
Sudah satu bulan berlalu. Berkat obat dari Psikiater, keadaan Kania jauh lebih tenang dan membaik. Ia bisa beraktivitas dengan normal dan melakukan kontak fisik dengan Drake tanpa kekawatiran lagi. Kania mengusap rambut Drake yang berantakan.
“Apa kamu tidak mau bangun?” tanya Kania. “Apa kamu tidak punya jadwal hari ini?”
Bukannya menjawab—Drake semakin mengeratkan pelukannya. Semakin merengkuh tubuh Kania.
“Aku pensiun,” jawabnya pelan.
“Benarkah?” Kania terkejut. Ia sama sekali tidak tahu apa yang dilakukan Drake.
Drake membuka matanya. Kemudian tersenyum—sangat senang rasanya ketika bangujn tidur langsung bisa menatap wanitanya.
“Aku sudah merencanakannya. Aku ingin berhenti jadi aktor dan akan menekuni dunia bisnis.”
“Kamu berencana berbisnis apa?”
“Aku akan mengambil alih bisnisku yang sementara dikelola Duke.”
Kania menyipitkan mata. “Sepertinya hanya aku yang tidak tahu apapun di sini.” Kania melepaskan pelukan Drake. “Seharusnya aku bertanya saja pada Jefri tentang apa yang kamu lakukan?”
Drake menggeleng. Ia tidak mebmiarkan Knaia menjauh darinya. “Tidak-tidak.” Drake menenggelamkan wajahnya di leher Kania. Menimpa tubuh Kania dengan kakinya. “Aku tidak ingin menambah beban pikiran kamu. Semuanya sudah selesai. Tinggal ambil alih secara resmi dan aku akan mengurus bisnisku sendiri.”
“Kamu tidak perlu merasa aku terbebani. Aku tidak masalah. Drake—kita harus berbagi masalah kita. Jangan hanya kamu yang tahu masalahku.”
Drake mengangguk. “Iya sayang.”
Kania tersenyum mendengar kata Sayang terucap dari Drake.
Drake tiba-tiba bangun.
“DRAKE PAKAI DULU CELANA KAMU!” teriak Kania histeris. Pasalnya Drake berjalan santai tanpa sehelai benangpun yang melekat di tubuhnya.
Drake berdecak. “Kamu sudah berkali-kali melihatnya kenapa masih malu.” Drake mengalah. Daripada mendengar jeritan Kania lagi. Ia lebih memilih memakai celana pendeknya.
Kania turun dari ranjang dengan selimut yang melilit tubuhnya.
“Tunggu babe.” Drake berdiri di hadapan Kania. “Tadi malam aku sungguh lupa. Karena terlalu bahagia kamu menerima lamaranku. Aku lupa memasangkan cincin di jari manis kamu.”
Kania tertawa. Bisa-bisa dirinya juga lupa tidak menagih cincin pada Drake yang melamarnya. Ia menyodorkan tangannya. “Ini. Cepat isi dengan berlian Drake.”
“Sebenarnya aku membeli yang imitasi.”
“Drake…” kesal Kania.
“Iya-iya.” Drake membuka kotak cincin. Di sana ada sebuah cincin berwarna gold dengan desain simpel namun elegan. Drake mengambil jemari Kania. Memasangkan cincin ke jari manis Kania.
Namun apa yang terjadi. Cincin itu tidak pas di jari manis Kania. Masih sedikit longgar.
“Drake…” keluh Kania. “Ah kamu. Males akuu.”
“Aku hanya menebak ukuran jari kamu Kania.” Drake menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Jangan-jangan kamu diet? Kania kamu tidak perlu diet. Sekarang ayo naikkan berat badan kamu lagi supaya cincinnya bisa pas di jari manis kamu.”
“Gak ah.” Kania mengerucutkan bibirnya. “Males-males aku.” Kania berjalan ke kamar mandi.
“Aku beli lagi ya?” tawar Drake berdiri di ambang pintu kamar mandi. “Yang lebih bagus dan lebih indah dari itu.”
“GAK. UDAH AKU PAKAI DI JEMPOL!” Kania berteriak. “Biarin aja orang-orang gak ada yang tahu kalau aku udah tunangan.”
“SAYANG!” kini berganti Drake yang berteriak. “Gak-gak. Gak bisa dibiarin. Pokoknya aku beli cincin yang baru. Yang pas di jari manis kamu. Pokoknya cincin yang lebih bagus. Lebih mahal. Lebih cantik. Titik!”
~~
Mereka sampai. Sebuah makam dengan tulisan. Christina Cole. Kakak Perempuan Drake.
“Hallo, Kak.” Drake berjongkok. Ia dan Kania memang sudah membeli Buket bunga tadi. “Sorry baru datang. Hari ini aku mau kenalin calon istriku ke Kak Christin. Namanya Kania. Mirip dikit sama Kak Christin. Senyumnya aja kok yang mirip. Sama-sama indah.”
Kania meletakkan buket bunga ke atas makam Christin. “Hallo kak Christin, aku Kania. Senang bisa bertemu kakak. Aku dan Drake saling mencintai, mohon dukung kami dan restui hubungan kami.”
Kania mengusap bahu Drake pelan. Pasti berat—Kania tahu. Apalagi Drake terlihat sangat dekat dengan Kakaknya.
Setelah mengunjungi makam kakaknya. Drake mengajak Kania ke sebuah danau buatan yang letaknya menjadi satu dengan taman kota. Di sana terdapat bangku yang memanjang. Mereka duduk berdampingan dengan memandang Danau.
“Aku dan kak Christin sangat dekat. Aku tidak tahu asal usul orang tuaku. Kata Bunda pengurus Panti Asuhan, kami dititipkan di Panti saat aku baru 6 tahun dan kak Christin berumur 12 tahun. Waktu lulus SMA Kak Christin memilih buat keluar dari Panti Asuhan supaya kita gak diangkat anak orang. Kak Cristin gak mau pisah denganku.”
Drake tersenyum mengingat perjuangan kakaknya. Menurutnya sangat membanggakan mempunyai kakak seperti Christin yang sangat kuat dan mandiri. “Kak Christin kerja serabutan supaya aku gak kurangan apapun. Sampai akhirnya kak Christin diterima di sebuah perusahaan. Aku merasa bersalah karena aku gak tahu kehidupan kak Christin waktu itu. Sampai akhirnya—Kak Christin hamil anak bosnya sendiri. Bosnya nyuruh kak Christin buat gugurin bayinya. Kak Christin depresi dan akhirnya bunuh diri.”
Kania tidak berucap satu katapun. Dia menutup mulutnya sendiri karena terkejut. Begitu Drake menatapnya—Kania tidak kuasa menahan tangisnya.
“Jangan menangis.” Drake mengusap air mata Kania dengan jemarinya. “Aku sudah berdamai dengan masa laluku.”
“Kamu memaafkan orang itu?”
Drake menggeleng. “Aku tidak akan pernah memaafkannya, Kania.”
Kania mengangguk. Ia langsung memeluk Drake. “Pasti berat sekali menyimpan semuanya sendiri. Tidak apa-apa jika kamu mau berbagi beban denganku, Drake.”
Drake mengusap rambut panjang Kania. “Aku pasti berbagi denganmu, Kania.”
~~
Kania dan Drake sudah berada di pesawat. Kania memang berniat mengajak Drake bertemu dengan orang tuanya. Hubungan mereka semakin serius, tidak mungkin tidak melibatkan peran orang tua.
“Kania bagaimana orang tua kamu?” tanya Drake. Terlihat pria itu sedikit gugup.
“Mereka baik.” Kania tersenyum. “Aku lebih dekat dengan ayahku. Jadi Ayahku yang lebih tahu tentangku. Jangan kawatir, mereka baik—Drake. Hanya saja….”
“Hanya saja?”
“Kamu tahu backround keluargaku. Mereka sedikit selektif tentang calon pasangan anaknya. Tapi kamu tidak perlu cemas. Aku yakin orang tuaku bisa menerima kamu.” Kania mengusap lengan Drake pelan.
Usai menempuh perjalanan berjam-jam. Akhirnya mereka sampai juga. Drake keluar dari mobil. Mengamati sebuah rumah dengan desain modern dan tradisional. Benar apa kata Kania, keluarganya memang masih kental dengan adat istiadat.
Kania menautkan jemarinya dengan jemari Drake. “Ayo.”
TING TING
Tidak lama dua orang keluar. Ayah dan Bunda keluar. Kania tersenyum. “Kania pulang.” Kania satu persatu memeluk orang tuanya.
“Jadi ini Drake?” tanya ayah Kania lebih dulu.
Kania mengangguk.
“Saya Drake Cole. Kekasih Kania. Kedatangan saya ke sini untuk meminta restu kalian sebagai orang tua Kania. Kami memutuskan melangkah ke jenjang yang lebi serius,” ucap Drake.
Dewi Sekar nampak tidak suka. Ia menatap Drake menilai dari atas hingga bawah. Tidak berkata apapun hingga membuat suasana menjadi tegang.
“Kami sudah tahu.” Ayah Kania menepuk pelan bahu Drake. “Masuk dulu. Berbicara di dalam.”