Obsesi Sang Aktor

Obsesi Sang Aktor
Bangkit


Lebih dari satu bulan Kania tidak mengurus perusahaannya. Semua tanggung jawab perusahaan skincare-nya diserahkan pada Drake selaku pemegang saham terbanyak. Lagi pula Drake juga lebih ahli dari Kania. Terbukti dalam kurun satu bulan akan meluncurkan produk terbaru lagi.


“Kania…” panggil Drake. Ia menyunggingkan senyum saat melihat Kania di dapur. Mengenakan hoddie oversize sebatas paha. Tangannya asik mengaduk masakannya yang belum matang.


Drake langsung memeluk Kania dari belakang. “Masak apa?”


“Hanya sup.” Kania mengusap pelan tangan Drake yang bertengger di perutnya.


Drake yang tidak sabaran mematikan kompor setelah itu menaikkan tubuh Kania ke atas pantry. Langsung mendekap tubuh Kania—menaruh wajahnya di ceruk leher Kania.


“Ada apa?”


“Nothing—aku hanya lelah.” Drake menghirup aroma kesukaannya dari leher Kania.


“Aku berkeringat.” Kania mengusap rambut Drake berwarna cokelat gelap itu. “Aku bau bawang.”


“Aku tidak peduli.” Drake mulai berani memberi kecupan di leher Kania. Tangannya pun tidak tinggal diam. Perlahan masuk ke dalam Hoddie berwarna biru laut itu kemudian mengusap perut rata Kania.


“Drake…”


“Yes Babe.”


Drake mendongak. Menyatukan dahi mereka. “Buka matamu.” Perintah Drake langsung dituruti oleh Kania.


Kania memang sudah sembuh. Namun wanita itu masih takut. Setiap kali Drake menyentuhnya, Kania selalu menutup matanya. Tidak berani membuka mata, mungkin takut melihat wajah bajingan yang sekarang sudah hancur itu.


“Look at me, Kania. Don’t worry. Iam here.” Tenangkan Drake.


Seperti sebuah mantra, kalimat itu langsung bisa membuat Kania tenang. Tidak setakut tadi. Bahkan Kania sekarang mengalunkan tangannya di leher Drake.


Drake tersenyum menang. Ia mencium bibir yang menjadi candunya. Bibir berlipstik pink yang mampu membuatnya ketagihan. Drake sengaja memberikan tanda kepemilikan di leher Kania. Yakin sekali tidak akan bisa menghilang begitu saja.


“Drake… jangan!” pekik Kania.


“No—cause youre mine right?!” Drake posesive. Sangat posesive. “Semua orang harus tahu.” Lanjutnya bermain di leher Kania.


Usia melakukan aksinya—Drake kembali memeluk Kania. Lebih erat dari sebelumnya.


“Jadi apa yang membuatmu lelah?”


“Aku hanya jenuh dengan aktivitasku hari-hari ini.”


Kania megusap rahang tegas Drake. Terdapat jambang-jambang tipis di rahang pria itu. Drake tidak sempat mengurus dirinya sendiri semenjak terjun di dunia bisnis. Jika di dunia peran—ia memang selalu menyempatkan merawat dirinya sendiri. Setidaknya pergi ke dokter kecantikan dan salon selama seminggu sekali.


Kania merasa bersalah. Tidak seharusnya Drake mengerjakan apa yang menjadi pekerjaaannya. Ia harus bangkit—tidak mungkin terus berjalan di lorong gelap. Drake telah banyak membantunya. Kania sadar arti laki-laki dihadapannya ini bukan lagi iblis yang akan menghancurkannya. Tapi memang benar-benar malaikat pelindungnya.


“Drake..”


“Ya?”


“Aku ingin bekerja lagi.”


“Are seriously?”


Kania mengangguk mantap. “Iya. Aku merasa aku sudah terlalu lama bersembunyi. Aku harus segera bangkit.”


“Jangan memaksakan diri—Kania. Aku akan menghandle pekerjaanmu sampai kamu benar-benar pulih.”


“Aku sedang berusaha pulih. Dan proses pulih tidak bisa aku lewati sendirian. Aku harus berbaur dengan lingkungan sekitarku. Aku yakin setelah aku menjalani aktivitasku lagi, aku akan baik-baik saja.”


 Drake tersenyum. Ia telah lama menunggu hal ini terjadi. Kania mulai membuka dirinya lagi. Drake memeluk Kania. Berkali-kali mengecup puncak perempuan itu dengan bangga. “Kamu tidak akan sendirian—Kania. Aku di sini, bersama kamu.”


~~


Untuk hari pertama yang membahagiakan ini, Kania duduk di depan meja rias. Ia menghela nafas berkali-kali. “Aku pasti bisa.”


Kania tersenyum saat Drake memeluknya dari belakang. “Sudah siap?”


Tidak ada yang tahu terjadi sesuatu pada Kania. Orang-orang mengetahui jika Kania sakit dan memerlukan waktu untuk sembuh. Untuk itu dengan kesembuhan Kania disambut begitu hangat oleh seluruh pegawai kantor.


“Miss, Kania..” lirih Putri. Lihat wanita itu, sekretaris yang menemani Kania dari nol itu mulai berkaca-kaca. “Miss akhirnya anda sembuh.”


“Terimakasih sudah menjadi Sekretaris yang sabar untukku.” Kania tersenyum.


Putri mengangguk. Ia mendongak berusaha tidak menangis di hadapan bosnya.


“Jangan menangis. Ini hari yang membahagiakan.” Kania maju selangkah, memeluk Putri dengan begitu hangat. Hubungan mereka lebih dari atasan dan pegawai, Kania menganggap Putri sebagai adiknya sendiri.


“Apa dia menyusahkanmu?” tanya Kania melirik Drake.


Putri langsung menggeleng. “Tidak, Miss. Tuan Drake sangat baik pada semua pegawai di sini. Sering membelikan makan siang juga.”


“Benarkah?” Kania tidak yakin Drake bisa sebaik itu.


“Kamu pikir aku apa?” jelas Drake tidak terima jika Kania menilainya sebagai pria arogan dan kejam. “Kamu bisa tanya seluruh pegawai di kantor ini. Aku bahkan tidak pernah memarahi mereka.”


Kania tertawa pelan. “Baiklah aku percaya.”


Drake tidak marah mendengar ejekan Kania. Ia jutru merasa senang bisa melihat tawa Kania tanpa dibuat-buat. Benar, Kania butuh berbaur dengan lingkungannya agar kembali pulih.


“Jadi hari ini—kamu yang akan jadi pemimpin lagi. Tugasku sudah selesai.” Drake mengikuti langkah Kania masuk ke dalam ruangan.


“Hm. Aku sangat antusias.” Mengamati seluruh ruangan, tidak ada yang berubah. Semua masih sama seperti terakhir kali ini berada di sini. “Kamu tidak merubah sedikitpun ruangan ini?”


“Tidak.” Drake menarik pinggang Kania hingga menubruk dada bidangnya. “Ini kantormu—Kania. Semua yang ada di sini milikmu, aku tidak punya hak merubah apapun.”


“Terimakasih—Drake.” Kania mendongak. “Kamu sudah banyak membantuku. Maafkan aku yang hanya jadi beban buat kamu.”


“Kamu bukan beban Kania. Aku sudah berjanji akan melindungi kamu.”


Kania berjinjit. Ia mengalunkan tangannya di leher Drake. Mencium singkat laki-laki itu lebih dulu. Saat akan mundur, justru Drake menariknya lebih dekat.


“Bukan begitu itu caranya.”


Lalu Drake kembali menciumnya. Tidak membiarkannya lepas begitu saja.


Bolehkah saat ini Kania meminta agar waktu berhenti saja. Ia hanya ingin menikmati waktunya bersama Drake. Ya, hanya dengan pria itu, pria yang dulu sangat ia takuti dan hindari. Drake Cole, si aktor arogan yang dulu ia sangat benci.


Dan bolehkan Kania bertanya tentang status mereka. Apakah mereka masih sepasang kekasih yang hanya terikat kontrak. Jika begitu—Kania ingin membakar kontrak itu segera mungkin.


TOK TOK


“Miss sebentar lagi meeting akan segera di mulai—“


Putri berada di depan pintu ruangan Kania yang tertutup. Mana berani masuk saat ada Drake juga. Bagaimanapun Putri tahu hubungan Drake dan Kania memang sedekat itu. Pasangan kekasih yang sedang dimabuk asmara.


“Putri…” geram Drake.


Akibat ulah sekrataris Kania itu. Ia harus rela melepaskan Kania. Melepaskan moment mesra ini begitu saja hanya untuk menghadiri sebuah meeting.


“Jangan salahkan Putri, Drake.” Peringat Kania. “Kita memang harus pergi meeting. Kamu lupa, hari ini adalah penyerahan jabatan pimpinan padaku. Kamu harus mengingatnya.”


“Iya, babe. Tapi bolehkah setelah rapat kita meneruskan kegiatan kita tadi?”


“Tidak.” Kania berjalan menjauh.


“Ayolah…” Drake merangkul lengan Kania.


“Big no.”


“Kania.” Drake mencium pipi Kania saat sudah di depan ruangan. Di saksikan Putri yang melongo melihat mereka.


“Maaf, saya tidak melihatnya.”