Obsesi Sang Aktor

Obsesi Sang Aktor
Lamaran


“Pernah?” Kania menyipitkan mata. “Pernah apa? Teruskan Drake. Kamu ingin berbicara apa?” desak Kania. Berpikir negatif jika Drake pernah melakukan hal sama dengan wanita lain.


“Aku pernah berakting dengan set seperti ini. Maka dari itu aku sudah bisa bersikap romantis.”


“Oh…” Kania lega.


Padahal Drake bukan ingin berkata seperti itu. Tapi kali ini ia berbohong dengan kebaikan hubungannya dengan Kania. Mereka makan dengan ringan—sesekali diringi dengan obrolan ringan seputar rutinitas mereka yang sangat berbeda.


“Kania….” panggil Drake. “Will you marry me?”


Kania mengerjapkan mata. Masih dalam keterkejutannya. Bahkan anggur yang sudah berada di mulutnya tidak bisa teguk dengan benar. Kania masih berproses mencerna perkataan Drake.


“Kania—telan dulu minumanmu.”


Kania mengangguk. Glek.


“Kamu sangat terkejut?”


“Pasti.” Kania mengerjapkan mata. “Drake apa kamu sudah memikirkan hal ini dengan matang?”


Drake mengagguk mantap. “Aku sudah berpikir berkali-kali. Tidak ada wanita yang cocok menjadi istriku selain kamu. Hanya kamu yang bisa melengkapi kekuranganku.” Kata-kata klise yang pernah Drake ucapkan di salah satu adegan filmnya. Namun ia baru menyadari kata-kata itu memang bermakna dalam.


Baginya—Kania seperti air yang bisa meredam api kemarahan pada dirinya. Baginya—Kania seperti angin menenangkan yang bisa meruntuhkan keegoisannya. Baginya—Kania satu-satunya wanita yang berhasil membuatnya tidak bosan, bahkan ingin terus bersama.


“Drake aku….”


“Jika aku sudah memutuskan akan bersama satu wanita—aku tidak akan berpaling pada yang lain. Jika kamu menakutkan hal itu. Aku berkomitmen dengan janjiku Kania.”


“Bukankah ini terlalu cepat? Bukannya aku tidak mau menikah dengan kamu. Hanya saja kita belum lama mengenal. Aku takut kamu berubah pikiran setelah lebih lama denganku.”


“Hubungan kita sudah mencapai batas kontrak. Aku ingin mengikat kamu bukan lagi dengan perjanjian melainkan dengan pernikahan.”


Kania tidak tahu harus berbicara apa. Yang pasti mengeluarkan jawaban dari bibirnya terasa sangat sulit. Drake bangki dari duduknya. Berdiri di belakang Kania. Mengeluarkan sebuah kalung indah dengan gandul bulan sabit.


“Kamu bisa menjawabnya saat sudah siap. Selagi kamu di sampingku—aku sudah merasa tenang.” Drake memasangkan kalung itu di leher Kania. Pertama kalinya Drake mengalami penolakan dari wanita. Hanya Kania yang bisa melakukan hal seperti itu.


Kania menatap kalung yang sudah berada di lehernya. “Terimakasih kamu mau memahamiku. Dan terimakasih juga sudah memberiku kalung yang sangat indah.” Kania mengangkat bibirnya membentu senyuman.


“I love you my actor.”


Drake menarik pinggang Kania hingga berada di dekapannya. Menarik tengkuk Kania dan mendaratkan ciuman di bibir manis wanitanya. Kania memeluk leher Drake—dekapan di pinggangnya membuatnya terasa hangat. Angin yang berhembus membuat kulit tubuhnya terasa ditaruh di dalam lemari es.


Dress hitam terbuka yang digunakannya tidak sanggup melindungi tubuhnya.


“Kamu kedinginan?” tanya Drake setelah melepaskan tautan bibir mereka.


“Sangat.”


Drake mengambil selimut dari dalam. “Jangan menggunakan pakaian terbuka. Aku juga tidak suka melihat lekuk tubuhmu di lihat orang lain.”


Kania berdecak. “Baiklah lain kali aku akan menggunakan piyama saja.”


“Jangan. Piyama membuatmu lebih menggoda. Aku tidak bisa membiarkan laki-laki lain melihatmu menggunakan piyama.”


“Drake…” lelah Kania memutarkan bola matanya malas.


Percakapan mereka terhenti saat kembang api mulai meletus di atas. Letusan yang tidak berhenti hanya beberapa kali. Drake memeluk Kania dari belakang.


“Kamu yang mempersiapkannya?”


“Just for you.” Drake mengecup pipi Kania dari samping. “Happy new year babby.”


~~


Kania bangun lebih dulu. Masih berada di atas laut. Di dalam Yact terisi kamar yang bisa digunakan mereka untuk beristirahat. Bukan beristirahat—tetapi berolahraga. Kania mengusap tangan Drake yang memeluknya dari belakang.


Kania membalikkan badannya. Drake masih tertidur. Bagaimana bisa pagi-pagi sudah sangat tampan seperti ini. Drake adalah pemilik wajah tanpa celah. Pantas saja menjadi selebriti. Dengan wajah tampan saja, pria itu bisa menarik penggemar.


Tangan Kania terangkat. Mengusap alis tebal milik Drake.


“Morning,” ucap Drake dengan suara seraknya. “Sudah jam berapa ini?” tanyanya masih ingat waktu. Tapi tangannya masih memeluk Kania.


“Jam 11 siang.”


“Benarkah?” Drake membuka mata. “Ada yang harus kusampaikan.”


“Apa?”


“Aku akan syuting selama dua bulan di luar negeri.” Drake mengambil tangan Kania.


“Jadi kapan kamu berangkat?”


“Besok.”


Kania sedikit terkejut. “Secepat itu?”


Drake mengangguk.


“Its oke. That’s your job.” Kania tersenyum. “Semoga syutingmu lancar.”


“Kamu tidak keberatan aku meninggalkan kamu?”


Kania menggeleng. “No—aku tidak mungkin menghalangi pekerjaan dan karir kamu. Dua hal itu adalah hal terpenting di hidup kamu bukan?”


Drake hanya mengangguk pelan.


~~


“Apa tidak ada pesan dari ponselku?” tanya Drake. Ia duduk di pinggir sebuah gedung tempatnya syuting saat ini. Sudah terhitung dua minggu ia berada di tempat baru untuk menjalankan pekerjaannya.


“Tidak ada pesan yang berarti—Bos.” Jefri memperlihatkan ponsel Drake yang bersih tanpa ada pemberitahuan pesan masuk.


“Aku tidak mengabarinya selama seminggu apa dia tidak cemas? Apa dia tidak menghawatirkanku?” keluh Drake. Tangannya menyeka keringat di sekitar dahi.


Film yang dibintanginya bergendre Action yang tentunya sangat menguras tenaga. Apalagi Drake melakukan adegan sulit tanpa pemeran pengganti. Drake merasa bertanggung jawab atas peran yang diambilnya. Baginya—setiap peran penting akan ia jalani sendiri.


“Mungkin Kania takut menghubungi Bos. Takut mengganggu waktu Bos.”


Drake melirik Jefri. “Mana ada. Aku yang selalu menghubunginya lebih dulu. Sebenarnya apa yang dilakukannya di sana? Apa aku perlu mengirim orang untuk mengawasi Kania? Bagaimana menurutmu?”


Jefri berdehem pelan. “Kania mungkin akan marah jika tahu Bos mengirim orang untuk mengawasinya. Jika ingin tahu apa yang dilakukan Kania—lebih baik bos hubungi saja dia.”


“Padahal dia yang pertama kali mengungkapkan perasaan. Tapi kenapa jadi aku yang seakan mengejarnya? Bukankah aku terlalu berharga untuk disia-siakan seperti ini?” keluhan Drake senantiasa di dengarkan oleh Jefri.


Jefri tidak menjawab apapun. Ia berjalan menjauh—tidak lama kembali dengan membawa kipas angin yang lebih besar.


“Sabar—bos.” Ia mengarahkan kipas angin pada Drake. “Sabar-sabar. Kebanyakan perempuan memang seperti itu. Jual mahal—kuncinya sabar sama konsisten. Jika sudah mendapatkan hatinya—pasti tidak akan kemana-mana.”


“Bagaimana aku bisa mempercayaimu?” Drake berdecak pelan.


“Bos—biarpun aku ini tidak terlalu berpengalaman. Tapi aku banyak menampung curhatan teman-temanku seputar asmara mereka. Bisa dibilang aku ini seperti konsultan cinta.”


Drake menyipitkan mata. “Kalau begitu. Jawab pertanyaanku. Apa Kania tidak menyukaiku? Saat dia mengungkapkan perasaannya padaku apa itu tidak serius? Apa jangan-jangan saat itu dia sedang mabuk?” Drake jadi bertanya pada dirinya sendiri. Ia menggeleng pelan. “Tidak-tidak. Aku bahkan tidak mencium aroma alkohol dari dirinya. Kania juga tidak pernah meminum minuman berakohol.”


“Simpulkan saja sendiri Bos-Bos.” Jefri menggeleng pelan.


----


Guys jangan lupa mampir di ceritaku yang baru ya, judulnya "Menembus Waktu." Tentang Alya senjani yang kembali ke beberapa tahun lalu. Misinya adalah mencegah Papanya menjadi seorang Koruptor.