Obsesi Sang Aktor

Obsesi Sang Aktor
Terekspos


Usai sarapan yang hanya dihiasi keheningan. Drake dan Kania keluar dari hotel. Saat baru saja melangkah ke parkiran. ternyata begitu banya wartawan dan kemera yang menyerbu mereka. Banyaknya sorot cahaya dan kilatan flash membuat Kania mengeryit. Salah satu tangannya menghalangi matanya terkena cahaya yang menyilaukan.


“Jadi ini kekasih baru Drake?”


“Ternyata bukan dari kalangan selebriti. Sudah berapa lama anda menjalin hubungan dengan Drake?”


“Apakah kalian baru saja menghabiskan malam bersama?”


Tangan Kania tak mampu menahannya. Begitu banyak orang yang menyerangnya. Tangannya gemetar. Mengepal erat menahan kegugupannya. Hingga sebuah tangan menggenggam tangannya. Disusul dengan pelukan pada tubuhnya.


“Kami berkencan,” dua kalimat pernyataan yang dibuat Drake.


Drake melirik Kania yang tidak nyaman. Akhirnya ia melepaskan kacamata hitamnya dan memasangkan pada Kania. “Gunakan—aku tahu kau tidak nyaman.”


“Apa orang tua kalian tahu kalian berkencan?”


“Bagaimana tanggapan mereka tentang hal itu?”


“Selama ini kalian sudah berkencan diam-diam berapa lama?”


“Apa kalian sering menghabiskan waktu di hotel?”


Tidak mau meladeni para wartawan yang teru saja mencecarnya dengan pertanyaan, Drake menarik Kania masuk ke dalam mobil. Dengan segera menjalankan mobilnya keluar hotel tanpa mau meladeni awak wartawan lagi.


“Kau baik-baik saja?”


“Hm.” Jawab singkat Kania sembari menatap jendela kaca mobil.


Keterdiaman Kania membuat Drake sedikit terusik. Bertanya dalam diam apakah dia keterlaluan memperlakukan wanita itu. Drake menggeleng, tidak. Kania memang miliknya, ia berhak atas wanita itu, semuanya termasuk tubuh.


Tangannya terangkat membelai rambut belakang Kania pelan. “Tidak usah dipikirkan.”


“Hm.” Hanya gumaman sebagai jawaban Kania. Ia bersindekap sembari menatap luar jendela. Tidak ada balasan lain atau bantahan yang biasa dilayangkan pada Drake.


“Aku tidak suka kau yang pendiam.”


Kania melirik Drake dari sudut matanya. “Kau memang selalu seperti ini? Kau membuat luka lalu berusaha menyembuhkannya? Kau pikir aku boneka yang bisa kau perlakukan seenaknya?”


Drake menghela nafas. “Jangan mulai lagi—Kania,” geram Drake.


“Drake—sikapmu membuatku muak, sungguh.”


Menepikan mobilnya. Drake lagi-lagi harus menguras tenaganya berhadapan dengan Kania. “Sikapku tergantung sikapmu juga. Tidak bisakah kau menurut saja sampai perjanjian kita berakhir? Atau kau mengharapkan hal lain?”


Kania menatap Drake. Menggeleng tidak percaya. “Kau terlalu percaya diri.”


“Jangan memancingku lagi—Kania. Kau tahu apa yang biasa aku lakukan saat kau membuatku marah?” Drake menelusuri wajah cantik Kania dengan jari-jarinya. Mengusap bibir pink itu dengan jemarinya.


Kania menggeleng. Mengalihkan pandangannya ke arah lain. Entah kemanapun asal jangan menatap pria itu!


~~


 Sebuah berita menyebar dengan sangat kencang. Semua orang ramai-ramai membicarakan kekasih baru aktor Drake Cole. Bahkan nama Kania Ayu Maharani sekarang berada di trending Twitter. Namanya menjadi topik yang paling banyak dicari. Rata-rata mereka ingin tahu siapa Kania? Bagaimana rupa dari kekasih seorang Drake.


Seorang pria berjas rapi sedang berjalan dengan gagah. Memasuki Kantor yang hanya didatangi beberapa tahun sekali. Langkahnya langsung menuju ruangan di mana pimpinan berada.


“Di mana—Kania?” tanyanya pada Sekretaris yang berada di depan.


“Miss Kania tidak ingin diganggu siapapun, Sir.”


“Persetan! Di mana adikku?” tanyanya dengan tidak sabar.


“Apa yang terjadi dengannya?” keluh pria itu.


Tak lama pintu terbuka, menampilkan Kania  yang sedikit berantakan. Rambutnya tidak serapi biasanya, scarf yang biasa menggantung rapi di lehernya sekarang entah ke mana. “Kenapa membuat keributan di kantorku?”


“Kau yang membuat keributan. Aku langsung datang ke Jakarta setelah melihat skandalmu tersebar di mana-mana.”


Akhirnya Kania menarik Kakaknya masuk ke ruangannya. Aji menyugar rambutnya gusar. Ia menatap sang adik tidak percaya. “Kau sungguh berkencan dengannya?” tanyanya.


“Aku…..”


“Jawab—Kania.”


“Ya, aku memang berkencan dengannya.”


“Astaga…kenapa dia—dari sekian banyaknya pria kenapa harus dia?”


Kania menyugar rambutnya. “Aku juga tidak tahu.”


“Putuskan. Akhiri hubunganmu dengannya. Jika kau tetap bersamanya, kau tidak akan bisa hidup dengan tenang. Aktor adalah publik figur, semua yang berhubungan dengannya adalah konsumsi publik. Setelah menjalin hubungan dengannya, kau tidak akan bisa lepas dari sorotan media. Kau akan terus dikejar—Kania.”


“Untuk apa kau peduli? Aku bisa mengatasinya sendiri. Urusi urusanmu sendiri, jangan ikut campur masalahku. Selama ini aku tidak pernah ikut campur masalahmu.”


“Aku kakakmu! Aku berhak memberitahumu apa yang terbaik. Kau tahu—keluarga kita berdarah biru. Kau mau mempermalukan keluarga kita dengan skandalmu itu? Kau sudah mengenal dia cukup jauh? Kau tahu dengan jelas asal-usulnya? Jangan merusak keturanan keluarga kita—Kania.”


“Kakakku tersayang. Aku tidak berpikir sejauh itu. Cukup hentikan pemikiranmu yang berlebihan itu. Intinya aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri. Sampai di sini aku tidak ingin kau ikut campur masalahku. Dan aku tidak ada hal yang mempermalukan keluarga. Skandalku adalah hal pribadi. Aku tidak pernah merasa mempermalukan siapapun.”


“Terserah. Kau akan menyesal tidak mendengar ucapanku.” Aji berbalik badan melangkah keluar dengan raut wajah kesal. Percuma datang jauh-jauh dari Jogjakarta ke Jakarta saat adiknya tidak pernah mendengarkan ucapannya.


Dering ponselnya terdengar. Mengangkat panggilan dari benda pipih itu, Aji berbelok ke arah yang lebih sepi agar bisa leluasa berbincang dengan orang tuanya.


“Hallo, Bund.”


“Bagaimana dengan adik kamu?”


“Jangan tanyakan padaku, tanyakan langsung padanya. Aku tidak akan menghawatirkannya lagi.”


“Aji, bagaimanapun Kania adalah adik kamu. Keras kepalanya sama denganmu. Bimbing adik kamu supaya bisa menyelesaikan masalah dengan benar.”


“Tapi—Kania tidak mau, Bund. Dia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Cukup, aku tidak akan mencampuri masalahnya, biarkan saja dia. Oke aku tutup.”


Mungkin Aji menjadi anak yang paling durhaka di keluarganya. Tidak pernah pulang ke rumah. Diminta menjaga adiknya juga ogah-ogahan. Tapi sebenarnya, Aji juga menyayangi Kania, namun karena mereka sama-sama mempunyai watak keras kepala, akibatnya salah satu mereka tidak akan pernah mengalah dan akhirnya akan berakhir berdebat.


~~


Di dalam ruangan yang luas. Seorang pria baru saja menuntaskan hasratnya pada seorang wanita seksi yang kini terkulai lemas di bawahnya. Layar TV di dalam ruangan masih menyala dengan terang. Dengan volume yang tinggi, ia bisa jelas mendengar berita apa yang disampaikan.


“Kau bahkan pergi ke hotel dengannya? Sedangkan denganku, berduaan di bioskop saja kau tidak mau,” lirihnya.


“Kenapa sayang?” suara pelan dari seorang wanita yang tidak menganaka apapun. Ia bangkit. Mengusap dada bidang seorang pria yang kini hanya terdiam fokus pada layar TV di depan.


“Kau belum puas denganku?” tanyanya menggoda.


Sang pria mendengus jijik. “Tutup mulutmu ******! Aku tidak ingin melihatmu, sekarang pergilah. Aku sudah tidak membutuhkanmu,” usirnya sembari memberi beberapa lembar uang kertas berwarna merah.


“Fuck you Devano,” umpat wanita yang kini tengah memakai pakaiannya kembali. “But I love your money,” lanjutnya sembari mengedipkan mata.


Pria yang bernama Devano itu menatap layar televisi sembari tersenyum miring. Ia tahu betul siapa wanita yang sedang menjadi perbincangan hangat masyarakat sekarang. Kania Ayu Maharani—mantan pacarnya.