Obsesi Sang Aktor

Obsesi Sang Aktor
Menjauh


 “Tidak. Aku tidak mau.”


“Benarkah?” tanya Drake. Ia menarik tengkuk Kania dan langsung mencium bibir perempuan mungil itu. Terus bergerak lembut membelai bibir yang sekarang tidak dilapisi apapun. Meski wajah Kania polos tidak menggunakan make up sama sekali, justru menjadi daya tarik sendiri bagi Drake. Melihat wajah cantik polos Kania membuatnya ingin terus menatap perempuan itu.


Drake menarik pinggang Kania agar lebih mendekat padanya. Menggiring perempuan itu ranjang. Kania membalas permainan Drake. Bagaimanapun juga Drake handal, tidak mungkin menolak permainan memabukkan pria itu begitu saja.


Namun saat tubuhnya terbaring. Ia semakin mengeratkan handuknya. Jangan sampai ia hilang kendali dan berakhir melepaskan kepe rawanannya hanya untuk Drake. Kania membalikkan badannya menjadi di atas. Memangut bibir Drake dengan terburu-buru. Setelah berhasil mengusai permainan sepenuhnya dan membuat Drake lemah. Akhirnya Kania bangkit dan langsung berlari ke ruang Wardrobe.


“KANIA!” teriak Drake.


Hanya dengan sebuah ciuman Drake membiarkan seorang perempuan mengusai permainan hingga membuatnya lengah. Tentu hanya Kania yang bisa berbuat seperti itu. Drake tidak pernah membiarkan perempuan penghibur mengusai dirinya. Dominan sudah menjadi watak mendarah daging seorang Drake.


“Aku sedang memakai baju—Drake. Mengertilah,” balas Kania setengah berteriak.


Kini Kania sudah keluar dengan menggunakan Piyama panjang bermotif Panda. Menggerai rambut basahnya. Menampilkan senyum semanis mungkin agar Drake tidak marah padanya.


Drake tidak berkata apapun. Sorot mata elangnya tajam siap menghunus siapapun. Namun apa yang dilakukannya diluar dugaan Kania. Drake membalikkan badan kemudian berjalan keluar kamar.


“Drake!” panggil Kania.


Bahkan Kania sampai berlari keluar Penthousenya. Kebingungan melihat sikap Drake yang acuh padanya.


“Drake— kau kenapa?” Kania mencekal tangan Drake.


“Kau masih bertanya?” tangan Drake bersiap membuka pintu Penthousenya sendiri.


Kania memejamkan mata sebentar. “Sorry—tapi aku belum terbiasa dengan sentuhanmu.”


Drake menghempaskan tangan Kania begitu saja. Setelahnya pria itu masuk ke dalam Penthouse meninggalkan Kania yang masih berdiri menatapnya. Kania menghela nafas dalam, lalu dengan berat hati berjalan masuk ke dalam Penthousenya sendiri.


~~


5 hari terlewati tanpa kehadiran Drake yang suka sekali mengacaukan hari-hari Kania. Lebih sunyi dan aman namun entah kenapa rasanya mengganjal. Selama beberapa hari ini kania tidak lagi melihat Drake walaupun masih tinggal berdekatan.


“Bukankah seharusnya aku senang?” tanya Kania pada dirinya sendiri. Menatap diri di depan cermin. Kania mengacak rambutnya kasar. “Kau lupa mempunyai perjanjian dengannya, Kania—“ rutuknya. “Aku tidak seharusnya menghindarinya bukan? Aku yang salah? Lama-lama aku bisa gila!”


Memutuskan untuk menghubungi sahabat satu-satunya. Kania harus berbagi tentang masalahnya. Setidaknya ia masih tempat untuk bercerita. Flory adalah sahabat Kania, seorang desainer muda berbakat yang bekerja di perusahaan besar.


“Tumben hubungin orang duluan?” bukannya membalas sapaan Kania. Flory justru melontarkan pertanyaan yang menunjukkan keanehan yang dilakukan Kania.


“Ayo ketemu.”


“Do you miss me, bestie?”


Kania terkekeh. “Not really.”


“Kania—lebih baik jujur padaku. Sebenarnya kau rindu denganku kan? tidak usah jual mahal.”


Memutar bola matanya malas. Kania bersendikap. “Yayaya terserah.”


“Baiklah kalau kau memang sangat rindu denganku. Kita harus bertemu sepulang bekerja.”


**


Pukul 19.00 seorang perempuan keluar dari gedung perkantoran. Memasuki mobil berwarna putih lalu menancap gas keluar parkiran. Hari ini Kania sudah ada janji bertemu dengan sahabatnya. Tak lama mobilnya berhenti di sebuah Restoran.


Ia keluar dan langsung masuk ke dalam. Menemukan Flory yang tengah duduk sembari bermain ponsel, ia langsung menghampirinya. Kania langsung duduk di depan Flory tanpa permisi.


Seketika gumpalan tisu melayang ke arah Flory namun dengan cepat langsung ditangkap. “Bercanda sayang,” ucapnya dengan memegang tisu.


Kania menghela nafas berat. Dari raut wajahnya Flory bisa menyimpulkan ada yang tidak beres mengenai Kania.


“Kenapa? Ada masalah?”


Kania mengangguk. “Capek—mau pergi aja.” Menyandarkan tubuhnya ke belakang.


“Makan dulu— Gibah juga butuh tenaga,” kata Flory yang langsung diangguki oleh Kania. Mereka memang sedang lapar. Tidak mungkin bercerita dengan perut yang kosong.


Beberapa menit terlewati usai melakukan aktivitas mengisi tenaga. Piring-piring juga telah kosong. Semua makanan yang telah dipesan juga telah tandas. Kania mengambil tisu mengelap bibirnya yang terasa masih ada sisa rasa makanan.


“So—ada cerita?” tanya Flory.


Kania sebenarnya tidak yakin menceritakan. Namun ia butuh saran dan masukan dari sahabatnya. “Jadi……..” kania menceritakan semuanya tentang Drake—tentang semuanya yang ia lalui bersama pria itu….. tak terkecuali.


“What?! Jadi sekarang kau sedang menjalankan perjanjian dengan Drake?”


Kania mengangguk.


Flory terlihat sangat terkejut. Heran sekali kerena Kania berani mengambil langkah sejauh itu. Tapi ia juga tahu, Kania keras kepala dan tidak akan membiarkan usahanya hancur begitu saja.


“Sekarang yang menjadi masalah adalah Drake yang tiba-tiba menjauhimu?”


Lagi-lagi Kania hanya mengangguk.


“Hei—Kania.” Flory sedikit menggebrak meja. “Coba pikir—siapa yang tidak marah jika kekasihnya selalu menjauh. Apalagi kau menjadi kekasihnya atas dasar perjanjian. Bahkan dia berhak atas dirimu lebih dari kekasih.”


“Tapi kau tahu—Flo. Aku tidak bisa melakukan hal semacam ‘itu’ dengan lelaki. Berdekatan yang berelebihan. Aku tidak bisa—Flo,” keluh Kania.


Perlu diketahui jika Flory memiliki pergaulan yang luas. Temannya juga banyak. Tidur dengan lelaki adalah hal bisa, berbeda sekali dengan Kania. Maklum karena Flory sudah lama tinggal di luar negeri. Namun entah kenapa dengan perbedaan yang cukup besar mereka bisa berteman dan bersahabat. Selama ini jika Flory datang ke party atau ke Club, sekalipun Kania tidak pernah mau ikut.


“Hanya berdekatan Kania. Lagi pula katamu kau sudah berciuman dengannya. Apa masalahnya?”


“Aku takut kehilangan kendali dan berakhir tidur dengannya.”


Flory mengambil tangan Kania. “Dengarkan—aku. Dari pengamatanku, Drake bukan pria seperti itu. Jika dia mau—dia telah melakukannya saat kau menandatangani perjanjian itu. Tapi dia tidak ‘kan? Kania—mungkin saja dia memang menyukaimu dan ingin menjadikanmu kekasihnya sungguhan.”


“Tidak mungkin.”


“Apanya yang tidak mungkin? Kau cantik—tidak mungkin dia tidak menyukaimu. Drake tampan, terkenal, kaya dan hot. Aku heran kenapa kau tidak tertarik dengannya.”


Kania mendengus mendengar pujian Flory untuk Drake. “Lalu apa yang harus kulakukan?”


“Bertingkahlah seperti pacarnya. Jika kau memang benar-benar tidak suka dengannya, kau hanya perlu bertahan sampai batas waktu perjanjianmu habis.”


Kania masih terdiam tanpa ekspresi mencerna kalimat yang dilontarkan Flory.


**


Kedua manusia yang sama-sama diam di dalam sebuah lift. Kania menatap punggung Drake yang berdiri di depannya. Bahkan sekarang Drake tidak mau menatapnya. Kania menghela nafas. Sampai lift terbuka, Drake melangkah keluar lebih dulu.


Sebelum Drake membuka pintu Penthouse, Kania lebih dulu membuka mulut. “Drake,” panggilnya.


Drake hanya diam. Kania mencekal lengan Drake yang akan masuk. “Drake—kau menjauhiku?”