
Kania merapikan sweaternya. “Bukan urusan Bunda.” Kania hendak berjalan namun lebih dulu ditarik Dewi Sekar lagi.
PLAK PLAK
Dewi Sekar menampar Kania sebanyak dua kali. “JADI PEL@CUR KAMU SEKARANG? MALU-MALUIN KELUARGA. KAMU MENCEMARKAN NAMA KELUARGA KITA!”
“Aku tidak pernah menganggu ataupun mencelakakan orang lain. Bagaimana Bunda menyebutkan mencemarkan nama keluarga?” Kania menghempaskan tangan Dewi Sekar dengan kasar.
“Kania kamu benar-benar melawan orang tua?!” Dewi Sekar tidak percaya menatap putrinya.
Kania tertawa pelan. “Kenapa? Bunda kaget putri Bunda yang penurut ini akhirnya jadi pembangkang? Selama ini Kania udah berusaha jadi anak yang baik. Berusaha nurut dengan kemauan kalian. Apa kalian pikir Kania bahagia? Sama sekali enggak!” Kania menggeleng. “Dari awal tidak ada yang mendukung cita-cita Kania ataupun karir Kania. Bahkan urusan percintaan pun Bunda juga sama sekali enggak mendukung. Bahkan Bunda terang-terangan berusaha jodohin aku sama laki-laki yang enggak aku suka.”
“Itu semua demi kebaikan kamu, Kania. Bunda berusaha supaya kamu tetap di jalan yang benar. Seharusnya bunda enggak ngebiarin kamu hidup sendirian di kota kalau pada akhirnya kamu hidup bebas tanpa aturan seperti ini.”
“Bunda tahu apa? Kania bahagia menjalaninya. Kania enjoy. Kania gak ada beban karena enggak terikat sama peraturan kuno yang kalian buat.” Kania mengusap air matanya yang akhirnya jatuh.
“Berapa banyak laki-laki yang udah tidur sama kamu?” tanya Dewi Sekar.
Kania menghela nafas. “Itu bukan urusan bunda.”
“Kalau bukan urusan bunda. Berarti kamu bukan lagi dari bagian keluarga. Gak ada keluarga kita yang jadi pel@cur.” Dewi Sekar menatap nyalang putrinya. “Keluar dari rumah dan tidak usah kembali. Kamu bukan lagi keluarga.”
Kania berjalan ke arah kamarnya. Ia hendak mengambil barang-barangnya dan kembali ke kota. Namun kehadiran ayahnya mencegahnya.
“Kania jelaskan pada ayah kalau semua yang ayah dengar gak benar?”
Kania tersenyum. “Maaf, Yah. Kania gak bisa jadi yang ayah harapin. Kania bukan anak baik seperti kata Ayah. Kania gagal, Kania akan pergi.”
“Kania..” lirih Ayah Kania.
Kania berlari. Segera mengemasi barang-barangnya. Setelah itu keluar—melewati kedua orang tuanya yang berada di ruang bawah dengan mata yang tidak lepas darinya.
“Keluar dari rumah, maka kamu benar-benar memutuskan hubungan darah keluarga.”
Kania berhenti—menoleh ke belakang. “Kania gak akan menyesal. Selama ini Kania bisa hidup baik-baik saja sendirian. Kania bisa melewati semuanya sendirian.” Kania melanjutkan jalannya.
Ada hal yang tidak bisa ia toleransi lagi. Campur tangan orang tuanya dalam hidupnya sudah cukup. Kania enggan dikekang ataupun diatur lagi. Ia hanya ingin didukung disetiap keputusan yang sudah diambil. Kania benci pada dirinya sendiri karena tidak bisa melawan lebih awal dan mengakibatkan bom pada dirinya meledak di akhir.
~~
Kania sampai di Penthousenya. Ia melihat Drake berada di depan Pintu. Ia segera menghampiri Drake dan memeluknya dari belakang. “Drake, aku merindukanmu. Kenapa kamu meninggalkanku begitu saja?”
“Siapa dia?” suara perempuan.
Kania melepas pelukannya. Ia menatap seorang wanita yang sudah berada di dalam Penthouse Drake.
Kania mengernyit. “Seharusnya aku yang tanya siapa kau?”
“Aku patner Drake malam ini,” jawabnya dengan bangga.
Kania menatapnya tidak suka. “Pergi dari sini. Aku tunangannya.” Menunjukkan jari manisnya yang tersemat cincin yang begitu cantik.
“Jangan mengada-ngada. Drake saja tidak bilang apa-apa. Kau jangan menghayal, sadarkan dirimu segera.”
Drake tidak menjawab. Ia malah berjalan akan masuk ke dalam. Sedangkan Kania yang tidak terima langsung mencegah pergelangan tangan Drake. “Jelaskan padaku apa maksud semua ini?”
“Drake! Jangan hanya diam saja!” teriak Kania frustasi. Ia menarik lengan Drake menjauh. Ia ingin berbicara lebih leluasa dengan pria itu.
“Bisa jelaskan semua ini?”
“Hubungan ini sudah berakhir.” Drake santai memasukkan kedua tanganya ke dalam saku. “Aku sudah bosan dan aku ingin mengakhirinya.”
Kania tercengang. “Baru kemarin kamu datang ke rumah orang tuaku meminta restu mereka untuk menikahiku. Kamu melamarku, mengatakan padaku jika hubungan kita tidak akan main-main dan kamu tidak akan bermain dengan wanita lain.” Kania memegan kedua tangan Drake. “Katakan padaku kamu hanya bercanda. Aku akan memakluminya.”
“Tidak. Aku hanya berubah pikiran. Pernikahan adalah adalah hal yang sulit dilakukan. Setelah kupikir lagi. Aku juga tidak ingin mengekang diriku dengan pernikahan.”
Kania menggeleng tidak percaya. “Kenapa baru mengatakannya sekarang? Kenapa tidak kemarin-kemarin saja sebelum aku benar-benar jatuh cinta denganmu. Kamu puas berhasil memainkan perasaanku? Kamu puas membuatku hancur?”
“Itu terserah. Sebagai konpensasi karena aku mengulur pernjanjian lebih lama. Akan mentransfermu.” Drake menghela nafas lelah. “Dan juga segera kemasi barang-barangmu dari Penthouseku. Pergilah dari hadapanku.”
Kania menutup matanya. Berharap semua ini hanya mimpi. Tolong siapapun bangunkan Kania dari mimpi buruk ini. “Jangan seperti ini. Ayo bicarakan semuanya baik-baik. Aku mengerti kamu kecewa dengan keluargaku, tapi tolong jangan akhiri hubungan kita. Aku sudah terlalu bergantung padamu Drake. Jangan tinggalkan aku.” Akhirnya tangis Kania pecah. Baru kali ini ia memohon pada seseorang agar tidak meninggalkannya.
“Aku tahu kau pasti sulit melepaskanku. Tapi tolonglah menjauh dari hidupku mulai sekarang. Jangan membuatku risih dan jijik padamu.”
“DRAKE!” teriak Kania. “Aku melawan orang tuaku demi hubungan kita. Dan ini balasan kamu?”
“Asal kau tahu aku tidak pernah memintamu melawan orang tuamu. Aku hanya mencoba menjalin hubungan serius dengan seseorang dan ternyata aku tidak cocok.”
“Segampang ini kamu memutuskan hubungan kita Drake?”
Drake menghela nafas. Memutar bola matanya malas. Seakan Kania adalah manusia paling memuakkan yang pernah ia temui. “Hentikan. Jangan mengejarku apalagi berusaha mencampuri hidupku lagi.”
Ia berbalik, berjalan menjauhi Kania. Masuk ke penthousenya sendiri dan menoleh sedikitpun.
Kania mengepalkan tangannya. “AAAARGH!”
~~
“Kania?!”
Kania terdiam berdiri di ambang pintu Apartemen sahabatnya. Flory memandang Kania yang berantakan. Apa yang sebenarnya terjadi dengan sahabatnya itu. Flory menggandeng Kania masuk.
“Katakan padaku kenapa kau ke sini malam-malam?” Belum habis keterkejutan Flory. Ia melihat Kania membawa begitu banyak koper-kopernya. “Kau pergi dari rumah?”
Kania mengangguk. Ia mengambil duduk di sofa Flory. “Hidupku hancur. Aku melawan orang tuaku demi hubunganku dengan Drake. Tapi Drake malah memutuskan hubungan kami. Pernikahan yang dia katakan semuanya omong kosong.”
Flory mendekat. Memeluk tubuh Kania perlahan. Mengusap punggung sahabatnya pelan. Ia tahu betapa hancurnya Kania sekarang. Flory hanya bisa memberikan pelukan pada Kania yang saat ini menangis di bahunya.
“Apa salahku? Aku mencintainya Flory. Aku sangat mencintainya.”
Flory mengambil tisu. Diusapkannya di pipi Kania. “Ya aku tahu.”
Kania mengatur nafasnya. Serasa sangat sesak. Air matanya begitu deras menangisi hubunganya dengan Drake yang barakhir begini saja. “Kenapa dia begitu jahat? Apa aku lakukan? Apa aku salah? Apa aku kurang sempurna untuknya?”
Flory menggeleng. “Tidak ada yang salah denganmu. Jangan menyalahkan diri sendiri Kania.” Flory kembali memeluk Kania. Memberikan bahunya untuk Kania bersandar. “Menangis sepuasmu jika itu bisa membuatmu lega.”