aku tahu.”


“So—?”


“Aku mengijinkan asal kau tidak melakukannya dengan kemarahan apalagi sampai kasar.”


“Oke.”


Kania mengulurkan tangannya. “Deal.”


Drake tersenyum. “Deal.” Menyambut hangat tangan Kania digenggaman tangannya.


~~


“Aku berangkat,” pamit Kania. Ia berjongkok, menatap Drake yang masih tidur di bawah selimut.


Tapi cekalan ditangannya membuatnya goyah dan limbung di tubuh kekar pria itu. “Aku harus berangkat—Drake.”


“Babe ini masih terlalu pagi.”


“Tidak menurutku. Ini sudah terlalu siang untuk tidur di atas kasur.”


Drake membuka mata. Menelusuri wajah cantik yang sudah terpoles make up. Jemarinya terulur mengusap pipi Kania. “Kenapa kau terus bertambah cantik.”


“Thank you—but kurasa rayuanmu tidak akan berpengaruh padaku.”


“Benarkah?” Drake memeluk pinggang Kania lebih erat. “Kalau begitu aku ingin membertahu suatu hal padamu. Akhir-akhir ini ada hal yang membuatku senang.”


“What?”


“Melihat senyummu.”


Bibir Kania melengkungkan senyum.


“Kau tersenyum, babe.” Drake mencuri satu kecupan di bibir Kania. Mengusap surai indah Kania yang berwarna hitam, Drake semakin mendekat. Memeluk kemudian menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Kania.


“Aku suka aromamu.”


Kania mendorong tubuh Drake. Segera bangkit dan menjauh agar pria itu tidak dapat menggapai tubuhnya. “Kau bisa menghirupnya nanti—sekarang aku pergi dulu.” Tanpa mendengar jawaban dari Drake—Kania melangkah keluar dari kamar.


Sebenarnya ia keluar dari penthousenya dan meninggalkan Drake sendirian di kamarnya. Tapi tidak masalah—bukankah penthousenya juga milik Drake. Baiklah Kania harus sadar jika sekarang adalah waktunya bekerja. Ia menghela nafas kemudian masuk ke dalam lift.


~~


Kania mengangguk. “Dari siapa?”


“Tidak diketahui hanya bertuliskan perusahaannya saja.”


Kania menerima kotak itu. Perlahan ia membukanya. Sebuah dress berwarna silver lengkap dengan heelsnya. Sebuah surat berwarna merah membuatnya mengernyit.


‘Ayo bertemu lagi sayang. Oh pasti kau tidak mau. Jika kau tidak mau aku akan menyebarkan foto kita pada semua media. Kupastikan kekasihmu marah. Kau tahu aku bukan, mantan pacarku?’


Kania meremas kasar surat itu. Devano gila! Dasar Psikopat! Ya pengirim paket itu adalah mantan pacarnya, Devano Wiratama. Pemimpin Wiratama Group. Fu*k! Untuk apa lagi dia menganggu. Agar tidak ada lagi masalah ia memang harus bertemu dengan Devano. Ia akan menyelesaikan semuanya.


~~


Kania keluar dari mobil. Ia langsung masuk ke dalam restoran yang nampak sepi. Saat pertama kali ia masuk, matanya bergerak mencari seseorang. Matanya langsung terhenti pada seorang lelaki yang duduk di salah satu bangku dengan setelan jas berwarna navy. Kania mendekat, ketukan heelsnya terdengar.


Ia langsung duduk di depan Devano, sang mantan pacar. “Apa yang kau inginkan?” tanya Kania dingin.


Devano terkekeh. Senyumnya membuat lesung pipinya terlihat. Tampan dan rapi, tipe pria yang diidam-idamkan para wanita. Namun sekarang Kania tidak lagi mengagumi mantan pacarnya itu. Tidak menampik jika Devano memang tampan, namun sayang isi otaknya hanya sel*ngkangan. Kania memilih putus daripada memberi keperawanannya hanya untuk cowok br*ngs*k seperti Devano.


“Aku hanya ingin bertemu dengan mantan pacarku. Aku hanya ingin mengetahui kabarnya. How are you—Kania?”


“Jauh lebih baik dari pada bersamamu.”


“Di mana Kania yang manis? Di mana Kaniaku yang selalu menurut padaku. Di mana Kania yang selalu mencitaiku.”


Kania menatap jijik Devano. “Kania yang dulu telah mati.”


“Kau berubah—Kania. Namun kecantikanmu masih sama. Dulu maupun sekarang kau masih sangat cantik.”


“Tutup mulutmu, Bastard! Aku tidak ingin berurusan denganmu lagi. Kau dan aku telah lama berpisah untuk apa kau masih menghubungiku huh?”


“Karena aku ingin balikan. Aku masih mencintaimu—Kania.” Tatapan Devano berubah sendu. Mengingat Kania dulu yang sangat manis membuatnya ingin sekali mengulang masa-masa itu.


“Aku tidak bodoh—sampai kapanpun aku tidak akan mau balikan denganmu. Aku sudah punyak kekasih jangan ganggu aku.” Kania berdiri. Sudah muak dengan drama yang diciptakan Devano.


“Aku akan mengirim foto kita pada—Drake.”


Kania berhenti. “Kirim saja. Memangnya kau punya foto apa? aku bahkan tidak pernah tidur denganmu. Ciuman? Aku tidak yakin pernah berciuman denganmu. Pelukan? Bisa dihitung dengan jari aku memelukmu. Kalau pun ada fotoku denganmu. Kirim saja. Aku tidak takut.”


Devano mengepalkan tangannya. Ia tidak akan berhenti. Tunggu saja, pasti ia akan membuat Kania bertekuk lutut lagi padanya.


~~


Saat membuka pintu penthousenya, Kania langsung disambut oleh pelukan hangat dari tubuh besar seseorang. “Kenapa lama sekali—kau terlambat, babe.” Bisiknya tepat di samping telinga kanan.


“Aku baru saja bertemu dengan orang gila?”


Drake sedikit terserentak. “Siapa?”


“Janji tidak akan marah?”


“Aku tidak yakin.”


“Janji dulu lalu aku akan memberitahumu.”


Drake kemudian mengangguk. Ia menggenggam tangan Kania. “Oke jadi siapa.”


“My ex.”


“What?”


“Ya—dia memintaku bertemu di restoran. Kupikir aku harus menemuinya agar dia tidak mengangguku.”


“Lalu apa yang dia katakan? Dia ingin balikan denganmu? Atau dia bilang masih mencintaimu.”


“Itu tidak penting. Hubunganku dengannya sudah berakhir. Aku bilang padanya agar tidak mengangguku lagi. Aku tidak punya perasaan apapun padanya.”


Ada perasaan lega. Drake menarik pinggang Kania agar bersandar padanya. “Lain kali bilang padaku, aku akan menghajarnya.”


Kania tertawa renyah. “Jangan menghajar orang lain—nanti tanganmu akan kotor.”


“Biarkan kotor yang terpenting bidadariku tidak terluka.”


“Semakin lama gombalanmu semakin tidak terkonsep.”


“Gombalanku tercipta secara spontan, tidak ada konsep dahulu.”


“Yaa terserah.”